Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bude Binda

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Hidup Hemat, Cermat, dan Bersahaja

OPINI | 27 February 2013 | 15:26 Dibaca: 621   Komentar: 0   2

Oleh Bude Binda

Ada satu teori ekonomi yang kupelajari sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, teori yang berupa nasihat bijak dalam pelajaran Bahasa Indonesia yaitu peribahasa “Jangan besar pasak daripada tiang”. Ilmu ekonominya “pengeluaran lebih sedikit daripada pendapatan”. Nah apakah peribahasa dan hukum ekonomi yang sederhana dapat saya terapkan, setelah bertahun-tahun diberitahu oleh bapak dan ibu guru?

Jawabnya belum, masih sering dilanggar dari pada dipatuhi. Kata orang-orang, saudara kita etnis Tionghoa lebih pandai berhemat dan melaksanakan ilmu itu. Jika pendapatan mereka sehari sepuluh ribu, ya makan seribu saja. Sementara kami orang Jawa pada umumnya, pendapat sepuluh ribu, makan  sebelah ribu! Mereka sejak bangun pagi, buka jendela dan pintu terus cari uang, uang akan masuk ke kantong mereka, sementara kami sejak bangun pagi, sudah mengeluarkan uang, beli bubur, jajan yang keliling dari rumah ke rumah. Nah, bagaimana mereka tak lebih kaya, karena mereka memang pintar mengatur ekonomi.

Sejak saya sekolah belum bisa cari uang, tiap pagi diberi uang saku oleh ayah ibu, sampai sekarang sudah bekerja membanting tulang untuk mencari uang sebagai pembeli sesuap nasi, saya masih juga belum berhasil mengamalkan dasa darma Pramuka yang salah satunya: hemat, cermat, dan bersahaja. Ungkapan jawanya yang sebanding: gemi, nastiti, ngati-ati.

Kalau baca artikel ahli pengatur keuangan yang menyarankan kita punya tabungan senilai 5 X gaji, membayar cicilan maksimal sepertiga gaji, menabung minimal sepertiga gaji, baru sisanya  dibelanjakan. Ternyata dalam kenyataan saya jauh sekali dari nasihat ahli keuangan itu, nah bagaimana mau sesuai, cicilan 2/3 gaji, tabungan, kalau sedang ada insentif dari kantor saja, bahkan sisa gaji kadang  baru 2-3 minggu sudah habis!

Nah,   antara kebutuhan dan gaya hidup. Saya amati kehidupan di sekeliling saya, saya, saudara, teman-teman saya kadang terjebak dalam pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan karena tak hanya membeli sesuai kebutuhan namun masih ditambah membeli gaya hidup. Tak percaya?

Kebutuhan paling utama manusia, tentu saja makan. Kalau kita mau makan sesuai kebutuhan minimal ya sehari makan 3 kali, dengan lauk sederhana namun bergizi misal tempe, tahu. Sayur sehat: sayur bening, sambal, kerupuk. Ditambah buah yang murah saja: pepaya atau pisang. Jika kita makan dengan menu minimal namun bergizi ini sehari untuk satu orang nasi : 3 piring = Rp6.000,00, tempe/tahu: 6 potong  = Rp 6.000, sayur benin: 1 mangkuk = Rp3.000, sambal dan kerupuk : Rp2.000, pepaya/pisang: Rp3.000. Maka jumlahnya Rp21.000,00. Jika masak nasi, lauk, sayurnya untuk lebih dair satu orang, jatuhnya tiap orang bisa lebih sedikit atau kurang dari dua pulau satu  ribu rupiah. Nah apakah kita mau makan dengan standar miminal demikian?

Bisa jadi kita sarapan sederhana di rumah, makan siang di kantor seporsi Rp20.000 atau lebih, dan makan malam di luar bersama keluarga  yang juga satu orang minimal Rp20.000,00. Tergantung apa yang kita beli.

Jadi kebutuhan makan sehari uang Rp21.000 cukup, bahkan bisa kurang dari itu, namun memenuhi keinginan dan gaya hidup untuk makan bisa sehari sampai Rp40.000-50.000 bahkan sampai ratusan ribu dan jutaan jika makannya di restoran mewah.

Pakaian juga hampir sama, untuk kebutuhan saja busana yang sederhana namun memenuh kepantasan  cukup seharga Rp250.000 untuk rok, blus, dan kerudung (bagi yang pakai jilbab). Namun kalau memenuhi keinginan dan hasrat mengikuti mode uang satu juta rupiah pun bisa kurang.

Masih ada lagi perabotan rumah, telepon seluler, perhiasan, dan segala tetek bengek kemudahan hidup mau pun kendaraan. Membeli telepon genggam, jika yang penting untuk dapat bertelepon dan berpesan singkat barang kali HP seharga Rp200.000,00 pun sudah memadai. Namun karena memenuhi keinginan dengan ponsel yang terbaru, fitur-fitur bermacam-macam, bahkan yang cerdas dan canggih pula makan jatuhnya harga pun bisa berjuta-juta sesuai merk dan spesifikasi.

Sebagai perempuan karir, keperluan saya pun tak cukup baju saja, namun masih ada sepatu dan tas. Tas dan sepatu tak cukup sepasang saja……Nah di sinilah antara kebutuhan dan keinginan bisa beda jauh. Kebutuhan sepatu cukup 2, tas 2. Namun keinginan tak terbatas dan sulit dibendung. Lagi-lagi pos pemborosan.

Jadi, inginkah Anda nyaman hidup dengan pandai mengatur keuangan yang ternyata berkait erat dengan psikologi. Pengendalian diri dari keinginan yang menjebolkan pundi-pundi uang Anda. Pengaturan emosi sehingga Anda cerdas dalam membelanjakan uang, hingga patuhlah kita pada satu darma Pramuka: hemat, cermat, dan bersahaja. Jika kita bisa, maka dengan  bangga kita akan berkata, saya telah dapat melakukan pengeluaran lebih sedikit dari pendapatan. Maka saya dapat menabung, beramal, kelak naik haji, dan semoga masuk surga  he he he!  Salam hemat!

BUDE BINDA

Banjarnegara, Rabu, 27 Februari 2013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: