Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muhammad Sufri

Mahasiswa Tingkat Akhir IAIN Ar-Raniry, Owner Nourhas Publising

Kesabaran dan Perjuangan Menanti Buah Hati

REP | 28 February 2013 | 23:55 Dibaca: 456   Komentar: 0   1

“Sayang, garis merahnya masih satu” istriku berkata sambil menyodorkan Test Pack itu kepadaku. Ku lihat jelas guratan kesedihan dimata beningnya, begitu jelas karena kacamata yang biasa ia pakai itu dilepasnya. 6 bulan berlalu sejak pernikahan kami, namun istriku belum menunjukkan tanda-tanda bahwa kami akan menimang buah hati. Setiap hari kata-kata yang selalu ia tanyakan adalah “Kapan ya kita punya anak, sayang?” hatiku kerap teriris mendengarnya, maklum teman-teman yang menikah dibulan yang sama dengan kami, kini sudah bolak-balik memeriksa kandungannya. Belum lagi pertanyaan kawan-kawan istri di kampus, “ sudah berisi, kapan ni isinya”, dan sudah bisa ku tebak, ia pulang dengan raut kesedihan.
Pernah suatu ketika sepulang pengajian, ia bercerita padaku tentang teman-teman sepengajian dengannya yang hampir tiap pekan bertanya kapan ia hamil. Hatiku renyuh akan jawaban istriku bahwa anak adalah bagian dari rizki dan rizki itu bagian dari ketentuan Allah. Meski kadang-kadang ia terlihat begitu tegar tanpa memikirkan kehadiran seorang anak ditengah-tengah kami, namun aku bisa melihat kesedihan yang ia sembunyikan itu melalui sujud panjang yang ia lalukan. Aku sama sekali tidak menyalahkannya mengapa sampai sekarang ia belum hamil, meski tidak sedikit orang-orang yang beranggapan istriku-lah yang “sakit” dan aku sama sekali tidak setuju dengan statement mereka. Aku merasa inilah ujian kesabaran yang Allah titipkan pada kami.
Sore itu, kami sedang berjalan-jalan diseputaran kota sembari membeli keperluan dapur dan lain-lain. Kami mampir disebuah supermarket yang kami anggap lengkap dengan keperluan dapur itu, aku mengambil beberapa yang menjadi keperluan. Kulihat istriku tak lagi bersama denganku, kucari ia dan ternyata ia sedang asyik membaca label susu untuk ibu hamil dan susu bayi. Ya Allah, kesabaran kami menanti buah hati benar-benar sedang diuji-Nya, lirihku. Namun keadaan ini sama sekali tidak membuat kami berputus asa terhadap doa-doa yang kerap kami panjatkan, tergiang kembali kalam-Nya dalam surah Maryam ayat 4 (Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu). Hanya saja Allah sedang menginginkan usaha yang lebih dari usaha dan doa kami sebelumnya.
Hari itu, aku sama sekali tidak mampu menahan air mata ketika istriku bercerita bahwa ia baru saja menemani teman akrabnya berbelanja keperluan bayi. Ku dengar suaranya terbata-bata, satu persatu keperluan bayi itu disebutnya mulai dari sarung tangan, mantel, taplas, popok, gurita dan sebagainya. Aku bisa merasakan betapa sedihnya ia, namun sekali lagi ku katakan bahwa dimataku ia sosok yang tegar. Putus asa bukanlah sifatnya. Ia lebih suka berlama-lama dalam sujud panjangnya ketimbang ia mengeluh didepanku, doa-doa andalan kami tidak pernah kami tinggalkan lagi. Rabbi hablii minasshalihin (Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang shaleh, QS. As-Shaffaat : 30). Kami yakin, rizki itu akan datang hanya waktunya bukan saat ini dan Allah-lah sebaik-baik pemberi keturunan. “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik” (QS. Al-Anbiya : 89)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cermin Hitam di Taman Nasional Sebangau …

Pratiwi Cristin Har... | | 23 October 2014 | 12:06

Pintarnya Mahasiswa Beralasan …

Giri Lumakto | | 23 October 2014 | 13:57

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Lee Chong Wei Positif Doping, Pelajaran …

Arnold Adoe | | 23 October 2014 | 18:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 9 jam lalu

Seekor Babi Mati Bunuh Diri, Karena Setia …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Si Teteh Akhirnya Menjadi Kompasianer …

Tubagus Encep | 10 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Selusur Goa, Mengingat Kembali Stalaktit dan …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 9 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua Kakak …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Jalasveva Jayamahe, Mengembalikan Kejayaan …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Buah Strawberry untuk Kesehatan Jantung …

Puri Areta | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: