Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

Ibu dan Anak: Sama-sama Durhaka

OPINI | 30 January 2013 | 10:56 Dibaca: 10025   Komentar: 0   0

Menjelang tengah malam, ketika hujan yang menguyur Samarinda dengan tiba-tiba mulai mereda, saya dan teman-teman yang sedang duduk-duduk menikmati kopi di ujung jalan Abul Hasan dikejutkan oleh keributan antara seorang lelaki dengan perempuan yang baru turun dari motor. Awalnya saya kira pasangan itu adalah suami istri, namun setelah sang lelaki membuka helmnya terlihat bahwa dia jauh lebih muda dari sang perempuan.

“Mau kemana ini, malam-malam begini jalan nggak jelas tujuannya”, teriak laki-laki itu.

“Hey, kamu ini nggak tahu sopan santun, sama orang tua kok teriak-teriak. Baik-baik kamu itu sebagai anak, ingat kalau nanti ibumu ini tidak ada lagi”, kata perempuan itu tak menjawab tanya laki-laki yang ternyata adalah anaknya.

Dan ibu serta anak itu terus saling bersahutan tak peduli lagi apa kata orang yang lalu lalang dan kebingungan melihat tingkah dan laku mereka berdua. Saya dan teman-teman hanya berdiam, menunduk dan sesekali mencuri pandang ke arah mereka berdua. Sesungguhnya saya sendiri shock, tak menduga kalau ada ibu dan anak bisa berseteru seperti itu.

“Maaf ya mas”, kata ibu itu yang kemudian ikut duduk lesehan untuk memesan teh hangat.

“Anak saya ini memang kurang ajar, kemarin dia mempermalukan saya juga dengan mengamuk di sebuah pusat perbelanjaan. Bukan hanya berteriak dan ngomel-ngomel tapi memukul saya juga”, ujar ibu itu curhat tanpa diminta.

Lagi-lagi saya dan teman-teman hanya terdiam, mencoba mendengar apa yang dikatakan ibu itu tanpa memberi komentar secuilpun. Kalaupun ada reaksi hanyalah senyum entah senyum apa. Dan mendengar curahan hati ibunya, sang anak yang sudah ada diatas sadel motor hendak berlalu meninggalkan ibunya lesehan gerobak pinggir jalan, kembali memanas.

“Aku itu juga malu, sudah tua masih juga kawin cerai. Menyesal aku ini kalau tahu begini nggak bakal pulang ke Samarinda”, kata sang anak seakan hendak memberitahukan kepada saya dan teman-teman perihal keberatannya pada sang ibu.

Hujan mulai berlalu dan saya beranjak dari lesehan untuk segera pulang ke rumah, takut kalau hujan datang kembali dan terus menerus menghujami bumi tiada henti. Dan benarlah, tak lama sesampai di rumah, hujan kembali tercurah deras, disertai angin dan guntur bersahutan. Hujan dari dini hari hingga pagi itu membuat sebagian Samarinda terendam.

Dan biasa kala hujan deras, saya akan terus terjaga, agar kalau got disamping rumah meluap, limpasan airnya tidak menyerbu masuk ke kamar mandi yang saluran pembuangannya jadi lebih rendah dari permukaan air got.

Sambil terjaga, pikiran saya terus berkecamuk tentang gerang apa yang menimpa relasi ibu dan anak di ujung jalan tadi. Sedalam apa kekecewaan ibu pada anak dan anak pada ibu hingga mereka tak kuasa mempertontonkan ‘perseteruan’ yang tiada pada tempatnya.

Saya tak habis pikir, anak macam apa yang tega meneriaki ibunya di tengah keramaian. Tapi ibu macam apa pula yang membuat anaknya gelap mata, hilang hormat dan sudi menistakan dirinya sendiri. Tanpa disuruhpun saya segera menghakimi anak itu sebagai tak tahu hormat. Namun ketika malam itu sempat menilik wajahnya, bukan maklum atas apa yang dilakukan melainkan saya coba pahami, ada sorot mata kemarahan yang dalam di wajahnya.

Saya yang dididik secara tradisional dan kemudian tidak hidup bersama kedua orang tua setelah tamat SMA, beranggapan bahwa apapun itu, orang tua terutama ibu adalah sosok yang harus dihormati dan tak pantas dikasari. Saya tak pernah punya pengalaman berdebat dengan orang tua ketika menentukan langkah ini atau itu. Dan hampir tak pernah diminta pertimbangan atau pendapat oleh orang tua, kala mereka memutuskan ini dan itu juga. Pengalaman yang mungkin tak banyak dialami oleh orang lain dimana saya bersama orang tua hanya sampai usia remaja.

Maka banyak hal yang berkaitan dengan hubungan orang tua dan anak tidak saya alami serta tentu saja tidak saya mengerti. Sejauh saya tahu dan pahami yang bisa disebut durhaka adalah anak pada orang tuanya. Seperti kisah-kisah yang diceritakan kepada saya saat kecil dulu.

Dan peristiwa malam itu, mau tak mau membuat saya berpikir bahwa orang tuapun bisa berlaku durhakan pada anaknya. Kedurhakaan yang bukan hanya ditemukan dalam peristiwa percekcokkan ibu anak di ujung jalan itu melainkan juga dalam aneka berita yang silih berganti berseliweran di media massa. Banyak kisah durhaka bin durjana yang dilakukan ayah pada anak perempuan misalnya. Bapak yang tega ‘memperkosa’ darah dagingnya sendiri. Atau ibu-ibu yang menelantarkan anaknya, membunuh bayinya karena tak sanggup menanggung malu dan lain sebagainya.

Tiba-tiba saja saya teringat puisi Kahlil Gibran yang mengatakan anak adalah titipan Tuhan, anak bukanlah milik bapak atau ibunya. Sebuah puisi yang mau mengajarkan bahwa orang tuapun harus menghormati anak-anak mereka sebagai pribadi tersendiri, yang punya eksistensi diri, meng-ada dengan caranya sendiri. Anak bukan boneka atau bayang-bayang dari orang tua. Maka jika orang tua tak lagi menghormati anak-anaknya dan demikian sebaliknya, keduanya bisa sama-sama disebut sebagai DURHAKA.

Pondok Batu Lumpang, 30 Januari 2013

@yustinus_eha

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 5 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 5 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 9 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 12 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Tentang Aktivis Mahasiswa …

Ardiabara Ihsan | 8 jam lalu

Mendahului Perubahan …

Ardiabara Ihsan | 9 jam lalu

Emak, Izinkan Aku Ikut Demo …

Fitria Yusrifa | 9 jam lalu

Insiden Heroik 19 September 1945 …

Www.parikanedansuro... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: