Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Avis

Saya dr. Hafiidhaturrahmah namun biasa disapa Avis, lulusan FK Univ Jenderal Soedirman. Saat ini saya selengkapnya

Tips Masuk Fakultas Kedokteran

REP | 22 February 2013 | 03:54 Dibaca: 27443   Komentar: 72   18

Saat mendekati detik-detik ujian masuk perguruan tinggi maka kotak email di jejaring sosial saya akan penuh dengan pertanyaan “Bagaiamana caranya masuk fakultas kedokteran?”. Semakin tahun, pendaftar yang memilih fakultas kedokteran sebagai bidang studi bukannya semakin berkurang malah terus bertambah. Padahal gosip mahalnya biaya pendidikan kedokteran terus saja santer terdengar. Bukan hanya puluhan juta malah bahkan ada yang ratusan juta. Entah darimana gosip tersebut terus berkembang hingga muncul pemikiran tersendiri bahwa hanya orang kaya saja yang bisa masuk ke fakultas bergengsi tersebut.

Terlepas dari berbagai pemikiran di atas, kerap kali saya selalu menanyakan kembali kepada calon mahasiswa tersebut, “Kenapa ingin jadi dokter?”. Pertanyaan sederhana yang membuat mereka berpikir bahwa menjadi dokter bukan sekadar gaya-gayaan masuk ke fakultas bergengsi atau sekadar membanggakan orang tua. Bukan itu. Menjadi dokter adalah panggilan jiwa yang tidak hanya membutuhkan hati yang bersih tetapi juga otak yang mumpuni. Menjadi dokter bukan sekadar sanggup membayar “uang masuk” namun juga harus kuat “isi otaknya” bersaing secara sehat dengan pelajar hebat lainnya. Bahwa benar Indonesia hingga saat ini masih membutuhkan dokter karena total jumlah dokter hanya 110.000 dengan rasio 1:3.000 penduduk*. Namun bukan berarti 72 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia harus selalu diserbu peminat hanya karena negeri kita masih butuh dokter. Apalah arti banyak fakultas kedokteran jika lulusan dokter terus berkurang mutunya karena “isi otak” yang kurang dibandingkan “isi dompet”.

Isi otak dan isi hati berperan penting dalam pembelajaran menjadi dokter yang handal karena perjalanan menjadi dokter bukan perjalanan singkat seperti fakultas lain. Wajar kiranya karena dokter berhadapan dengan manusia yang mempunyai hati juga. Kesembuhan tidak saja bergantung dari kepintaran seorang dokter tetapi ditunjang oleh etika dan tata krama seorang dokter menghadapi pasien. Dua hal inilah yang sekiranya perlu dipikirkan ulang oleh calon mahasiswa kedokteran. Sudah siapkah menghabiskan waktu minimal enam tahun untuk selalu belajar, jatah tidur berkurang bahkan mental diuji selalu karena berhadapan dengan pasien gawat? Sudah siapkah mengurangi jatah bermain dan hidup enak? Bahkan jauh perlu dipikirkan jika menjadi dokter karena tulus mengabdikan diri, sudah siapkah bekerja di daerah terpelosok dan bukan hanya menjadi dokter di perkotaan? Jika anda berpikir hidup menjadi dokter itu bergelimang harta karena pasiennya banyak, maka anda saya sarankan untuk berpindah haluan dari awal. Banyak hal sebenarnya yang harus dipikirkan ulang ketika ingin menjadi dokter. Bukan hanya karena dipaksa orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter. Jangan sampai sudah masuk namun keluar lagi lantaran “otak” dan “mental” yang tidak kuat. Hal ini jujur saya alami ketika melihat teman seperjuangan yang akhirnya memutuskan keluar dari fakultas kedokteran di tahun kedua hanya karena dua alasan tersebut.

Jika beragam pertanyaan tadi sudah dapat dijawab maka saya dengan bangga mempersilahkan adik-adik mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran. Adapun menjawab berbagai gosip mahalnya biaya pendidikan kedokteran maka saya bagikan tips sukses masuk fakultas kedokteran.

1. Belajar sangat rajin dan berdoa tiada henti serta selalu mohon restu orang tua. Melewati passing grade fakultas kedokteran suatu universitas bukan hal mudah apalagi harus bersaing dengan pelajar hebat se-Indonesia sehingga butuh belajar luar biasa. Buktikan otak anda memang pantas untuk menerima ilmu kedokteran.

2. Uji coba hasil belajar anda sebanyak mungkin dengan makin sering mengikuti try out dengan beragam pilihan fakultas kedokteran dari beragam universitas.

3. Cari info sebanyak mungkin tentang fakultaas kedokteran yang ingin dimasuki termasuk rangkaian ujian menuju kesana. Jika lolos melalui SMPTN maka lebih baik. Jangan mudah menyerah dan percaya begitu saja “kata orang” terkait pembiayaan masuk di suatu fakultas kedokteran. Semua hal terkait biaya masuk dan SPP dapat ditanyakan melalui nomer telepon fakultas yang bersangkutan.

4. Siapkan mental ketika mendapatkan pengumuman tidak lolos ke Fakultas Kedokteran suatu Universitas Negeri. Buka hati dan cari kembali informasi terkait “Ujian Masuk Khusus” di setiap universitas karena hampir sebagian besar universitas membuka jalur “khusus”. Jangan mudah percaya ketika ada gosip “uang masuk sangat mahal” sebelum anda benar-benar mengecek kebenarannya. Bahkan kalau perlu main langsung ke universitas yang dicita-citakan agar mendapatkan informasi yang benar.

5. Jangan senang dulu ketika sudah lolos ujian masuk khusus karena setelah itu akan ada uji kesehatan, wawancara dan psikotest. Persiapkan bekal berupa beragam sertifikat keahlianmu agar mendapat nilai plus ketika menjalani serangkaian tes lanjutan tersebut.

Dan yang terakhir…tidak menjadi dokter bukan berarti dunia runtuh dan enggan melanjutkan kuliah. Tetap lanjutkan hidup anda dan timbalah ilmu lain. Jika anda memang sangat ingin dan harus menjadi dokter maka coba lagi ujian tahun berikutnya namun pasang target bahwa anda tidak boleh membuang waktu lebih dari dua tahun hanya karena harus menjadi dokter. Pikirkan total waktu yang harus dihabiskan untuk belajar menjadi dokter dapat mencapai 10 tahun ditambah masa penantian anda. Jurusan sukses bukan halkedokteran karena di luar sana masih banyak jurusan yang menjanjikan kehidupan lebih baik dan nyaman dibandingkan menjadi seorang dokter. Satu hal lagi, anda tidak mungkin menjadi kaya dengan menjadi dokter! Anda menjadi kaya karena anda menghargai orang lain dan itu dapat anda lakukan di semua fakultas!

salam damai

dr.Hafiidhaturrahmah

Berjuang hampir 7,5 tahun untuk menjadi dokter karena berprinsip “lebih lama, lebih baik”. ebih banyak belajar bersama pasien membuat hati terasah dan lebih dapat menghargai perbedaan ketika nantinya benar-benar terjun di lapangan. Bekerja di pedalaman Sumba, Kalimantan Timur dan saat ini mengabdikan diri sebagai Pencerah Nusantara bersama Suku Tengger di Bromo.

Sumber:

1. http://kebijakankesehatanindonesia.net/component/content/article/73-berita/1173-idi-dukung-pembatasan-fakultas-kedokteran.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 17 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 18 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 18 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: