Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Juanalinsky Elbanna

Mahasiswa Islamic University of Medina KSA

Banjir, Datanglah ke Kotaku!

OPINI | 28 January 2013 | 03:10 Dibaca: 106   Komentar: 0   0

Mengapa harus tunggu bencana

Tentara datang untuk kemanusiaan

Mengapa nggak setiap hari

Berbuat seperti ini.

Ujian musiman bagi sebagian penduduk negeri ini, terkhusus warga ibukota –Jakarta- dan sekitarnya yang akhir-akhir ini marak diberitakan akan keganasan dan keangkuhan tamu ini dengan rutin menyapa pergantian tahun baru warga ibukota. Menghempaskan segala yang merintangi jalannya, menghanyutkan seluruh yang tuna berenang, serta merendam sebagian besar simbol keangkuhan kota metropolitan –bangunan tinggi pencakar langit yang jangkung menjulang- .

Ya, inilah banjir bandang yang hampir bisa diprediksi kapan datang dan kapan berakhir tapi selalu sukses membuat warganya bahkan pejabat pusing tujuh  keliling, kalau mau dihadang dengan penampung (waduk), Jakarta tidak kenal kamus waduk alias tidak memungkinkan untuk digelar waduk, kalau mau dialirkan menurut sifat asli air (dari hulu ke hilir), sungai kita sedang dibuat TPA(tempat pembuangan akhir) dengan kontrak waktu tidak terbatas.

Ya, itulah fenomena yang terjadi hampir setiap tahunnya terjadi di ibukota kita tercinta, tempat bergulirnya arus perekonomian Negara, poros percaturan politik negeri, tempat wakil-wakil kita berkumpul menyelesaikan PR Negara dll, setiap tahunnya terancam ambruk, hanyut, dipindah, dll. Agak ironis memang melihat bencana yang satu ini, semoga dengan kejadian tahun ini bisa lebih menyadarkan kita sebagai warga Indonesia umumnya dan warga yang sedang diuji dengan bencana ini khususnya agar supaya lebih peka terhadap sebab-sebab yang dapat mengundang tamu tahunan ini untuk datang ke kota kita yang kesekian kalinya. Agar tidak ada lagi nantinya yang dirugikan akibat banjir ini berbagai kerugian infrastruktur, materi, tenaga, dll.

Saya sendiri agak heran dengan kinerja para pemimpin kita yang terkesan bergerak terlambat atau bak pahlawan kesiangan dalam menyikapi bencana ini, mereka baru kelihatan berkerja setelah banjir datang, padahal kita semua tahu pribahasa yang mengatakan, “mencegah lebih baik dari pada mengobati” so, mencegah akan datangnya banjir lebih baik dan lebih efisien dari pada menyelesaikan masalah banjir disaat banjir sudah menyapa. Tapi memang kita tidak serta merta membebankan masalah yang sudah seakan menjadi budaya untuk sebagian kota kepada para pejabat pemerintahan, tentu peran kita sebagai penduduk kota serta masyarakat juga sama pentingnya, dimulai dari kesadaran kita akan pentingnya kebersihan dan kedisplinan serta kerapian yang seharusnya menjadi budaya kita, sehingga budaya banjir dapat terselesaikan dengan kesinambungan kita dalam membudayakan kebersihan ditengah masyarakat. Sehingga tidak terkesan kita bermotto: “Banjir Datanglah ke Kota-ku…!”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Food Truck - Konsep Warung Berjalan yang Tak …

Casmogo | | 23 April 2014 | 01:00

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 4 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 6 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: