Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Arif Cebe

berpetualang dalam menikmati hidup

Orang Bertato, Tak Harus “Sangar”

OPINI | 17 February 2013 | 22:56 Dibaca: 592   Komentar: 0   0

Saat kita melihat orang yang bertato, pikiran yang muncul pertama kali dia adalah orang yang gahar, sangar bahkan seorang preman. Kebanyakan orang melihat orang yang bertato berhubungan dengan dunia preman dan kriminalisme. Namun anggapan kebanyakan orang tersebut tidaklah benar seutuhnya. Banyak musisi Indonesia bahkan dunia, atlet olahraga yang bertato. Mereka banyak memiliki tato ditubuhnya, namun catatan kriminalitasnya tidak ada, bahkan banyak hal – hal positif yang mereka hasilkan. Contoh saja David Beckham yang memiliki banyak tato di tubuhnya, dia tidak pernah merampok ataupun mencuri, malah banyak menyumbang untuk organisasi amal.

Minggu lalu, waktu saya mengikuti mata kuliah kewarganegaraan, ada teman sekelas yang bertato. Langsung saja pikiran saya menebak apakah dia seorang preman yang garang, dari gaya pakaiannya juga menunjukkan kalo dia seperti seorang kepala geng.

Waktu  itu sedang ada diskusi kelompok, salah satu kelompok kelasku maju. Saya kaget, ketika orang yang bertato tadi mengajukan sebuah sanggahan terhadap makalah yang dibuat kelompok tersebut. Orang tersebut sangat kritis dan dari bahasa yang digunakan lebih santun dari teman sekelas yang paling alim. Saat itu juga pandangan saya terhadap orang yang bertato berubah total, ternyata dibalik tatonya dia orang yang supel, mudah bergaul, dan enak diajak berteman.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah workshop yang diisi oleh seorang bule. Materi yang disampaikan memang menarik, bule tersebut juga menyampaikannya secara menarik dan kreatif. Waktu dia membalik badan saya lihat dilehernya ada sebuah tato, gak tau tato apa karena sebagian tertutup bajunya. Waow, tak ku kira dia juga mempunyai tato. Dari sikapnya dia sangat sopan, dan ramah.

Orang bertato memang tidak harus “sangar” dalam penampilan ataupun sikap. Banyak atlet dan orang – orang besar yang memiliki tato, mereka sepintas terlihat menakutkan. Untuk mengetahui sifat seseorang tidak dapat dilihat sepintas dari penampilannya, namun kita harus mengakrabi orang tersebut.

Namun sebaik – baiknya orang bertato, lebih baik kita yang tidak bertato tidak usah mengukir kulit kita dengan tato. Selain tidak baik untuk kesehatan, agama saya juga melarang. So berbuatlah yang terbaik untuk kehidupan ini :D

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 15 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Wailissa Anggota BIN? …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Ketika Berada di Bukit Wantiro …

Voril Marpap | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Selamat Ulang Tahun Baru Hijriah 1436 H …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Membaca Membuat Pintar …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: