Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Duta Naufal

Pahlawan devisa ah bukan budak devisa

Cerita TKI Taiwan: Kalo Aku Pulang Bawa Hutang Pasti di Bunuh Ayahku

REP | 26 January 2013 | 17:36 Dibaca: 3972   Komentar: 0   3

Sebelum dia dijemput agensinya, dia memelukku erat sambil menangis, seakan tidak mau melepaskan, sambil berbisik “Tolong aku Mas, kalau aku pulang bawa hutang pasti dibunuh bapakku”.  Akupun ikut menangis merasakan perasaan seperti pahlawan yang kalah perang.

Lalu kubisikkan

“Kalo ada kesempatan, berusahalah melarikan diri”

Ini bukan cerita fiksi, namun cerita nyata dari Taiwan, yang entah pikiran apa yang merasukiku sehingga seorang sarjana teknik khok mau-maunya memilih jalan menjadi TKI.

Aku baru kerja belum genap dua bulan di Taichung, sebuah propinsi di Taiwan.  Harapan kerja ke sini bisa membayar hutang-hutangku dan mempersiapkan biaya kuliah anak pertamaku.  Namun bukan uang seperti yang dijanjikan agen, malah hutang baru yang kami dapatkan.Umurku paling tua di sini dan pendidikanku paling tinggi, sehingga walaupun baru datang sudah dianggap senior.  Mungkin detil ceritanya di artikel berikutnya.

Warsun, bukan nama sebenarnya, berasal dari Jawa Tengah baru kerja di Taiwan 5 bulan, dan berdasar medikal chek up sebelumnya dinyatakan sehat. Dia tidak pernah keluar dari pabrik, namun hasil test seminggu lalu dia dinyatakan mengidap TBC sehingga harus dipulangkan ke Indonesia.

Dia menangis merasa tidak adil, tidak mendapat perlindungan dan hak-haknya tidak dipenuhi.  Gaji kerja setengah bulan dan lembur tidak diberikan.  Tabungan di Chinatrust yang dia bayar dari gajinya tiap bulan juga tidak bisa di ambil.  Tiket pesawat ke Indonesia disuruh beli sendiri.  Kata agensi dan pemilik pabrik,  uang dia untuk bayar chinatrust, padahal kalo pekerja dipulangkan harusnya dapat uang saku dan hutang penempatan dichinatrust diputihkan.  Uang yg masuk ke PJTKI sebesar Rp 20.000.000,-  harusnya dikembalikan separo. Namun kenyataannya sama  PT  hanya  dikembalikan 3 juta rupiah.

Akhirnya dia dijemput agensinya akan dikembalikan ke Indonesia sambil menatapmu seakan memohon kekuatan. Malamnya jam 24.00 saya mendapat kabar dari telpon kalau anaknya kabur dari kantor agensi loncat dari lantai empat.  Dia memilih kabur menjadi tenaga kerja kaburan (illegal)  dengan gaji 3 kali lipat dari tenaga kerja resmi, dia tidak memikirkan kesehatannya lagi,yang dia pikirkan bisa bayar utang -utangnya di Indonesia dan bisa membuat bangga kedua orangtuanya.

Sungguh miris nasib kami di Negara orang hanya menjadi sapi perah para agen, tanpa ada perlindungan yang memadai dari pemerintah. Di mana perlidungan pemerintah Indonesia terhadap warganya, di mana BNP2TKI yang katanya siap memberantas PPTKIS nakal,di mana LSM Buruh Migran, kami butuh perlindungan.  Kami bekerja di sini seperti budak.  Teman-teman kami menjadi buron. Siapa yang peduli.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 15 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 16 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 16 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: