Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ulul Rosyad

Lahir berbarengan dengan banjir bandang di kota kecil Tuban. Sangat gentar dengan cecak

Terjebak dalam Kegelapan Saat Belajar Ilmu “ngrogo sukmo” Sendirian

REP | 16 February 2013 | 13:58 Dibaca: 5850   Komentar: 15   0

Proyeksi astral. Sebelum beberapa tahun belakangan ini menjadi populer, saya sama sekali tidak mengenal istilah tersebut, apa lagi berbau bahasa asing. Saya hanya mengetahui ‘ngrogo sukmo’ atau melepaskan ruh yang ada dalam salah satu bidang ‘Ngelmu Jowo’. Selain pemahaman lebih dari itu saya sama sekali tidak tahu.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin bebagi cerita tentang pengalaman saat melakukan ‘ngelmu sepuh’ ini untuk pertama kali beberapa tahun yang lalu. Ternyata benar kata orang tua. Belajar itu harus punya guru. Kata bijak itu rupanya juga ada disiplin ilmu supranatural. Bila belajar tanpa bimbingan guru, maka alamat petaka yang akan terjadi, setidaknya seperti yang saya alami sendiri.

Awalnya, saya mengenal ngelmu ‘ngrogo sukmo’ (meraga sukma) dari seorang guru di Blora (sudah almarhum). Singkat cerita, pada sebuah kesempatan setelah ada pembekalan yang diwejangkan akhirnya saya diajak oleh beliau untuk jalan-jalan pada sebuah tempat di pesisir utara. Meski, ujur waktu itu saya masih mentah sekali dalam pemahaman tentang sensasi apa yang akan terjadi saat melakukan prosesi demikian. Karena didorong keinginan yang kuat dan nekat tentunya saya mau saja ketika ditawari beliau untuk mempraktekkan ngelmu tersebut dengan beliau sebagai pembimbingnya.

Berdua, dengan sebatang lilin yang dinyalakan lantas lampu dimatikan. Saya diharuskan memandangi nyala apinya selama bebarapa menit sambil berkonsentrasi dan mengamalkan beberap[a bait dzikir. Setelah itu saya disuruh memejamkan mata rapat-rapat. Aneh saja, nyala api lilin tersebut seakan masih ada didepan mataku. Padahal, sedah saya pejamkan begutu rapat. Terdengar dari guru spiritual saya yang menanyakan ; ‘warno opo wae sing katon nang mripatmu” (warna apa saja yang telihat dimatamu).

Memang, kemudian muncul nyala lilin warna merah, biru, kuning, hijau, bergantian. Ada yang dua tiga kali muncul, malah warna hitam juga muncul, setiap saya sebutkan barangkali sebagai acuan guru pembimbingku apakah saya siap atau tidaknya diajak melakukan prosesi tersebut. Setelah nyala lilin kemudian tidak muncul lagi kemudian lampu kamarnya dinyalakan.

“Iso Lee! Wiwit bengi iki kowe ketoke wes siap!” (bisa Nak! Mulai malam ini kamu kelihatannya sudah siap) kata beliu sesaat kemudian. Saya sangat gembira karena tak sia-sia usahaku mempersiapkan sesuatunya dengan berbagai ‘laku prihatin’ sesuai dengan petunjuk beliau agar saya bisa atau sekurangnya berkesempatan meraga sukma, keluar dari tubuh sendiri dan melihat tubuh sendiri, seperti fenomena seseorang mati suri baca disini pengalamanku.

Tubuh simpul gaib ditubuh saya dibuka olehnya, agar rohku bisa melepaskan diri dari ragaku dan pergi berpetualang ke alam gaib. Setelah beberapa kali saya mencoba, dengan ritual khusus, yaitu cara atau kunci agar bisa melepaskan diri dari kurungan raga, tapi tetap saja gagal, yang terlihat hanya beliau berubah menjadi dua. Satu diantara kembarannya duduk terpekur dengan kepala menunduk, kembaranya yang lain terlihat berdiri dihadapanku.

Setelah berungkali akhirnya saya mendapat sensasi ini, beberapa saat seakan tubuh saya seperti terkena strum listrik, bergetar dan bergelonjotan. Sesuia dengan petunjuk guruku pada moment tepat saya di suruh melompat melalui ubun-ubun kepalaku. Hampir-hampir saya tidak percaya, melihat diriku duduk serius dalam posisi bersila. Takjub, girang, takut melingkupi perasaan waktu itu. Takjub karena saat itu saya berada di alam yang bersinar kebiruan. Dan yang cukup aneh, saya bisa melihat ke tempat gelap sekalipun dengan jelas.

Berdiri disamping saya, sosok halus guruku yang bersinar kebiruan memberi isyarat agar saya mengikutinya. Saya mencoba berjalan tapi sangat sulit dan kaku, bahkan beberapa kali terjatuh. Tubuh bersinar guruku seakan tidak sabar memberi isyarat lagi agar saya mengikutinya. Saya mencoba berjalan sebisaku mengikutinya berjalan keliling dalam rumah.

Saya sangat heran ketika, sinar kebiruan guruku keluar kamar dengan menembus dinding ‘gebyok’ (papan kayu). Luar biasa! Lucu juga saat saya berusaha mengikutinya dengan cara ingin membuka pintu kamar dengan cara biasa seperti biasa. Sedikitpun tangan saya tidak bisa menyentuh pintu tersebut. Dan tembus, menembus pintu pintu tersebut. Secara naluri, saya melangkah saja sambil terpejam, tahu-tahu saya sudah ada di ruang tamu dimana sinar kebiruan guru saya berada.

Setelah berkeliling di dalam rumah beliau, dengan bahasa isyarat beiau menagajak saya berjalan ke luar rumah. Setiba di luar rumah, kembali saya di buat keheranan dan takjub. Saya lihat guru spiritual saya tidak lagi berjalan di tanah, akan teta[i terbang naik beberapa meter dari tanah dan menujuk ke arah utara.

Terdengar jelas ditelingaku bisikan beliau “jajal Lee, kowe yo iso mabur koyo Mbah. Melu Mbah paran ngalor” (coba Nak, kamu juga bisa terbang seperti Mbah. Ikut Mbah ke arah utara}.

Saya mencoba menjejakkan kakiku ke tanah. Keanehan terjadi tubuhku melayang naik beberapa meter tapi agak menggeliat miring,hampir jatuh. Setelah berusaha untuk menguasai tubuh halusku dan terbang mengikuti guruku ke arah utara. Memenbus kegelapan malam diatas areal hutan jati menuju pesisir utara. Singkat cerita, kejadian apa dan tujuan ke pesisir utara ini dengan berbagai pertimbangan tidak saya ceritakan disini.

Sekembali dari pesisir utara, akhirnya kami menuju kediaman beliau. Dimana raga kami masing-masing menunggu. Takjubnya, setelah membaca rapalan yang beliau ajarkan sebelumnya, tubuh halusku begitu mendekati raganya langsung tersedot masuk bagaikan asap yang dengan sangat cepatnya kembali menyatu dengan ragaku. Alam biru perlahan memudar dan kesadaran timbul dalam diriku, saya sudah kembali. Sadar sepenuhnya.

Sejalan beriringnya waktu, dimana saat saya masih sangat mentah dalam hal ‘ngelmu sepuh’ ini saya kehilangan sosok pembimbing yang sangat mumpuni dalam ngelmu ini. Beliau meninggal karena sepuh, terbilang dari penuturan beliau semasa masih hidup bahwa usianya sudah menginjak 96 tahun.

Dengan berbekal sedikit pengetahuan, sepeningal guru spiritual saya, masih beberapa kali saya mencoba mendalami dan melakukan sendiri proses itu, meski kenyataanya masih seringkali gagal. Bahkan lebih sering saya justru tertidur saat sedang dalam proses pelepasan ruh.

Saya masih ingat pertengahan agustus 2007 silam. Ketika itu saya belajar mengasah kemampuan meraga sukma, seorang diri dikamar sekitar jam 11 malam. Setelah melakukan doa ke hadiratNya saya melakukan proses penenangan batin dan pikiran. Sekita sepuluh menit kemudian, saya mulai melakukan proses relaksasi dalam. Seperti sensasi sebelumnya, tubuh saya seperti tersengat listrik hebat beberapa menit. Seakan disengat ribuan voltage listrik. Dari ujung rambut sampai kaki, tubuh saya berguncang hebat. Sensasi berikutnya, ruh saya dalam nuansa biru melayang ringan di atas badan wadag saya. Meski sensasi ini berungkali tiap saya melakukan prosesi ini, jujur, tetap saja ada rasa sangat senang karena berhasil melewati proses yang sakit dan menguras tenaga. Seperti yang suda-sudah, saya masih belum berani sendirian meninggalkan badan wadag saya dan beberapa saat kemudian langsung kembali. Tapi, kali ini lain, saya ingin berkeliling dirumah. Aneh saja, ternyata badan halus ini bergerak sesuai apa yang ada dipikiran saya. Saat saya ingin ke kamar anak saya, tahu-tahu sampai di kamarnya.

Setelah asik berkeliling rumah dan menembus tembok demi tembok, bahkan saya sedikit berani keluar rumah, meski kemudian masuk lagi kerumah. Nah, terpikir oleh saya kalau saya mengunjungi sahabat saya yang masih satu kampung. Detilnya, dalam proses menuju ke rumah sahabat saya tadi tubuh melayang meski dalam keseimbangan yang kurang baik. Dalam perjalanan itulah saya dikagetkan oleh gonggongan anjing. Timbul pertanyaan dalam hati, apa mungkin anjing tersebut melihat saya?

Waktu bersama guru pembimbing saya, saya diajak beliau terbang diatas ketinggian tak kurang dari 10 meter, namun saat saya melakukan sendirian saya masih belum berani setinggi itu, kisaran 2 sampai 3 meter dari tanah, lumayan untuk pemula. Karena situasi telah larut malam, saya hamya melihat beberapa orang tetangga yang masih ‘jagongan’ di mulut-mulut gang.

Waktu itu, diluar dugaan, ketika saya melintasi pemakaman yang sangat dimitoskan didaerah saya tinggal, seolah-olah ada hawa aneh yang merasuk ke kulit halus saya. Sensasi ini amat sangat cepat tejadi. Bahkan untuk sesaat, saya melihat suasana menjadi gelap.

Saya merasakan ruh saya tersedot oleh sesuatu kekuatan yang sangat kuat. Saya tak ingat dimana waktu itu, benar-benar gelap. Yang passti, saya melihat suasana yang sangat gelap dan dingin. Tak lama kemudian saya melihat aneh dan temapt yang mengerikan. Sangat bingung saat itu. Apakah saya sudah mati atau masih hidup. Yang jelas, ruh saya sudah tidak bersama badan wadag saya lagi.

Sebuah gambaran yang tak terwakili sebuah kosa kata. Ketegangan yang sempurna. Jujur, sangat ketakutan dengan dengan pemandangan kanan kiri saya waktu itu. Terlebih saat melihat makhluk bermata satu, kulit penuh bulu dan tingginya hampir tiga meter. Semakin saya berusaha keluar dari tempat menyeramkan itu, semakin kuat perangakap sinar pekat itu membelitku. Sulit sekali menembus perangkap berupa kegelapan tersebut. Pikir saya, inilah akhir hidup saya selama ini.

Ditengah ketidakberdayaan dan takut dikelilingi makhluk yang meyeramkan. Mereka seperti ingin membedah tubuh saya. Tetapi mereka tetap berlaku kaku. Ya, mereka sepertinya tak bisa menjamah tubuh saya, walau saat itu benar-benar tidak berdaya. Untunglah, ditengah kepanikan tersebut masih teringat dalam benak saya akan wejangan guru spiritual saya saat ada kejadian seperti ini. Dalam keadaan panik, saya berusaha menenangkan pikiran dan batin bersamaan dengan melantunkan bait-bait doa dan rapalan yang diajarkan almarhum guru spiritual saya. Anehnya, secara perlahan sinar biru dalam tubuh halus saya semakin menguat dan melonggarkan sinar pekat tersebut. Sejenak kemudian hamparan gelap tanpa ada sosok-sosk mengerikan tersebut terlihat. Sensasi yang demikian semakin menambah semangat saya untuk menambah semangat saya untuk bisa keluar dari hamparan hitam tersebut, dengan olah batin yang lebih mendalam lagi.

Walhasil, sejenak kemudian tubuh halusku terasa terlempar dari hamaparan pekat tersebut. Terlihat di depanku, tempat dimana sensasi awal saat terakhir kali mendekati areal pemakaman tersebut. Tanpa berpikr panjang dalam pikiran saya yang terlintas hanya untuk pulang dan kembali ke badan wadag saya. Mengurungkan niat untuk mengunjungi sahabat saya. Sesaat setelah sampai di kamar tempat badan wadag saya langsung saya kembali masuk kesadaran yang sesungguhnya.

Demikian pengalaman saya, saat melakukan ritual meraga sukma atau belakangan terkenal dengan proyeksi astral. Tanpa bermaksud untuk menggurui atau sejenisnya. Tak lain sekedar berbagi pengalaman untuk sebagai wacana bagi kita semua. Terlebih untuk seseorang yang hanya mempelajari hal yang berkaitan dengan ini yang hanya melalui buku. Saya sarankan itu jangan, terlalu berbahaya! Yang saya ceritakan disini sama sekali belum mewakili sensasi yang terjadi pada kenyataannya. Barangkali karena pengetahuan saya dalam mengolah kosa kata sangat terbatas. Mengingat saya hanya drop out di kelas 3 SMP. Mohon dimaklumi dan kritik dan sarannya sangat saya harapkan untuk koreksi diri. Sekian matur nuwun . wasalam………

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: