Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Fathu Rohmah

Interest in applied climatology, mapping, planning, culture, travelling, reading, writing and everything about geography

Jakarta-Borneo

REP | 02 March 2013 | 01:25 Dibaca: 133   Komentar: 0   0

1362210800571111553

Tim K2N UI titik Malinau

Catatan Perjalanan Jakarta – Tarakan

Kerja sama UI-KRI Lambung Mangkurat

Senang sekali rasanya mendapat kesempatan Kuliah Kerja Nyata yang diselenggarakan Universitas Indonesia. Mulai dari pembekalan bina mental di Marinir Cilandak, hingga perjalanan panjang dari Jakarta-Surabaya-Balikpapan-Tarakan. Kebetulan saya ditempatkan di Kabupaten malinau, Kalimantan Timur.

Banyak pelajaran yang saya dapat saat di Marinir Cilandak. Kedisiplinan, Toleransi, menafikan egoisme pribadi, belajar berenang, arti sebuah kesatuan, persahabatan dan Keluarga Baru. Saya benar-benara merasa melekat dengan peserta K2N lain, sampai-sampai saat kami rombongan ARMATIM yang harus berangkat duluan nangis bombai saat harus berpisah dengan teman-teman kami yang ke ARMABAR. Begitu pula dengan mereka, menangis pula saat melepas kami. Dengan diiringi lagu kebangsaan Selamat Jalan Pahlawan Muda, kami berpisah untuk mengabdi, memberikan sedikit sumbangsih kami ke pelosok-pelosok perbatasan Indonesia yang terasing dari dunia komunikasi, aksesibilitas susah dan tingkat ekonomi rendah.

Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menggunakan Kereta Api. Berangkat dari Jakarta pukul 15.30 WIB dan sampai di Surabaya sekitar pukul 05.30 WIB. Cukup melelahkan, tetapi rasa lelah kami diiringi semangat kami untuk segera tiba di lokasi K2N kami masing-masing. Sesampainya di Stasiun Surabaya, kami sudah dijemput dengan tronton milik TNI AL untuk menuju ARMATIM, karena kami berangkat dengan Kapal Republik Indonesia (KRI). Untuk kesekian kalinya, kami civitas academica Universitas Indonesia merasa di istimewakan. Kami terdiri dari 2 rombongan yaitu rombongan yang ke NTT dan Malinau. Di ARMATIM ternyata kami harus berpisah dengan teman-teman yang mau ke NTT, karena tujuan kami berbeda sehingga kapal yang dinaiki pun berbeda.

Saya dan teman-teman rombongan Malinau menaiki KRI Lambung Mangkurat, yang berlayar menuju Tarakan. Lambung Mangkurat merupakan salah salah satu kapal tempur yang dimiliki RI. Sambutan yang hangat dari awak kapal membuat kami merasa lagi-lagi diistimewakan. Karena kami diberi kesempatan untuk naik KRI, yang hanya segelintir orang Sipil dapat naik. Bahkan lebih spesialnya, sebenarnya Lambung Mangkurat sudah berlayar sampai Balikpapan dan harus kembali ke Surabaya hanya untuk menjemput rombongan kami- komando langsung dari atasan (baca: Panglima Besar TNI). Beberapa awak kapal merasa heran karena selama jenjang karirnya (belasan tahun di kapal tempur) Lambung Mangkurat tidak diperkenankan dinaiki oleh sembarang orang, apalagi mahasiswa seperti kami, karena Lambung Mangkurat pada dasarnya bukanlah kapal pengangkut pasukan melainkan kapal tempur yang jalur operasinya Surabaya-Tarakan. Kami sendiri juga merasa terheran-heran, kenapa kami begitu mudah mendapat perizinan untuk ikut berlayar dengan KRI untuk tempo waktu yang cukup lama yaitu 5 hari.

Hari pertama di KRI (18 Juni 2012)

Kami semua hampir merasakan hal yang sama yaitu pusing dan mual karena ombak yang tinggi cukup menggoyangkan kapal kami, rasanya mau bangun saja susah sekali. Satu per satu muntah, mabok laut. Hal yang wajar, apalagi buat pemula. Tidak ada aktivitas atau kegiatan, komandan kapal memberikan kelonggaran kepada kami, memaklumi kami pada hari pertama yang langsung tepar. Sepanjang hari kami tidur sampai nggak makan malam karena lelah dan pusing oleh goyangan ombak laut jawa.

Kamar yang kami tempati adalah milik personil awak kapal, kebetulan tempat saya tidur milik Para Bintara. Mereka merelakan kamar istirahat mereka untuk kami, 23 mahasiswa dari UI. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya kami merasa sangat diistimewakan.

Lambung Mangkurat sudah seperti rumah yang berada di tengah laut. Ada long room tempat briefing, ruang makan dengan standar table manner, ruang karaoke, Geladak kapal yang cukup luas, Buritan kapal yang bisa buat nongkrong, dapur, kamar mandi, mesin cuci, ruang kesehatan, semuanya lengkap. Kehidupan kami dimulai di KRI untuk lima hari kedepan.

Hari Kedua (19 Juni 2012)

Setelah apel pagi, kami melsayakan bersih-bersih dan mempersiapkan program yang akan kami usung di lokasi K2N kami. Selebihnya sebenarnya hanya waktu istirahat, sesekali membantu chef memasak di dapur, iris-iris bawang, atau malah di suruh komandan kapal untuk karaokean di ruang hiburan. Hari kedua saya mendapat piket jaga Anjungan. Anjungan merupakan tempat ruang operasi kapal. Ada Nahkoda kapal yaitu Komadan kapal yang mengemudikan Kapal. Di situ saya banyak belajar. Seperti memasuki ruang antariksa, di penuhi alat yang saya sendiri tidak tahu namanya. Hal menarik yang saya dapatkan adalah sistem navigasi dan pemetaan yang digunakan oleh kapal KRI. Sebelum berlayar, Nahkoda dan kru telah membuat trek atau jalur berlayar terletak pada koordinat berapa. Setiap setengah jam sekali posisi kapal di plot di lembar peta besar, untuk memastikan bahwa kapal tidak jauh dari trek yang telah di buat atau sebenarnya untuk menjaga kapal agar tetap on track. Ada kemudi seperti setir mobil, berfungsi untuk menjaga agar kapal berada pada posisi lintang yang telah dibuat sesuai jalur tracking yang akan di lewati.

Di Anjungan juga terdapat radar, berfungsi untuk memantau keberadaan posisi kapal, benda-benda kecil seperti kayu yang terapung, mendeteksi kapal-kapal nelayan dan dari radar ini daratan akan terlihat dengan jelas. Pada dasarnya Lambung Mangkurat ini adalah kapal tempur, tetapi karena era sekarang sudah jarang ada perang atau tempur lagi, maka Lambung Mangkurat lebih berperan pada patroli keamanan perairan Indonesia seperti memeriksa kapal-kapal nelayan apakah memiliki dokumen surat perizinan yang lengkap atau tidak, siapa tahu kapal-kapal tersebut adalah miliki negara asing. Selama berlayar kami menjumpai beberapa kapal yang diperiksa oleh KRI yang kami tumpangi. Ternyata kapal-kapal tersebut milik nelayan asal Pati, Jawa Tengah. Demi mengais rejeki mereka berlayar sejauh ini, dari pati sampai ke Pulau Kalambau, Pulau Kecil bagian selatan Pulau Kalimantan.

Saya dengan mata kepala sendiri menyaksikan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia. Pantas saja jika Indonesia sering kehilangan pulau, kecil, banyak dan siapa coba yang mau tinggal di pulau kecil, terasing dari konektifitas? Ironi juga sebenarnya, karena seharusnya kita menjaga pulau-pulau tersebut.

Hari kedua, kondisi cuaca sangat buruk, ombak menggulung sangat tinggi dan itu membuat kami pusing dan mual muntah. Hal yang paling menyenangkan bagi kami, adalah saat kapal berlabuh, dan goyangan kapal tidak terlalu terasa sehingga kami dapat menyelesaikan aktivitas kami seperti makan dan MCK. Dalam keadaan goyangan ombak yang tinggi, makan justru akan menambah mual dan bahkan langsung keluar. Satu pelajaran yang saya dapat: sehebat apa pun orang, kalau sudah di laut tidak ada apa-apanya. Begitu kecil dan rapuh.

Hari Ke-tiga (20 Juni 2012)

Menjalankan aktivitas apel pagi seperti biasa, kemudian dilanjutkan dengan menyusun program untuk lokas K2N kami. Setelah agak siang dikit, komadan kapal memebrikan materi, pengetahuan tentang KRI, memberikan pertunjukan film bagaimana KRI saat menangkap nelayan dari filipina, film tentang akademi AL. Cukup lama, karena selain nonton film, kami juga mengadakan diskusi, bertanya tentang KRI dan seluk beluknya ke komandan kapal secara langsung. Sore harinya kami semua bersama ABK kapal melalukan bersih–bersih geladak kapal seraya menikmati pemandangan sunset. Indah sekali mega jingga sunset yang terlihat, kami pun riuh saling berebut untuk berfoto dengan siluet sunset di sore hari.

Sekitar pukul 19.00 WIB kami sampai di Balikpapan, dari anjungan sudah diumumkan kepada mahasiswa UI untuk melihat pemadangan kota Balikpapan dari laut. Indah sekali, penuh temaram lampu-lampu berkelip khas kehidupan kota. Dengan baik hati, bahkan komandan kapal kami memberi izin kami untuk singgah ke darat atau melakukan pesiar ke kota Balikpapan, ya sekedar untuk refreshing dari kelelahan perjalanan laut yang memabokkan dan membuat kepala kami pusing.

Kami berlabuh di Pelabuhan milik kilang minyak Pertamina, setelah mendarat di pelabuhan sudah ada mobil AL dari pangkalan AL Balikpapan yang menjemput kami, siap mengantarkan kami untuk pesiar ke kota. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya kami merasa menjadi orang yang istimewa, lebih tepatnya mungkin beruntung. Tidak lama memang, hanya sekitar 2,5 jam untuk pulang pergi. Karena waktu yang diberikan komadan kapal memang hanya segitu. Kami jalan-jalan memasuki Mall terbesar di Balikpapan. Meskipun Balikpapan bukan ibu kota provinsi tetapi suasana kotanya ramai, banyak muda-mudi yang asyik nongkrong di pinggir pelabuhan, di taman kota sambil asyik menikmati angkringan. Kami menuju mall untuk membeli keperluan logistik kami yang kurang. Mallnya cukup besar juga dan bagus untuk ukuran kota yang terletak di Kalimantan ini. Maklum, Balikpapan merupakan kota minyak.

Setelah keperluan kami terpenuhi, kami mencari tempat untuk berfoto-foto yang ada ikon Balikpapannya, sekedar untuk kenang-kenangan. Kami pun menuju taman kota untuk mengambil beberapa foto. Tidak lama memang, karena mobil TNI AL jemputan kami sudah menunggu dan waktunya kami harus segera kembali ke kapal. Rasanya senang sekali, dengan tidak sengaja bisa mengunjungi Balikpapan untuk pertama kalinya. Pengalaman yang akan terkenang.

Setalah puas jalan-jalan sebagian dari kami termasuk saya nongkrong di geladak kapal sambil mengerjakan sesuatu. Di pinggir pelabuhan, di bawah langit malam Balikpapan, menatap bintang gemintang yang gemerlap. Menggalau dengan segala ketidakwarasan yang saya miliki, membayangkan sesuatu, seandainya-seandainya dan seandainya…Hingga larut malam saya nongkrong di geladak, mungkin karena terlalu larut dengan suasana hati yang galau, atau mungkin saya sedang membutuhkan ruang untuk berfikir dan merenung. Dan itu semua membuat kepuasan tersendiri buat saya. Bahkan saya mungkin akan rindu malam-malam sendiri di geladak kapal.

Hari Ke-empat (21 Juni 2012)

Apel pagi di darat, karena kapal kami masih bersandar di Balikpapan. Seperti aktivitas sebelum-sebelumnya. Pagi ngumpul kelompok sebentar untuk membahas prgram di lokasi K2N (dibahas terus nggak ada selesainya). Siangnya ada materi dari komandan kapal mengenai pesawat tempur, ya tidak jauh-jauh dari kehidupan TNI AL. Diskusi yang cukup lama, mencari pengetahuan baru dari Komandan, meskipun saya sedikit-sedikit ngantuk. Hari ke empat tidak ada aktivitas yang terlalu berarti. Hanya saja sempat ngobrol dengan salah satu awak kapal bahwa kedatangan kami sudah dipersiapkan dua minggu sebelumnya. Seperti yang sudah saya bilang di atas, bahwa kamar-kamar kami adalah ruang istirahat para Bintara, dan dua minggu sebelum kedatangan kami para Bintara sudah harus membereskan barang-barangnya pindah ke bawah atau mencari tempat lain, karena kamar-kamar mereka akan kami tempati. Mereka berfikir, bahwa kapal Lambung Mangkurat sudah di beli oleh UI, karena sekali lagi posisi mereka saat itu adalah di Balikpapan, dan disuruh kembali ke Armatim untuk menjemput kami, padahal misi perbatasan yang dijalankan kapal ini jauh lebih penting dibandingkan hanya sekedar menjemput kami. Dan beberapa awak kapal mengakui baru bertahun-tahun selama bertugas di Lambung Mangkurat membawa mahasiswa. Padahal pada beberapa tahun yang lalu, ada dari TNI AD yang ikut pesiar pun tidak mendapat perlakuan yang istimewa seperti apa yang kami dapatkan sekarang ini. “ Beruntunglah kalian menjadi tamu spesial.” Kata salah seorang awak kapal

Awak kapal dan segenap jajaran personil kapal Lambung Mangkurat menyambut kami dengan antusias, memberikan pelayanan yang terbaik buat kami, memanjakan kami, bahkan sampai baju-baju kami dicucikan (sebenarnya yang satu ini kami agak kelewatan, tetapi petugasnya bilang nggak apa-apa karena posisi mesin cuci memang di lantai bawah dan kami agak kerepotan harus turun naik tangga dalam posisi goyangan kapal yang cukup membuat kami pusing dan mual).

Malam harinya kami nonton film Angkatan Laut Amerika yang super keren mulai dari kru, teknologi tingggi dimana kapal bisa sebagai tempat mendarat pesawat superjet. Menurut saya inilah yang perlu di contoh oleh sistem pertahanan militer khususnya Angkatan laut Indonesia. Peningkatan SDM personil kapal atau kru serta peningkaan teknologi Kapal yang mengkombinasikan armada laut dan pesawat udara sehingga sistem pertahanan Indonesia makin kuat dan siap menghadapi serangan atau intervensi militer dari negara lain.

Malam harinya sekitar pukul 23.00 WITA saya mendengar seperti bunyi listrik yang mengalami konsleting, ada kepulan asap dan percikan api. Saya fikir itu benar-benar ada masalah dengan aliran listrik, saya sudah berteriak ke teman-teman yang lain untuk keluar. Tetapi rupanya itu cuma mainan, alias kembang api yang digunakan oleh ABK untuk membangunkan kami dalam prosesi pemanggilan Dewa Neptunus. Ya, malam itu kami akan mendekati lintang 00, dan prosesi atau ritual yang wajib dilaksanakan oleh pelaut adalah mandi khatulistiwa. Tujuan mandi khatulistiwa ini untuk membersihkan pelaut-pelaut dari kotoran darat (kotoran sapi, kambing dan kotoran darat lain) agar samudra ini bersih. Sebenarnya kayak melihat teatrikal di malam hari yang anti klimaks, kami dikumpulkan di geladak untuk melihat dan menyaksikan pemanggilan Dewa dan Dewi Neptunus beserta punggawa yang akan memandikan kami dengan diiringi lantunan nyanyian atau semacam klonengan khas Jawa dipandu narataor dari anjungan. Antiklimaksya adalah kami cuma menyaksikan prosesi pemanggilan Dewa Neptunus yang peran dan tokohnya adalah dari ABK Lambung Mangkurat, aneh-aneh, dengan kostum ala seperti dalam dongeng atau drama. Setelah pemanggilan Dewa Neptunus kami disuruh tidur lagi untuk bangun pada pukul 05.00 WITA pagi demi melangsungkan Mandi khatulitiwa. Sebenarnya, kami dibangunkan hanya sekedar untuk warning biar kami siap-siap mengenakan pakaian siap kotor. Sesampainya di kamar kami ngakak sengakak-ngakaknya, karena teatrikal yang dimainkan oleh ABK Kapal kok, Failed dan antiklimaks.

Hari ke-lima (22 Juni 2012)

Benar saja pada pagi harinya kami di suruh naik ke atas geladak kapal lagi untuk melaksanakan prosesi mandi Khatulistiwa. Kami tidak asing lagi dengan tampilan sosok Dewa Neptunus karena malamnya kami sudah melihatnya. Kurang lebih pada pukul 05.45 WIB terdengar pengumuman dari sirine dari Anjungan bahwa kami baru saja melewati lintang 00. Sebenarnya, ini sudah di atur oleh kru operasi pelayaran, dengan memperhatikan kecepatan layar kapal sehingga kira-kira saat melewati lintang 00 pada saat pagi hari, sehingga kami tidak terlalu kedinginan. Upacara mandi Khatulistiwa dimulai dari pemanggilan Dewa Neptunus dan punggawanya. Setelah kehadiran Dewa Neptunus disambut oleh komandan dan diberi wewenang oleh Komandan untuk memandikan kami. Ternyata yang dimandikan nggak cuma kami rombongan dari mahasiswa UI, melainkan beberapa prajurit kapal yang memang belum pernah mandi Khatulistiwa. Gila, dinginnya minta ampun, kami diguyur dengan selang yang airnya diambil dari air laut langsung (nggak mungkin kan, menghamburkan air tawar). Dingin dan perih banget saat mengenai mata seperti sedang diguyur dengan air hujan. Setelah itu kami melakukan ritual mandi, kami memasuki kapal karet atau sekoci yang bersisi kembang macem rupa-rupa yang sudah tercampur dengan oli. Gila, itu benar-benar mandi terparah yang pernah saya alami. Untung kami, cewe’-cewe’ yang memakai jilbab tidak terlalu banyak diguyur dengan oli dan air yang sudah campur aduk itu. Untungnya lagi, rambut kami tidak terkena aliran oli langsung karena terlindung oleh jilbab. Yang kasian adalah teman-teman kami yang cowo’ karena disuruh membuka baju dan dilumurim oli sebagai sabun mandi. Parahnya lagi setelah mandi kami harus minum ramuan yang pahitnya minta ampun. Hweek…saya sampai muntah. Itu pahitnya kelewatan banget, kaya ramuan kina, kata bapaknya itu bisa mencegah penyakit malaria. Mandi Khatulistiwa tidak lebih dari sekedar teatrikal dan peloncoan ABK kepada juniornya dan kepada kami, mahasiswa dan mahasiswi sebagai tamu yang ikut berlayar dengan KRI Lambung Mangkurat. Ya, separah apa pun prosesi mandi Khatulistiwa, itu akan menjadi kenangan tersendiri buat kami yang tak terlupakan, dan bahkan mungkin hanya seumur hidup sekali. Dan pengalaman ini tidak akan ditempatkan di kesempatan lain. Akhirnya setelah badan kami penuh dengan lumuran oli kami disuruh bebersih dan rapi-rapi untuk makan pagi.

Setelah makan pagi, kegiatan kami berikutnya adalah menembak meriam. Pernah kebayang nggak si, bisa mendapat kesempatan untuk menembak meriam milik negara yang amunisinya atau pelurunya mahal? Dan beruntungnya kami mahasiswa dari UI mendapat kesempatan ini dengan gratis. Suatu kehormatan bagi kami mendapatkan kesempatan tersebut. Meriam yang kami tembak adalah meriam 20 (saya nggak tahu macam-macamnya, tapi yang jelas ada banyak). Awalnya kami hanya dikasih liat Personil Kapal yang sedang memeragakan penembakan meriam menuju target. Terget penembakan adalah bendera kuning dengan pelambung yang sengaja sudah ditaruh di tengah laut. Saya sangat terpukau, karena jarak kapal dan target yang cukup jauh tetapi penambakan bisa mendektai atau bahkan mengenai sasaran dengan diiringi ledakan dahsyat. Saya saja ngeri melihat peluru yang keluar dari meriam memercikan, bukan tepatnya mengobarkan api jingga kemerah-merahan lalu meluncur sepersekian detik dan tiba-tiba sudah terdengar bunyi BUM, ledakan yang mengenai sasaran. Kaget dan spot jantung sampai telinga kami harus ditutup biar nggak menimbulkan gerakan refleks yang memungkinkan seseorang untuk loncat. Kami fikir awalnya kami hanya mau dikasih liat saja, para awak kapal yang menembak meriam. Tetapi kami harus mencobanya satu per satu. Takut, deg-degan sekaligus penasaran.

Dengan takut-takut saya mencoba untuk menembak, tentu saja dibawah pengarahan pelatih. Pertama saya harus mengepaskan badan saya ke Body Meriam 20. Karena fisik Meriam 20 itu setara dengan tinggi badan saya. Ada pegangan yang dipaskan di pundak. Kemudian pelatih mengarahkan saya untuk konsentrasi pada mikroskop/lup, yang didalamnya terdapat titik merah, berupa target. Saya mengarahkan agar target pas ditengah mikroskop dengan menggoyangkan meriam ke kanan-kiri, dengan sedikit menjinjit atau bahkan menekuk lutut. Akhirnya setelah saya merasa target sudah pas tangan kiri saya pelan menarik pelatuk meriam, dengan sekali tarikan dan sedikit hentakan peluru meluncur dan saya tidak tahu bagaimana semua ini bermula, tiba-tiba terdengar ledakan dahsyat mendekati target dan selebihnya riuh tepuk tangan dari teman-teman. Lega juga, akhirnya sama sekali nggak menakutkan seperti yang saya kira sebelumnya. Begitu seterusnya, sampai rombongan kami satu per satu mencoba untuk menembak dengan meriam. Lagi-lagi saya merasa ngeri, baru latihan nembak saja bunyi dahsyat peluru sudah memekakan telinga, bagaimana kalau benar-benar bertempur? Laut penuh dengan ledakan dahsyat yang mungkin akan mematikan ikan-ikan yang tidak sengaja terkena. Bagaimana pun ini pengalaman yang tak akan terlupakan. Selama ini saya memang tidak menginginkan menjadi bagian hidup orang militer, tetapi pengalaman yang satu ini cukup membuka wawasan baru saya mengenai dunia angkatan laut.

Hal lain yang menarik adalah saat kami berlayar dan melewati perairan yang dalam dengan warna air biru tua jernih, kami melihat pertunjukan lumba-lumba, seperti di Ancol. Ini murni kami saksikan di perairan Selat Makasar. Lucunya lagi, saat kami beri tepuk tangan, lumba-lumba akan mengikuti arah kapal kami dan menunjukan atraksinya pada kami. Nice view, Kawan….:)

Sore harinya kami disibukan dengan finishing pembuatan proposal dan power point buat presentasi (parah banget ya, dari kemarin nggak selesai-selesai) karena deadline dari pendamping lapangannya memang nanti malam tepatnya pukul 01.00 WITA. Kejar tayang meskipun sedikit pusing oleh goyangan ombak.

Malam harinya kami berkemas-kemas karena pagi hari kami sudah sampai di pelabuhan Tarakan. Di sela-sela berkemas-kemas kami mengobrol sana-sini sampai hampir larut malam merencanakan sesuatu.

Tepat pukul 00.00 kami dibangunkan oleh kakak pembimbing untuk evaluasi di geladak haluan. Sebenernya evaluasi tengah malam seperti ini sengaja kami rencanakan sekaligus untuk membuat kejutan kepada salah satu teman kami yang sedang ulang tahun. Niatan awalnya ingin bikin jengkel yang lagi ultah, tetapi memang anaknya datar-datar saja dikerjain sejail apa pun biasa saja. Akhirnya dengan berbekal lilin dan biskuit seadanya akhirnya kami merayakanulang tahun Kak Fandi, salah satu rombongan tim K2N UI yang ditempatkan di desa Paking, Kec. Mentarang. Kebetulan saat kami berkumpul di geladak, kapal KRI Lambung Mangkurat sedang merapat dengan KRI Halim Perdana Kusuma, karena ada beberapa personil yang mau pindah ke KRI Lambung Mangkurat, Malam itu pula Binatng-bintang sudah terlihat dan signal pun sudah ada, nampak pula dari kejauhan kerlap-kerlip Pulau Tarakan sudah terlihat.

Sekitar pukul 05.00 pagi waktu KRI kami sudah harus sarapan pagi karena kapal akan segera merapat ke pelabuhan Tarakan dan kami sudah dijemput oleh mobil milik TNI AL dari pangkalan TNI AL Tarakan. Ternyata kami sudah di sambut oleh Mba Uci alias Dra. Sri Murni, M.Kes selsaya ketua pelakasana K2N UI, bahkan beliau sempat masuk KRI membawa kamera andalannya lalu dalam hitungan beberapa detik langsung terdengar bunyi jepret-jepret.

Kami pun turun dari KRI dan langsung naik mobil TNI AL, barang-barang kami sudah diangkut dalam satu mobil. Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih dengan semua personil TNI, mobil yang membawa kami pun melaju menuju ke pelabuhan umum Tarakan.

Sesampainya di Pelabuhan Umum Tarakan, ramai oleh penumpang ke berbagai jurusan. Kami cukup menunggu lama untuk menunggu keberangkatan ke Kab. Malinaunya. Setelah mendapat wejangan dari Mba Uci tercinta akhirnya speed boat yang menuju ke Malinau akan berangkat. Kami pun segera memasukan barang-barang pribadi kami dan logistik K2N ke speed boat. Untuk perjalanan kali ini saya merasakan pusing dan tidak ada niatan sama sekali untuk melihat pemandangan keluar sampai akhirnya saya tertidur. Beberapa kali terbangun dan saat melongok ke luar yang terlihat masih lah air dan air. Berangkat dari Pelabuhan Umum Tarakan pukul 09.00 WITA dan sampai Dermaga Kabupaten Malinau pukul 12.00 WIB. Tanpa istirahat, kami harus melanjutkan perjalanan menuju desa Pakingd an Longberang. Kedatangan kami sudah dinanti oleh pihak kecamatan bahkan kami sudah dijemput dengan Long Boat dinas milik kecamatan. Kami hanya sempat bersalaman dengan Bapak Camat dan salah seorang Kepala Dinas Kesehatan Kab. Malinau yang turut serta menyambut kedatangan kami. Untuk yang ke desa Paking menggunakan satu Longboat dengan jumlah peserta K2N 14 Orang, sementara untuk yang ke desa Longberang menggunakan 2 Longboat dengan jumlah peserta 9 orang, hal ini karena medan menuju Longberang cukup susah melewati jeram-jeram yang tajam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 10 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Imam Muhayat | 9 jam lalu

Mengenal Lebih Dekat Pendidikan Luar Biasa …

Nanadya Rachma | 9 jam lalu

Resensi: Yesus dan Wong Cilik …

Rinto Pangaribuan | 9 jam lalu

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: