Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Suviyanti 'story Box'

Ini hanya coretan kecil

Tinggal Kami Berdua, Aku dan Nuraniku…

REP | 04 March 2013 | 13:52 Dibaca: 95   Komentar: 0   0

Hari-hari yang berlalu, tak mungkin tanpa makna.

Meski hilang sirna, takhayal sempat menginjaknya.

mereka hadir bagaikan notasi mayor dan minor,

Ya, bagaikan piano, bauran fred putih dan hitam…

Lihat!  Ada kesukaan yang kita harapkan jangan berakhir,

Namun ia pergi jua.

Tengok! Detik-detik kekesalan yang terkadang memancing emosi,

Bahkan sering kali memaksa air mata hampir mengering,

Kalau boleh memohon, janganlah datang,

Namun ia datang juga…

Banyak masa dimana air mata tak cukup tuk menjawab tanda tanya kehidupan.

Bercerita pun tak mampu mengangkat tema keterpurukan ke hadapan orang-orang yang senang hati, bukan?

Bahkan mungkin banyak kala dimana orang senang hati sering kali berpura-pura empati,

Seakan ikut merasakan susah hati..

Menguatkan, namun toh melupakan tanpa membawa dalam doa malamnya..

Padahal si susah hati sangat mengharapkan bimbingan doa darinya,

Dikala mereka enggan untuk berdekat pada-Nya,

dan hanya menangisi nasibnya..

Lalu muncul suara sayup entah siapa gerangan :

“Berdoalah tetap, dikala hati merasa sangat tak ingin berdoa, tetaplah berdoa”..

Rupanya bisikan miris nurani yang ikut pula menangis…

Kala malam itu, tinggal kami berdua..

Aku dan nuraniku..

Berdebat tentang hidup ini..

Duduk tertunduk ditemani gerhana bulan yang memerah..

Kataku : “Ah. Apa artinya menjadi manusia?

Apa artinya mempertahankan usia?

Mencari kaya? Atau bangga? Atau mungkin cinta?

Kalau toh akhirnya mati jua…

Hilang arah, miskin identitas, terpuruk…

Termakan emosi, tertekan, bimbang, curiga..

Rapuh…

Kalaupun ia sadar keadaannya, mungkin hanyalah usaha untuk tidak menjadi gila!

Dikala masa lalu memancing memori dan menekan rindu teramat sangat..

Di angan masa depan yang seakan menyambut suram..

Dan kini bagaikan berada di tengah kegelapan tanpa sinar, tanpa teman, kesepian..”

Nurani pun menjawab dengan teramat lembut: “Menengadahlah ke atas..

Siapa tahu masih ada secercah sinar harapan..

Meski kerap kali kembali patah arang dan tertunduk..

Setidaknya, berimanlah!”

“Beriman macam apa?! kepada siapa?! dan untuk apa lagi?!”, teriakku dengan putus asa…

“Kau tahu, tak mungkin tiada entitas yang menguasai jalan hidup ini,

Yang tak memperhatikan jejakmu,

Dan mengembalikan arahmu yang tersesat.

Ia mengangkatmu ketika terjatuh,

dan menopangmu ketika kau tsk berdaya,

yang mengawasimu ketika kau ingin sama sekali bebas..

Ia menemanimu ketika kau merasa sangat tersendiri,

dan yang memperhatikanmu bahkan sebelum kau mengadu pada-Nya…

Dia, yang mengatur jejak hidup, masakan tidak Maha Mendengar jerit tangis umat-Nya?

Sekalipun kau nampak membuang-Nya dari hidupmu, Ia adalah setia.”

Akhirnya kami diam..

Dengan kepala yang tertunduk lesu,

Mencoba menatap ke langit gelap, memandang ke arah bulan kemerahan..

Kami pun bersamaan berbisik pelan:

“Ya, Engkau, Tuhan, pasti punya rancangan yang sempurna.”

Kamipun mengamini kesimpulan ini, dan terus berharap pada-Nya…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | | 24 November 2014 | 10:33

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | | 24 November 2014 | 09:41

Gonzales, ‘Kartu Truf’ Timnas …

Achmad Suwefi | | 24 November 2014 | 09:32

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | | 24 November 2014 | 05:47

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 6 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 10 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: