Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Arif Cebe

berpetualang dalam menikmati hidup

Orang Bertato, Tak Harus “Sangar”

OPINI | 17 February 2013 | 22:56 Dibaca: 587   Komentar: 0   0

Saat kita melihat orang yang bertato, pikiran yang muncul pertama kali dia adalah orang yang gahar, sangar bahkan seorang preman. Kebanyakan orang melihat orang yang bertato berhubungan dengan dunia preman dan kriminalisme. Namun anggapan kebanyakan orang tersebut tidaklah benar seutuhnya. Banyak musisi Indonesia bahkan dunia, atlet olahraga yang bertato. Mereka banyak memiliki tato ditubuhnya, namun catatan kriminalitasnya tidak ada, bahkan banyak hal – hal positif yang mereka hasilkan. Contoh saja David Beckham yang memiliki banyak tato di tubuhnya, dia tidak pernah merampok ataupun mencuri, malah banyak menyumbang untuk organisasi amal.

Minggu lalu, waktu saya mengikuti mata kuliah kewarganegaraan, ada teman sekelas yang bertato. Langsung saja pikiran saya menebak apakah dia seorang preman yang garang, dari gaya pakaiannya juga menunjukkan kalo dia seperti seorang kepala geng.

Waktu  itu sedang ada diskusi kelompok, salah satu kelompok kelasku maju. Saya kaget, ketika orang yang bertato tadi mengajukan sebuah sanggahan terhadap makalah yang dibuat kelompok tersebut. Orang tersebut sangat kritis dan dari bahasa yang digunakan lebih santun dari teman sekelas yang paling alim. Saat itu juga pandangan saya terhadap orang yang bertato berubah total, ternyata dibalik tatonya dia orang yang supel, mudah bergaul, dan enak diajak berteman.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah workshop yang diisi oleh seorang bule. Materi yang disampaikan memang menarik, bule tersebut juga menyampaikannya secara menarik dan kreatif. Waktu dia membalik badan saya lihat dilehernya ada sebuah tato, gak tau tato apa karena sebagian tertutup bajunya. Waow, tak ku kira dia juga mempunyai tato. Dari sikapnya dia sangat sopan, dan ramah.

Orang bertato memang tidak harus “sangar” dalam penampilan ataupun sikap. Banyak atlet dan orang – orang besar yang memiliki tato, mereka sepintas terlihat menakutkan. Untuk mengetahui sifat seseorang tidak dapat dilihat sepintas dari penampilannya, namun kita harus mengakrabi orang tersebut.

Namun sebaik – baiknya orang bertato, lebih baik kita yang tidak bertato tidak usah mengukir kulit kita dengan tato. Selain tidak baik untuk kesehatan, agama saya juga melarang. So berbuatlah yang terbaik untuk kehidupan ini :D

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: