Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hakan Syukur

aku hanya ingin berkarya agar ada cerita yang indah disetiap langkah ku rantauanlombokmenulis.blogspot.com

Orang Pinggiran

REP | 17 February 2013 | 20:21 Dibaca: 436   Komentar: 0   1

Salah satu tontonan yang menarik disalah satu stasiun televise adalah orang pinggiran, salah satu tontonan yang menggambarkan keadaan indonesia dewasa ini, keadaan rakyat indonesia yang sedang melawan getirnya kehidupan dunia globalisasi dan berkembangnya partai-partai yang ada di indonesia. Partai semakin banyak namun rakyat semakin sengsara. Percaya atau tidak percaya, namun inilah pandangan ku sebagai warga masyarakat indonesia yang berada pada garis rendahan. Tontonan ini memberikan makna dan cambuk bagi bagsa indonesia saat ini namun hanya dijadikan sebagai tontonan yang menarik dan asik.

Tontonan tersebut dapat memberikan dampak yang buruk bagi bangsa jika itu terus dibiarkan, dalam arti pemerintah tidak bertindak untuk mengatasi kemiskinan. Tontonan-tontonan sedih yang disuguhkan media merupakan kenyataan yang dialami bangsa indonesia. Pertanyaan sederhana adalah, apakah pemerintah buta atau media ingin mendapat simpati? Saya rasa ini adalah keprofesional para elit politik dalam membuat sebuah permainan yang rumit bagi orang bodoh. “Rakyat sudah tidak bodoh, rakyat sekarang sudah pinter dan hebat” kata-kata ini sering terdengar ditelinga ku, namun buktinya rakyat masih miskin dan makin sengsara, terus siapa yang benar. Apakah rakyat yang sudah pinter, atau para propokator ulung? Sungguh ini semua membuat ku bingung.

“Orang pinggiran” sebuah kata yang seharusnya tidak dihembuskan oleh media, namun kenyataannya masyarakat dengan lapang dada menerima karena setelah selesai mereka akan mendapat uang sebagai imbalan telah dimasukkan ke dalam televisI dan dilihat oleh semua orang. Siapa yang tidak mau menjadi artis dan bisa dilihat oleh seluruh lapisan masyarakat, namun apakah dengan cara ini. akan tetapi mungkin ini merupakan sebuah langkah akhir agar bisa makan dan melangsungkan hidup. Sungguh kasihan dan begitu sedih nasibmu, namun banyak orang yang iba dan bahagia akan dirimu. Banyak orang yang sedih namun baNyak orang yang memanfaatkan mu, banyak orang yang ingin menyumbang namun banyak orang yang mau menjualmu dengan professional.

Dari sisi positif, gambaran ini harus menjadi pelajaran yang berharga bagi penguasa maupun masyarakat yang lain agar terus berjuang demi hidup dan generasi selanjutnya. Rakyat bisa bercermin dari masalah tersebut agar tidak bernasib sama. Generasinya harus menjadi orang besar dengan memberikan pendidikan yang baik dan benar agar kelak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi generasinya. Selain itu, kita bisa mengambil hikmah di balik tontonan ini, banyak pelajaran berharga yang harus kita ambil, jangan sampai hanya dijadikan sebagai tontonan yang menarik namun tidak bisa berbuat apa-apa bahkan nasib kita sama dengan tontonan yang disuguhkan tersebut. Berpikir positif dan raih masa depan yang cerah.

Dari sisi negatif, contoh tersebut seharus menjadi pelajaran dan cambuk Negara agar tidak ada kemiskinan di indonesia ini, sejauh ini, para penguasa tidak memberikan respon positif bahkan ini adalah masalah yang harus dibuang karena tidak berguna. Biarkan lah ini menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat luas agar berjuang sendiri dalam hidupnya. Tidak hanya itu, dari tontonan tersebut malah menjadikan para elit politik atau para penguasa memiliki ide yang cemerlang bagi kepuasaannya terhadap kondisi rakyat saat ini, para penguasa memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa yang miskin harus bangkit bersama mereka, kemudian media memberikan pasilitas yang luar biasa agar mendapat bayaran yang setinggi-tingginya.

Tidak hanya itu, dibuatlah iklan yang menarik kepada masyarakat akan iklan kemiskinan, para calon penguasa (presiden, gubernur maupun bupati dan lainnya)turun bersama rakyat miskin dan berjuang bersama. Kemudian iklan tersebut menjadikan rakyat banyak dan percaya bahwa itu adalah calon yang akan membawa masyarakat sejahtera dan tidak aka nada lagi kemiskinan. Selain itu tontonan tersebut hanya sebagai mainan media agar mendapat perhatian rentenir agar menanamkan modalnya, sehingga media sukses dalam menyampaikan kebodohan dan kemiskinan rakyat indonesia.

Terus, rakyat harus bagaimana, ataukan pemerintah yang harus bagaimana? Semua itu bagaimana seharusnya kita sebagai umat dan hamba Allah dalam menyikapinya. Rakyat tidak boleh tertipu dan pemerintah tidak boleh menipu, rakyat tidak boleh miskin dan pemerintah harus mampu mengambil kebijaksanaan demi kesejahteraan rakyat, rakyat harus berusaha bangkit dan pemerintah harus memberikan kesempatan dan lowongan pekerjaan yang layak, rakyat harus menjadi pinter maka pemerintah harus memberikan dan menyiapkan pendidikan yang bermutu bagi pertumbuhan generasi bangsa yang lebih baik, rakyat harus. Jangan sampai rakyat berbalik dan pemerintah pun menghianati amanah rakyat.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Terima Kasih Juga Untuk Ibu Ani Yudhoyono …

Gapey Sandy | | 20 October 2014 | 13:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Gajimu Bukan Segala-galanya …

Jazz Muhammad | | 20 October 2014 | 13:41

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



Subscribe and Follow Kompasiana: