Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Nunung Nuraida

teacher, English, novel, x-files, Rayhan http://nunungnuraida.wordpress.com

Aku Mau Masuk ITB!

REP | 04 March 2013 | 21:17 Dibaca: 451   Komentar: 0   1

Hari ini rupanya hari yang menyenangkan buat putra saya. Ketika saya sampai rumah, tiba-tiba dia bilang, “Mama, aku mau kuliah di ITB! Itu loh ma, Institut Teknologi Bandung. Soalnya kata kak Aryo, kalau masuk ITB bisa ngobrol sama komputer!”

Ingin rasanya tertawa, tapi saya tahan. Menanggapi keantusiasannya, saya pun sangat tertarik mendengarakan lanjutan kisahnya. Saya ceritakan kalau mau masuk ITB, harus rajin belajar, supaya pintar. Karena, ITB itu kan nilainya paling tinggi.

“Kalau ITS, tinggi ga ma?” Ia kembali mencari tahu tentang universitas-universitas yang mungkin saja diceritakan oleh kak Aryo. “ITS itu selevel dengan ITB, walaupun grade masuknya lebih rendah sedikit dibandingkan ITB”, jawab saya.

“Siapa kak Aryo, nak?”

“Kak Aryo itu kuliah di ITB ma, tadi datang ke sekolah aku. Oh ya, ma. Aku juga mau dapat beasiswa! Beasiswa itu apa ma?”

Semakin seru juga obrolan saya dengan putra saya. Sebelumnya saya sering mengajak ngobrol tentang perguruan tinggi. Bahkan saya menyarankan dia untuk mengikuti jejak saya di UI. Sayangnya, dia malah tertarik masuk swasta saja mengikuti omnya. Apa saya kurang antusias ya ceritanya? Giliran kak Aryo yang datang, dia sangat berapi-api ingin ke ITB. Hmmmm…. Jadi harus sering-sering undang tamu hebat nih ke sekolah.

Ketika saya tanya mengapa dia tertarik masuk ITB, dia pun menjawab bahwa ia ingin menciptakan game di komputer dan ingin membuat komputer. Wah, sepertinya kecintaan dia akan game sudah mulai dijadikan cita-cita nih. Ada kekhawatiran di diri saya ketika saya mengijinkan ia bermain game online. Tapi, mungkin jika kita mengarahkannya menjadi satu passion yang bermanfaat baginya di kemudian hari, hobi ini bisa saja menjadi keberkahan hidupnya di masa depan.

Ternyata mendatangkan sosok orang-orang hebat ke sekolah mampu membawa dampak yang cukup positif ke dalam diri anak-anak. Apalagi yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya pun melihat ia sangat menikmati belajar bahasa isyarat yang diajarkan oleh kepala sekolahnya yang ternyata memiliki keterbatasan. Dengan konsep sekolah sentra, metode ini cukup membantu putra saya yang bisa dibilang pembelajar kinestetik ini menjadi lebih terarah dan tersalurkan energinya.

Hari ini saja ia berkisah bahwa pembelajaran dilaksanakan berdasarkan pos-pos tertentu. Diawali dari pos pengenalan huruf hijaiya, pos tahsin, hingga pos kisah-kisah teladan para Nabi di Al Quran. Proses membaca pun menjadi hal yang wajib dilakukan setiap hari. Dan untuk meningkatkan minat baca para siswanya, sekolah mewajibkan anak untuk meminjam 1 hingga 2 buku di perpustakaan sekolah untuk dibaw pulang. Proses peminjaman dilakukan pada setiap hari jumat, dan dikembalikan pada hari jumat berikutnya. Demikian seterusnya. Untuk mengevaluasi bacaan mereka, sekolah memberikan lembar kerja yang berisi tentang judul buku, pengarang hingga isi buku dan pendapat mereka.

Saya sendiri berniat akan melaksanakan program ini di awal tahun ajaran baru nanti. Ternyata, saya kalah start dibandingkan sekolah putra saya. Wah, wah program literasi sekolah ini sepertinya harus dipercepat supaya tidak ketinggalan dengan anak-anak SD!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: