Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Arif Cebe

berpetualang dalam menikmati hidup

Orang Bertato, Tak Harus “Sangar”

OPINI | 17 February 2013 | 22:56 Dibaca: 598   Komentar: 0   0

Saat kita melihat orang yang bertato, pikiran yang muncul pertama kali dia adalah orang yang gahar, sangar bahkan seorang preman. Kebanyakan orang melihat orang yang bertato berhubungan dengan dunia preman dan kriminalisme. Namun anggapan kebanyakan orang tersebut tidaklah benar seutuhnya. Banyak musisi Indonesia bahkan dunia, atlet olahraga yang bertato. Mereka banyak memiliki tato ditubuhnya, namun catatan kriminalitasnya tidak ada, bahkan banyak hal – hal positif yang mereka hasilkan. Contoh saja David Beckham yang memiliki banyak tato di tubuhnya, dia tidak pernah merampok ataupun mencuri, malah banyak menyumbang untuk organisasi amal.

Minggu lalu, waktu saya mengikuti mata kuliah kewarganegaraan, ada teman sekelas yang bertato. Langsung saja pikiran saya menebak apakah dia seorang preman yang garang, dari gaya pakaiannya juga menunjukkan kalo dia seperti seorang kepala geng.

Waktu  itu sedang ada diskusi kelompok, salah satu kelompok kelasku maju. Saya kaget, ketika orang yang bertato tadi mengajukan sebuah sanggahan terhadap makalah yang dibuat kelompok tersebut. Orang tersebut sangat kritis dan dari bahasa yang digunakan lebih santun dari teman sekelas yang paling alim. Saat itu juga pandangan saya terhadap orang yang bertato berubah total, ternyata dibalik tatonya dia orang yang supel, mudah bergaul, dan enak diajak berteman.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah workshop yang diisi oleh seorang bule. Materi yang disampaikan memang menarik, bule tersebut juga menyampaikannya secara menarik dan kreatif. Waktu dia membalik badan saya lihat dilehernya ada sebuah tato, gak tau tato apa karena sebagian tertutup bajunya. Waow, tak ku kira dia juga mempunyai tato. Dari sikapnya dia sangat sopan, dan ramah.

Orang bertato memang tidak harus “sangar” dalam penampilan ataupun sikap. Banyak atlet dan orang – orang besar yang memiliki tato, mereka sepintas terlihat menakutkan. Untuk mengetahui sifat seseorang tidak dapat dilihat sepintas dari penampilannya, namun kita harus mengakrabi orang tersebut.

Namun sebaik – baiknya orang bertato, lebih baik kita yang tidak bertato tidak usah mengukir kulit kita dengan tato. Selain tidak baik untuk kesehatan, agama saya juga melarang. So berbuatlah yang terbaik untuk kehidupan ini :D

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 5 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Dipertanyakan Molornya Pembangunan Dermaga …

Mahaji Noesa | 8 jam lalu

Malunya Tuh Disini (Tepok Jidat) …

Atin Inayatin | 8 jam lalu

Abdi Negara dan Gaya Hidup Sederhana …

Dhita Mona | 8 jam lalu

Kau, Aku, Angin …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Wisata Alam Sejarah Klasik Goa Selomangleng …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: