Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Wahyuni Susilowati

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... ( https://twitter.com/zayshello )

Sapi, Aku, dan Sang Penggembala

REP | 10 February 2013 | 12:27 Dibaca: 189   Komentar: 0   1

13604736801600731197

…dalam perjalanan Cibinong – Bandung beberapa waktu lalu di belokan rest area Purwakarta aku melihat seekor anak sapi bersama lima saudaranya tengah merumput di tegalan sempit seberang kedai kopi waralaba tempatku nongkrong bersama teman-teman seperjalanan. Ceritanya kami menunggu mobil-mobil lain yang karena suatu hal jadi agak lelet untuk konvoi menuju Bandung dalam rangka menghadiri sebuah acara. Ngobrol ngalor-ngidul sembari bercanda ditemani secangkir kopi sesuai selera masing-masing. Ternyata sampai mocha creme latte dinginku nyaris tandas, yang dinanti tak kunjung nongol. Daripada bulukan karena ‘boring’, kuputuskan untuk turun menghampiri anak sapi berkulit coklat muda itu. Setelah minta ijin pada penggembalanya, aku pun mulai pedekate  (^___*).

Sepasang mata yang bulat besar, wajah yang super duper cool dan mulut yang tak henti-henti memamah rumput menyongsongku. Mulanya dia agak menghindar sebelum akhirnya memutuskan,’Cewek ini oke, aman!’ (hahaha…). Bahkan dia  tenang-tenang saja saat punggungnya kuelus. Berikutnya punggung sang induk yang tengah bunting besar dapat giliran kubelai-belai sambil mengobrol dengan Pak Wade (64 tahun), penggembala sekaligus pemilik sapi-sapi itu. Saat kutanya berapa modal awal untuk beternak sapi,” Ah, teu nganggo modal da (‘tidak pakai modal,kok’,Sunda, -pen.).” lantas dia bercerita bahwa sejak tahun 1985, dia menerima pekerjaan memelihara sapi-sapi titipan orang lain dengan sistem paroan (bagi hasil) artinya bila sapi-sapi yang dipelihara beranak,maka anak-anaknya akan dibagi dua antara pemilik dan Pak Wade. Kalau jumlahnya ganjil,maka anak sapi yang seekor akan dijual dan uang yang diperoleh itulah yang dibagi.

Pak Wade yang telah dikaruniai cucu dari anak semata wayangnya ini setiap malam sekitar jam 22.00 wib akan berangkat ke kandang sapi-sapinya yang terletak beberapa ratus meter dari rumah untuk berjaga sampai pagi. Lantas siangnya,kira-kira selepas Zuhur, dia akan menggiring para sapi itu ke tegalan untuk merumput sekalian refreshing (agar tak jenuh ngandang melulu… ^___^). Rata-rata setiap tiga tahun sekali, Pak Wade akan memiliki minimal seekor sapi yang hanya akan dijual saat dia membutuhkan uang dalam jumlah besar. Tak perlu repot menyeret sapi ke pasar karena sang pembeli akan datang langsung kepadanya. Sementara Pak Wade mengurus sapi,istrinya lebih banyak bertugas mengelola sawah milik mereka. Alhamdulillah,kondisi Pak Wade ini jauh lebih baik dari petani Priangan bernama Marhaen yang pernah dijumpai Bung Karno puluhan tahun silam sebagaimana dituturkan Cindy Adams dalam biografi Bapak Proklamator itu yang berjudul ‘Putra Sang Fajar’.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 9 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: