Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Moedja

fakir pandir yang berpikir

Kesimpulan

OPINI | 11 February 2013 | 14:27 Dibaca: 89   Komentar: 0   0

Kemarin aku berjalan melewati sebuah langit temaram. Meniti sebuah jalan setapak yang dari kejauhan tampak begitu suram. Tanpa hiasan bulan yang tergantung di langit, juga tanpa gemintang dengan kerlipan. Heningnya buat diksi sunyi menjadi sinonim untuk lukiskan pada malam yang hitam.

Kemarin lusanya ada yang mengantung, bergelayut, mengganggu di benak. Mengoyak pikiran dan mengacak setiap runutan edaran oksigen yang dipompakan jantung. Aku bergidik.

Lalu  kucoba susun setiap huruf demi huruf menjadi sebuah kata berbentuk tanya. Problema dalam cita cinta berdesir dalam setiap hela. Ada yang kembali mengganggu, seperti urutan kata ‘g’ dalam rangkaian kata ‘ganggu’ yang sepintas begitu menggangguku. Ah.

Kususun lagi ragangan dalam masalah yang belum terpecahkan itu. Gores hitam di atas putih. Tak puas, aku lanjutkan dengan hipotesis spekulatif bahwa ini terjadi karenanya! Maka, kucari teori tentang perihal yang dapat buktikan bahwa ialah penyebab langit temaram di malam hari kemarin, dan lusa yang sangat mengganggu dengan koyakan dan acakannya.

Argumen seorang ahli terkadang semakin membingungkan, entah pikirku yang tak sampai atau memang ketinggian susun kata dan diksinya yang membuat hal sederhana menjadi tambah menjelimet. Aku tertantang. Tanya itu menghantu di siang bolongku, merongrong di setiap diam dan lamunan. Aku semakin yakin bahwa ialah penyebab semuanya.

Teorema telah kukumpulkan seadanya, bukan seadanya, bahkan lebih dari sekadar cukup. Lalu tesis-tesis kugabung agar menjadi sebuah sintesis yang dus spekulatif adanya. Misterinya belum juga terungkap, ia semakin mengganggu, kini mulai hadir di mimpi, dengan senyum elok lima senti!

Benang kesimpulan tak mungkin kutarik terlalu dini, karena observasi yang belum memadai. Maka kucari apa sebab aku menjadi begini. Maka hanya ada satu kata sousinya. Observasi! Kemudian mataku bekerja keras membaca alam dan kehidupan. Mencoba tafsirkan segala tanda kusaNya dengan minim akal budiku yang tak ada daya.

***

Ternyata aku masih belum dapat jawab tanya yang kuajukan sendiri. Siapakah penyebab malam temaram itu dan tiga hari lalu  yang sangat mengganggu dengan koyakan dan acakannya. Aku masih terdiam, dan sesekali bergidik. Aneh!

Kupandangi lagi ragangan yang telah kubuat, mungkin raganganku ada yang salah. Entah teori yang salah, hipotesis yang terlalu kabur, atau data hasil observasiku yang tidak valid? Maka aku telisik dengan nalarku.
Ternyata benar saja, aku termakan racun kata si pembuat teorema gila. Sehingga pantaslah bila tak ada yang sinkron dengan data. Maka kuulang kembali observasi ini. Tujuanku jelas dan sederhana: kesimpulan!

Berjam-jam kuhabiskan waktu dengan meihat, mendengar, memandang, mengerenyitkan dahi sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Kuolah kembali data hasil observasi kemarin, kuhubungkan dengan beragam teori yang ada, lalu kusisipkan analisis dasar yang kemudian disambung dengan beberapa argumen serta opini dengan data.

Samar mulai memudar, ada seberkas cahaya yang tampak suam-suam muncul dari analisisku tadi. Tapi sayangnya aku leleh, maka kuteruskan esok hari.

***

Aku kembali mengandalkan inderaku, juga dibantu dengan keyakinan akan kekuatan Tuhan tentunya. Masih terlalu abstrak bentuknya, namun bukankah abstrak pun sebuah bentuk? Maka kuteruskan saja, biar labirin bimbang penghalang nalarku pecah perlahan-lahan.

Berapa cangkir lagi yang harus kuhabiskan untuk membuktikan hipotesisku? Setidaknya aku agak jenuh kini. Maka kuputuskan untuk baringkan mata dalam senyap jiwa.

Aku tersentak, melonjak dari alam khayali menuju meja reot dan cangkir yang kutinggalkan tadi. Aku tahu jawabnya. Aku kembali mulai menganalisis setiap kata makna dan di balik makna-makna itu.

Ya, sambil aku berdiri aku berhasil menemukan kesimpulannya! Ya, sebuah kesimpulan!
Tapi dari kesimulan itu aku kembali duduk dan muncullah pertanyaan kembali, sampai akhirnya aku berjalan melewati sebuah langit temaram. Meniti sebuah jalan setapak yang dari kejauhan tampak begitu suram. Tanpa hiasan bulan yang tergantung di langit, juga tanpa gemintang dengan kerlipan. Heningnya buat diksi sunyi menjadi sinonim untuk lukiskan pada malam yang hitam.

Kemarin aku berjalan melewati sebuah langit temaram. Meniti sebuah jalan setapak yang dari kejauhan tampak begitu suram. Tanpa hiasan bulan yang tergantung di langit, juga tanpa gemintang dengan kerlipan. Heningnya buat diksi sunyi menjadi sinonim untuk lukiskan pada malam yang hitam.

Kemarin lusanya ada yang mengantung, bergelayut, mengganggu di benak. Mengoyak pikiran dan mengacak setiap runutan edaran oksigen yang dipompakan jantung. Aku bergidik.

***

Sampai kapan tanya menjadi kesimpulan, dan kesimpulan menjadi tanya, dan terus begitu..begitu..begitu…

Aku harus menyiapkan cangkir lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 10 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 12 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 14 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: