Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hai Hai

Hanya seorang Tionghoa Kristen yang mencoba untuk melakukan sebanyak mungkin hal benar. Saling MENULIS agar selengkapnya

Kisah Cinta Tak Sampai Lelaki dan Rembulan

REP | 14 February 2013 | 13:29 Dibaca: 494   Komentar: 0   2

Gambar: Tapuccino Shop

Valentine segera tiba namun Kristik itu belum jadi juga. Sudah berbulan-bulan aku membuatnya. Entah kenapa, aku merasa wanita dalam gambar tersebut adalah diriku. Seperti pelukis, aku sedang membuat kristik foto diri sendiri. Aku membuatnya untuk dia. Kekasihku. Hadiah ulang tahun sekaligus hadiah valentine dariku. Dia akan memasangnya di dinding kamarnya dan setiap kali memandangnya, dia akan merasa sedang memandang foto diriku. Kekasihnya.

Aku tahu. Perempuan dalam kristik itu bukan diriku. Namun akulah yang membuatnya dengan cinta. Di dalam setiap tusukan jarum di malam-malam senyap, bagian-bagian dari tubuhku berpindah ke plastik kawat nyamuk itu. Satu demi satu lobang menghilang dan benang-benang pun menjelma menjadi fotoku.

Ketika melihatnya di toko, aku langsung merasa, itu memang foto diriku. Entah bagaimana, meskipun belum pernah ketemu namun pencipta Kristik itu seolah membuat gambar itu khusus untuk diriku.  Itu rambutku. Itu bahuku. Itu pinggangku. Itu tubuhku. Bahkan itu puting susuku juga itu pantatku. Kristik itu memang diciptakan untuk menggambarkan diriku. Dan aku membuatnya untuk kekasihku.

Ketika menerima kristik itu sebagai hadiah ulang tahunnya sekaligus hadiah valentine, lalaki itu memandangnya. Biasa saja! Tidak ada yang istimewa sama sekali dari kristik itu. Seperti kristik lain yang dibuat oleh kekasihnya. Rapih. Tarikan benangnya sangat terukur dan rapih. Gambar wanita dalam kristik tersebut? biasa saja. Dia sama sekali tidak merasa wanita dalam kristik itu adalah kekasihnya. Dia sama sekali tidak merasakan cinta terpancar dari kristik tersebut.

Lelaki itu memeluk kekasihnya. Mencium bibirnya. Mengucapkan terima kasih. Kemudian mencium bibirnya. Mengucapkan selamat valentine. Lalu mencium bibirnya. Lalu mengucapkan cinta. Kemudian mencium bibirnya. Itu hari ulang tahunnya. Dia merayakannya dengan kekasihnya sampai hari Valentine.

Gambar: Sclick.net

Valentine kali ini berbeda sebab pacarnya nun jauh di seberang lautan. Nun di negeri orang sedang menuntut ilmu. Di Eropah cing. Sejak hari pertama di kota ini, aku kangen kamu. Meskipun sudah berbulan-bulan namun kangennya nggak ilang-ilang. Natal di sini indah. Demikian pula tahun barunya. Tapi aku kangen. Banyak masalah aku hadapi di sini. Dan aku baru sadar. Selama ini kamu selalu ada. Setiap kali menghadapi masalah kamu selalu ada. Bersama kamu aku nggak pernah ragu apalagi takut menghadapi apa pun. Bersama kamu, semua masalah memang tidak menjadi mudah namun pasti ada jalan keluarnya. Di sini, nggak ada kamu. Kalau saja ada kamu di sini. Kamu akan suka kota ini. Aku yakin kamu akan suka koa ini. Suatu hari nanti aku akan ajak kamu ke sini. Valentine sudah dekat. Sayang kamu nggak ada di sini. Kangen.

Lelaki itu membaca surat tersebut. Dan ya ……. kangen. Sudah berbulan-bulan dan kangen itu nggak mau pergi juga. Dia lalu mengumpulkan patung-patung kungfu boy miliknya. Patung-patung kesayangannya. Dia meletakkan patung-patung kecil itu di atas meja. Memandanginya satu persatu. Menikmati keindahannya satu persatu. Wow …… karya seni yang indah.

Aku akan mengirim kalian kepadanya. Setelah bertahun-tahun menemaniku, kini giliran menemaninya. Tunjukkan kekuatan kalian, tunjukkan kelenturan kalian, tunjukkan kelincahan kalian, tunjukkan ketabahan kalian. Tunjukkan keceriaan kalian. Temani dia. Dengan demikian, dia akan belajar. Berapa banyak yang akan dipelajarinya? Aku nggak tahu. Dua tahun tidak lama. Dua tahun lagi dia akan pulang dan saat itu kita pun bertemu lagi. Pergilah! Bawa semua kenangan kita selama ini kepadanya.

Lelaki itu lalu membungkus patung-patung kecil itu satu demi satu dengan rasa sayang. Untuk menjamin agar tidak ada yang pecah meskipun jatuh atau tertindih barang berat. Di kotak luar patung itu dia membuat catatan tentang isi kotak itu. Dia juga memberi catatan agar kotak itu tidak jatuh apalagi dibanting dan ditindihi beban berat. Dia mengutus sahabat-sahabat kecilnya untuk menemani pacarnya di negeri orang.

Ini adalah para sahabatku. Mereka sudah menemaniku selama bertahun-tahun. Aku mengutusnya untuk menemani kamu. Semoga mereka mampu menghiburmu sebab aku tidak bisa karena jauh darimu. Mereka selalu membuatku tertawa dan bersemangat menghadapi hidup. Rindu.

Selama berhari-hari lelaki itu gelisah. Dia kuatir sahabat-sahabatnya kena malapetaka selama dalam perjalanan mengunjungi kekasihnya. Itu sebabnya dia senang sekali ketika pak pos membawa berita. Dia membuka surat itu. Isinya pendek sekali.

“Sedang menghadapi ujian. Sibuk sekali. Aku sudah menerima kirimanmu. Terima kasih untuk semua kiriman yang lain. Namun aku nggak suka patung-patung yang kamu kirim. Aku buang.”

Lelaki itu terlongong-longong. Terlintas dalam pikirannya, pacarnya membuang semua sahabat-sahabatnya ke tong sampah. Tanpa belas kasihan! Seperti membuang sampah! Memang membuang sampah. Hatinya luka! Tahun-tahun berganti namun luka itu nggak pernah sembuh. Padahal aku sudah memberitahu dia bahwa mereka adalah sahabat-sahabatku!

Gambar: conceptart.org

Karena senggang maka dia pun tidak keberatan ketika diajak gadis itu menemaninya ke undangan peluncuran produk baru dan pameran. Valentine sudah dekat. Besok Valentine. Di sana mereka melihat coklat. Mereka pun melihat-lihat coklat-coklat yang dipamerkan. Dia mengamatinya dengan teliti. Tentu saja bukan mengamati coklat namun gadisnya yang mengamati coklat-coklat itu.

Selain melihat coklat mereka juga mampir di bagian yang menjual pernak-pernik hiasan. Lelaki itu mengamati patung-patung kecil. “Ini mirip kamu!” Kata gadis itu sambil menunjuk sebuah patung gorila. “Persis kamu kalau lagi berdiri dibalik pintu pagar kostku,” ujarnya sambil mengamati patung yang lain. “Ini juga mirip kamu kalau lagi  nepok kepala karena bingung,” katanya menunjuk sebuah patung anak gorila lagi menepuk kepalanya dengan tangan kiri.

Lelaki itu mengambil kedua patung tersebut lalu ke kasir dan merogoh koceknya untuk membayar. Tentu saja gadis itu terlongong-longong melihat perbuatannya. Lelaki itu kembali ke gadisnya dan memberikan kedua patung terbungkus kantong plastik putih berbunga-bunga itu kepadanya. “Kalau kamu kangen dan nggak ada aku. Kamu boleh memandangi kedua patung yang mirip aku ini. Lebih baik dari pada mati kangen, bukan!” Gadis itu ngakak menerima kedua patung tersebut. Lelaki itu tersenyum renyah. Para penjaga stan tersenyum sembunyi-sembunyi.

Setelah puas keliling, keduanya pun pulang. Tentu saja sebelumnya lelaki itu mengajak mampir kembali ke bagian yang menjual coklat. Dia lalu mengambil beberapa coklat dan minta dibungkus seindah mungkin. “Coklatnya indah. Tolong bungkus seindah mungkin agar layak untuk hadiah valentine bagi gadis cantik ini, mbak!” Katanya kepada penjaga stan tersebut. Dalam perjalanan pulang, gadis itu bertanya, dari mana lelaki itu tahu coklat-coklat yang paling disukainya? “Dari matamu, nona! Dari matamu! Matamu yang memberitahu aku!”

Coklatnya sudah habis dimakan rame-rame di tempat kost gadis itu, malam itu juga. Namun bagaimana dengan kedua patung gorila kecil itu? Perempuan itu masih menyimpannya. Entah mengapa? Dia merasa kedua patung itu sangat istimewa. Bagaimana dengan lelaki yang memberi kedua patung tersebut? just another night. Just another gift!

NB:
Untuk mengenang almarhum Franky Sahilatua dan menghormati Jane. Terima kasih atas lagu: Lelaki dan Rembulan. Selamat Valentine 2013.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 9 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 10 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 11 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 12 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 10 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 10 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 10 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 11 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: