Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Herlambang Wibowo

rumit mit mit mit tim tim tim timur -umit mit mit mit tim tim tim timu- __mit selengkapnya

Maling yang Bijak

REP | 25 February 2013 | 13:49 Dibaca: 320   Komentar: 0   0

Curhat di siang bolong.

Pagi tadi, saya mendapat kabar dari sepupu perempuan. Kabar yang sangat menjengkelkan sekaligus mengharukan. Menjengkelkan karena sepupu saya kehilangan salah satu PS yang menjadi tumpuan ekonomi, selain warung kecil usahanya. Mengharukan, jika melihat kondisi sepupu yang cacat dari lahir (akibat lahir prematur). ‘Ko masih saja ada orang yang zolim’. Mungkin benar, jika pencuri memang tak pandang bulu.

Apapun itu kami hanya menganggapnya sebagai musibah, kecerobohan dan kelalaian. Karena memang, pagi tadi suasana masih teramat sepi, hingga abai terhadap situasi. Padahal, maling memang selalu memanfaatkan situasi yang sepi.  Karenanya, sia-sia saja menebak siapa pelakunya dan kami pun memang tak pernah menempatkan kecurigaan pada siapa pun.

Ikhlas, mungkin memang bukan rizkinya, begitulah kata-kata bijak yang berulangkali terdengar dalam menanggapi peristiwa naas tersebut. Tepatnya bijak, namun menyesakkan dan ikhlas rasanya tak pernah datang secara beriringan bersama musibah.

Satu hal yang menjadi keanehan bagi saya juga lainnya. Si pencuri malah mengambil PS2 yang sudah rada-rada butut, padahal di sampingnya ada juga PS 3 beserta LCD-nya. Pertanyannya, kenapa malah PS itu yang diambil, apakah si pencuri tak tahu barang yang lebih bagus dan lebih mahal jika dijual? Atau, konsep pencuri tak pandang bulu itu tidak selalu tepat jika mengingat kondisi sepupu? Jika benar demikian, sungguh pelaku  adalah maling yang bijak yang pernah ada.

Entahlah. Di balik musibah, kami hanya berharap dan berdoa, semoga saja PS itu lebih mendatangkan manfaat dari sekadar sewa.  Dan untuk maling yang telah berlaku bijak, terima kasih masih menyisakan tumpuan ekonomi buat sepupuku.

Sedikit pesan yang saya kutip dari Bang Napi, Tindak kejahatan terjadi bukan karena niat si pelaku, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspada, memang kata yang teramat klise, tapi seringkali diabaikan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 7 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Pembunuhan Karakter Keprofesian Industri …

Vendy Hendrawan | 7 jam lalu

Seorang Perempuan di Pemakaman …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Gayatri Si Anak Ajaib Yang Terbang Ke Negeri …

Birgaldo Sinaga | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: