Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mengajari Anak Mandiri dan Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

OPINI | 29 January 2013 | 23:43 Dibaca: 975   Komentar: 0   11

Bulan Agustus nanti, suasana lebaran akan memeriahkan tanah air. Fenomena menarik yang bisa dilihat, selain silaturahmi adalah pulangnya para pembantu atau asisten rumah tangga. Ada yang nantinya kembali, banyak yang bablasss, tak tahu rimbanya …

Untuk mendapatkan pembantu di Indonesia tidaklah mudah. Meski banyak agen yang menyediakan calon asisten itu, tetap saja ada rasa khawatir apakah ia/mereka bisa diberi amanah (mengatur rumah, merawat anak, menjaga rumah seisinya dan masih banyak lagi) ataukah yang dipasrahi merasa nyaman dengan pekerjaannya/keluarga yang ditempati.

Suka duka memiliki PRT ini pastinya banyak dirasakan orang Indonesia (dari semua kasta, jabatan, ras dan sebagainya) di nusantara. Ternyata budaya ini tidak begitu populer di Jerman. Kemandirian dan keuletan wanita barat untuk mengatur semuanya, sudah menjadi tradisi.

Lalu bagaimana dengan keturunan saya yang hidup di dua dunia, dua budaya? Saya mengajarkan mereka apa yang pernah saya dapat dari barat dan timur dan mereka menyambutnya dengan suka cita.

***

Anak sulung memang lahir dan lama tinggal di Indonesia. Ia sudah terbiasa dengan kultur bangsa kita yang banyak dibantu oleh pembantu rumah tangga, sopir, baby sitter, the nanny, tukang cuci, tukang kebun atau siapa saja yang biasa dipekerjakan di sebuah keluarga bahkan sanak saudara. Sepertinya ada efek negatif yang menjangkitinya, ia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan apa saja di rumah, meski untuk kamarnya sendiri saat berada di Jerman.

Anak-anak yang lahir dan besar di negara yang amat lekat nilai kemandiriannya, patut bersyukur bahwa mereka tidak melihat kemewahan seperti di tanah air. Tinggal tepuk atau teriak, ada yang datang. Lah kalau di Jerman, tepuk-tepuk juga tetap sepiiii ….

Itulah mengapa, saya senang melihat perkembangan anak-anak dari mulai bisa berdiri sampai mandiri. Bertanggung jawab dan mengerjakan pekerjaannya bahkan membantu mama-papa. Aih-aihh … lucu. Kadang saya menjadi mamarazzi membuntuti mereka dengan kamera dan … cekrek! Abadi momentnya hingga kini.

Yup. Bahwa piring tidak bisa jalan sendiri. Kalau gelas tak bisa terisi sendiri. Atau sampah tidak bisa terbang menuju tongnya. Dan masih banyak lagi hal yang menuntut kemandirian, melakukannya harus sendiri.

***

Sejak tahun 2006 sampai kini, memang semua saya kerjakan sendiri. Tak boleh mengeluh, harus enjoy. Mungkin saja, ini diamati anak-anak dan mereka mulai mengimitasi saya. Kalau saya sudah pegang alat dan semprotan “Mama, saya mau …”. Mereka buru-buru merebut apa yang ada di tangan saya.

Inilah beberapa hal yang dipelajari anak-anak dirumah:

1. Mengelap rumah seisinya

1359475970749134038

Umur dua tahun mengelap dapur

13594761121751114713

Umur enam tahun mengelap dapur

13594760571407756940

Mengelap kaca-kaca …

Di Jerman, mengelap barang-barang dan perabot yang ada di rumah adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Ada banyak semprotan yang digunakan untuk membuatnya bersih. Orang Turki menganjurkan saya untuk menambahkan setetes karbol atau klorida, untuk membunuh kuman. Selain itu, jangan lupa memakai sarung tangan plastik demi melindungi kulit dari iritasi bahan kimia, kata mereka. Bahan lap yang digunakan macam-macam. Ada yang bisa menyerap lalu gampang diperas, ada yang mikrofaser agar debu lengket padanya, ada yang katun agar tak menggores dan lain-lain. Waktu  kecil, saya hanya mengenal sulak alias kemucing dan gombal si lap dari kain bekas.

2. Membersihkan dan mengepel lantai

13594764911400754917

Menyapu lantai dulu

1359476162299305742

Sudah senang mengepel waktu umur setahun

Demi membersihkan lantai, saya menggunakan sapu dan penyedot debu. Alat elektrik selain menimbulkan polusi suara juga boros listrik. Baiknya adalah bisa mengangkat debu, sedangkan sapu hanya mendorongnya untuk berkumpul, sementara kepulan debunya tak tertangkap. Saya menyukai kombinasi keduanya, semoga anak-anak mengerti.

Lantai setiap hari kami pel. Maklum kami berlima ini cepat sekali mengotorkannya. Sehari tidak dipel, wahhhh … buram-buram tak gembira.

3. Menyisir rambut/berhias

13594767492069645073

Sisiran dulu

Saya memang suka berhias. Bisa jadi ini keturunan dari ibunda yang suka berdandan dan memakai kain Jawa dan kebaya kalau ada acara. Selanjutnya, ini jadi hobi anak-anak. Mereka merasa tak nyaman kalau tak ada sesuatu yang nempel di rambut.

Menyisir rambut adalah hal yang biasa dilakukan pada pagi hari. Haduh … anak-anak rambutnya tipis gampang mbundet seperti benang ruwet. Untung mereka tahu bahwa untuk rambut panjang mereka, sisir dimulai dari bawah-tengah lalu atas. Bukan sebaliknya.

Berhias juga bagian dari tradisi Jawa, macak. Semoga menjadi bangsa modern tak menjadikan mereka lupa bahwa ini layak dipelajari apalagi wanita.

4. Ke toilet sendiri

13594768322037686705

Agar tidak kemana-mana, diajari duduk di toilet

Waktu saya kanak-kanak, saya tak pernah pakai pembalut anak atau toilet balita. Pesingnya kemana-mana. Mulai dari kasur sampai lantai rumah orang tua.

Di Jerman, hal yang biasa bahwa balita memakai pembalut anak dan diajari pakai toilet (dengan toilet anak pendek atau toilet dewasa dengan tambahan perangkat untuk si mini).

Mengajari anak-anak untuk BAB dan BAK sendiri awalnya susah meski akhirnya menyenangkan dan … berhasil !

5. Membuat kue

13594771851418273234

Membuat kue Zwetsgen

13594776281163068212

Membuat kue natal, plätzchen

13594777051739489550

Membuat Muffin

Ketrampilan membuat kue menjadi hal wajib yang harus dikuasai. Selain bangsa Jerman memiliki tradisi minum kopi disambi camilan kue/kek pada sore hari, membuat kue sendiri toh lebih murah dan sehat/terjamin.

Yang tidak menyenangkan memang merapikan dapur, setelahnya!

6. Menyetrika

13594772531254928349

Setrika tanpa listrik

Untuk meminta bantuan seseorang menyetrikakan baju, biasa dikenai 10 euro sejam. Bahkan ada seorang kenalan yang mengatakan ia menyetrika 5 hem panjang dan mendapat upah 20 euro.

Saya biasa menyetrika pagi hari ketika anak-anak belum bangun, kadang ketika anak berada disekolah. Setidaknya satu jam sehari, kalau tidak … seminggu bisa menumpuk jadi gunung mau mbledos alias meletus. Saat menyetrika, anak-anak ikut-ikutan dengan perangkat mereka, tanpa listrik. Gayanyaaa ….

7. Makan/minum sendiri

13594773151971069269

Kalau makan jangan lari-lari

Waktu kecil, saya biasa didulang makan oleh ibu, nenek atau saudara. Sembari makan, bisa main, lari sana-lari sini. Yang memberi makan mengikuti.

Begitu pula ketika memiliki anak kecil yang dirawat pembantu. Cara mendulangnya juga sama. Digendong selendang Jawa, kalau sudah bisa jalan, kadang diturunkan lalu didulang sambil lari-lari kesana-kemari.

Ternyata budaya Jerman lain. Mereka mengenal sebuah kursi anak yang disebut Kinderstuhl. Kursi dengan meja itu biasa dimiliki tiap keluarga. Bisa terbuat dari plastik atau kayu. Anak bisa memakan dan meminum sendiri. Meski diecer-ecer tak karuan, katanya biar anak mandiri. Atau ketika didulang biar tidak lari-lari, begitu kata ibu-ibu Jerman.

Saya yakin budaya disiplin makan ditempat ini (dengan kursi khusus) sudah mulai merambah ke tanah air, tak ubahnya kereta dorong anak.

8. Memasak

1359477374500263105

Memasak saus Bolognese bersama ibu

1359477419633511222

Masak pizza sama ayah

Suami saya memang gemar memasak. Selain saya, iapun juga mengikutsertakan anak-anak untuk memasak bersama. Aduh, senangnya. Masakan dengan bumbu cinta.

Apalagi saya mendidik mereka untuk makan dirumah bersama-sama, tak harus di resto atau tempat tetangga.

Oh, ya. Masakan yang kami hidangkan pada mereka tak hanya ala barat tapi juga timur. Lihatlah mereka sudah mahir melipat kulit lumpia, menggoreng krupuk atau nasi. Begitu pula saat mereka membuat masakan Eropa lainnya.

Waktu kecil, ayah saya selalu mendengungkan kalimat “wanita itu kanca wingking”. Nyatanya di Jerman lain, laki atau perempuan sama saja, boleh di dapur. Kalau mau pasti bisa. Memasak, menjadi satu talenta yang sebaiknya dimiliki perempuan dari negeri manapun. Ternyata memasak itu menyenangkan, lho, nak.

9. Merapikan peralatan makan dan minum

1359477483729509734

Merapikan alat makan

Jerman memiliki banyak mesin untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Salah satunya adalah mesin cuci piring. Setelah memasukkan alat makan dan minum yang kotor kedalamnya hingga penuh, baru dipencet.

Setelah usai dalam waktu 2 jaman menghabiskan 7 liter air, anak-anak biasa ditugasi untuk mengeluarkan dan meletakkan di tempatnya.

Dahulu ini menjadi sebuah hukuman bagi si sulung, senangnya bahwa ini dinikmati anak-anak perempuan yang justru berebutan memasukkan piring/gelas plastik dan garpu/sendok.

Dan masih banyak lagi ….

***

Arghhh … semoga saja, mereka benar-benar siap kala tiba waktunya nanti. Mereka tak boleh iri pada kehidupan di tanah air karena meski kemandirian itu memang melelahkan tetapi membawa manfaat dan hikmah tersendiri. Teruskan, anak-anak … mama bangga pada kalian. (G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 9 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 11 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 13 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 15 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: