Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

A. Dardiri Zubairi

membangun pengetahuan dari pinggir(an) blog pribadi http://rampak-naong.blogspot.com/

Tidak Setia, Kodrat Laki-laki?

OPINI | 06 February 2013 | 12:06 Dibaca: 287   Komentar: 0   3

Salah satu stigma –entah asli atau hasil konstruksi—yang terlanjur disandang laki-laki adalah, TIDAK SETIA. Coba cermati istilah “dasar buaya” atau “buaya darat”, kepada siapa istilah itu dialamatkan? Kepada laki-laki, bukan?

Sial memang jadi laki-laki. Tak tanggung-tanggung majaz yang dipinjam untuk menggambarkannya, sosok hewan buas dengan kulit kasar dipenuhi benjolan yang menambah sosok seramnya, BUAYA. Siapakah pencetus majaz ini? Saya menduga perempuan.

Meski saya tidak ambil pusing siapa pencetusnya, majaz ini bagi saya terasa menohok. Dalam majaz ini tersimpan beribu makna. Beratus tafsir. Salah satunya, makna dan tafsir bahwa pada dasarnya laki-laki itu tidak setia. Begitukah?

Entar dulu. Jika bilang “pada dasarnya” berarti sama saja bilang kodrat. Kodrat itu given. Begitu saja terberi. Tanpa diminta. Jika kodrat berarti berlaku universal. Siapapun dan dimanapun, laki-laki sama. Sama-sama tidak setia.

Tetapi faktanya tidak, bukan? Karena saya yakin, banyak laki-laki yang setia. Jadi “dasar laki-laki” atau “dasar buaya” tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada laki-laki. Karena itu bukan kodrat. Jadi, ini tidak berlalu universal.

Jika bukan kodrat, lalu apa? Itu hasil konstruksi kawan. Pembentuknya kenapa seorang laki-laki menjadi tidak setia begitu banyak. Satu ilustrasi bisa saya tulis di sini. Seorang sahabat saya, seiring dengan kesejahteraannya yang makin meningkat mendorongnya untuk mendua dengan perempuan lain. Kabar dan pengakunnya, ia berpoligami. Maklum uang lebih.

Pernikahan dengan istri keduanya membawa duka. Tidak saja bagi istri pertama, tetapi juga anak-anaknya dan saudara-saudaranya. Jika teman saya ini dianggap tidak setia, bukankah pembentuk tidak setianya itu banyak? Bisa jadi ia memang type laki-laki buaya. Tetapi ini belum cukup sebagai pembentuk.

Ia menjadi tidak setia sejak tingkat ekonominya merangkak pesat. Seiring status sosialnya yang naik maka nilai, pola pikir, perilaku dan kebiasannya juga berubah. Lingkungan pergaulannya makin luas. Di saat yang sama, interaksi dan komunikasinya dengan keluarga makin melemah. Jadilah ia kemudian tidak setia. Rumit, bukan?

Saya pikir Anda punya ilustrasi lain yang bisa jadi penguat bahwa tidak setianya laki-laki itu bukan kodrat. Konteks sosio-kultural secara kuat ikut membentuknya. Nah, masihkah tidak setianya laki-laki kita anggap kodrat?

Justru saya menemukan kenyataan lain, meski kebenarannya belum diuji. Perempuan yang digambarkan sebagai makhluk setia saat ini pun mengalami pergeseran. Banyak juga fakta –setidaknya yang saya baca dari lingkungan saya sehari-hari—perempuan yang menjadi subyek, aktif, dan mengambil inisiasi dari peristiwa kesumpekkan dalam keluarga. Dengan bahasa gamblang, yang tidak setia perempuan juga banyak.

Urusan kesetiaan dan tidak bukan urusan jenis kelamin. Misalnya, jenis kelamin tertentu diyakini lebih setia ketimbang yang lain. meski itu ada, tidak bisa dengan sembarangan digeneralisasi apalagi diuniversalisasi.

Tentu, saya tidak sepakat dengan laki-laki dan perempuan yang sudah diikat dalam keluarga menyederai pasangannya. Tidak setia adalah tindakan yang menyakiti. Melukai. Bahkan merusak. Karena bukan kodrat, apapun jenisnya, MARI KITA SETIA.

Matorsakalangkong

Pulau Garam | 7 Pebruari 2012

Tags: kesetiaan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Soul Leadership” ala Risma …

Tamam Malaka | | 02 April 2015 | 11:03

Membaca Lagi Surat Jaya Suprana …

S Aji | | 02 April 2015 | 09:14

Masih Terasa Berat Berasuransi? Bagikan …

Kompasiana | | 19 March 2015 | 18:31

Apa yang Dijual di Kaki Lima Jepang? …

Andi Asdiana Ekasar... | | 02 April 2015 | 09:22

Blog Competition: Peningkatan Peran SDM dan …

Kompasiana | | 26 March 2015 | 16:37


TRENDING ARTICLES

Menteri Yohana dan Jaya Suprana: Mengapa …

Jimmy Haryanto | 4 jam lalu

Panglima TNI Kok Makin Genit dan Lucu Ya? …

Ksatria Nusantara | 6 jam lalu

Apa Pasal Ahok Berani Mati …

Umar Zidans | 9 jam lalu

Ke-Tionghoa-an antara Jaya Suprana dan …

Agustinus Wahyono | 10 jam lalu

Siapa Bakal Presiden RI ke-8? …

Axtea 99 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: