Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Arti 8 Tahun Pernikahan Kita

OPINI | 19 January 2013 | 01:03 Dibaca: 317   Komentar: 0   0

Saat ini, kau tertidur lelap. Engkau damai, bahagia dan berbunga-bunga. Saat mata sulit terpejam, wajahmu menyemburatkan rona kecantikan. Kecantikan yang mempesona yang memancar dari jiwa yang penuh dengan rasa cinta. Namun sayang, kantukmu mengalahkan jiwamu untuk bergerak, untuk mengadu malam yang penuh dengan kemesraan.

Kutatap wajahmu dalam-dalam. Ku temukan arti sebuah cinta dan pengorbanan. Demi cinta, atas nama cinta dan karena cinta pula, engkau serahkan seluruh jiwa ragamu kepadaku. Hari ini, adalah hari yang istimewa buat kita. Tanggal 19 Januari  adalah hari pernikahan kita, di tahun 2005. Tepat satu tahun kemudian, 19 Januari 2006, lahir anak pertama kita, Amatulla Hayfa Dzatulivva. Lengkap sudah kebahagiaan kita.

Terima kasih ku ucapkan, wahai istriku. 8 tahun kebersamaan ini, sudah kita lalui. Esok hari, adalah hari pertama di tahun yang ke-9 pernikahan kita. Dengan penuh harap, seraya berdoa, semoga Allah SWT selalu meridhoi kita, memberikan kemudahan menuju gerbang keluarga sakinah, mawadah warrohmah. Sebuah keluarga yang penuh dengan kebahagiaan, cinta dan kasih sayang.

Maafkan aku, wahai istriku. Kalau selama ini belum bisa membahagiakanmu, belum bisa menyempurnakan kewajibanku sebagai suami dan ayah, belum bisa menjadi contoh dan tauladan bagi keluarga. Sungguh, kelemahanku adalah memahami kelembutanmu. Engkau yang membisu, membuat aku jadi kelu.

Suka dan duka adalah cerita keseharian kita. Cerita yang akan menjadi sejarah, buat anak cucu kita. Betapa kita memilih jalur hidup yang penuh dengan resiko, yang bukan pilihan orang kebanyakan. Ya, kita sepakat, menapaki jalan sebagai wirausahawan. Ini adalah sebuah jalan yang penuh dengan misteri, teka-teki bahkan banyak orang yang menghindari. Kita sudah sampai di pertengahan, sayang. Sudah banyak pengorbanan yang kita lakukan. Keping-keping maze itu, satu demi satu telah berhasil kita rangkaikan. Cuma ada satu keping inti yang belum kita temui, itulah keping kesuksesan.

Semakin jauh kita melangkah, ternyata semakin dalam jurang yang ada. Bahkan kita pernah terperosok ke dalamnya. Dengan kerja keras dan kesungguhan, ternyat kita bisa. Bisa keluar dari jebakan jurang yang dalam. Namun justru, kita lengah. Tatkala jalan datar dan mulus, kita kurang bersyukur. Sehingga kita masuk dalam perangkap saling menyalahkan,  memakan diri sendiri, dan saling berlomba ingin menjadi juru selamat. Hasilnya? Tidak berhasil. Engkau mengira aku diam saja,  engkau telah masuk terlalu jauh ke dalam jona lelaki, dan engkau capai sendiri, namun tiada yang memberi arti.  Pantasnya engkau bergelar “superwomen”. Namun sayang “superwomen”nya sedang ke kamar mandi dulu, buang softex. Hihi..

Firman Allah SWT,Kaum laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangga (QS. Annisa ayat 34),  “Taatlah kamu kepada Allah, kepada Rosul dan kepada pemimpinmu  (QS. Annisa ayat 59), Istri ibarat pakaian bagi suami dan suami ibarat pakaian juga bagi istri (QS. Albaqarah : 187), . Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka garaplah ladangmu sesuai kemauanmu (QS. Albaqarah : 223. Inilah diantara Firman-firman Allah SWT,  tentang hak dan kewajiban antara suami-istri. Tentu engkau sangat faham, tentang pemahaman dari semua ini. Untuk itulah, maka marilah kita jadikan rujukan kedamaian dalam keluarga kita.

Ya Allah, satukanlah kami. Seperti halnya Nabi Adam dan Siti Hawa

Sebagaimana pula, engkau menguatkan hubungan antara Nabi Musa dan Nabi Harus

Sebagaimana Engkau melanggengkan hubungan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khodijah

Ya Qowiyyu, Ya Matiin. Wahai Dzat yang Maha Kuat dan Maha Teguh, kuatkanlah hubungan kami sampai ajal menjemput kami. Ya Dzaljalali Wal Ikram, Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Murah, jadikanlah hubungan kami membawa arti bagi dunia ini, sebagaimana pohon pisang yang tidak akan mati sebelum berbuah dan melestarikan generasi.

Akhirnya, dengan penuh kepasrahan dan penyerahan diri, semoga kita bisa menapaki tahun yang ke-9 pernikahan kita ini. Hapuslah segala marah dan rasa benci. Tersenyumlah, niscaya dunia penuh dengan keindahan. Esok hari, mentari bersinar lagi. Memaafkan adalah kata yang mudah diucapkan, namun sulit diimplementasikan. Tapi percayah, cinta suci adalah tanpa syarat dan bersifat take and give. Walau esok hari tanpa hadiah, tapi percayalah, bahwa hadiah akan selalu ku berikan setiap hari. Setiap hari adalah moment istimewa, ketika dilewati bersamamu. Senyum tulusmu,  rasa saling percaya, dan saling memaafkan adalah hadiah terindah untukku.

Untukmu tersayang;

Utin Supartini

Amatullah Hayfa Dzatulivva

Athaulla Elfasha Ghiyyatsvattan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 8 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 10 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 12 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: