Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Syamsun Nahri

Selagi masih ada waktu, maka lakukanlah hal yang terbaik dalam hidup ini.

Nikah Siri

OPINI | 17 January 2013 | 18:34 Dibaca: 995   Komentar: 0   0

Pengakuan publik serta pencatatan sah perkawinan turut mengamankan penyelewengan terhadap hak istri di kemudian hari. Kalau tak ada data akurat, dari waktu ke waktu fenomena Nikah Siri atau nikah yang dirahasiakan menunjukkan gejala peningkatan cukup berarti. Ditandai dengan banyaknya anak tak berayah, padahal kedua orangtuanya menikah sah secara agama, serta kasus para mahasiswa yang menikah muda namun enggan diketahui identitas pernikahannya.

Alasan Nikah Siri memang tidaklah selalu sama, namun motif utama terwujudnya Nikah Siri tetaplah satu, yaitu menyamar kan atau merahasiakan status perkawinan. Pada kasus pasangan beda negara, dimana suami Warga Negara  Asing (WNA) sedang istri Warga Negara Indonesia asli, misalnya acap kali Nikah Siri dilakukan lantaran mudah dilaksanakan. Administrasi pencatatan perkawinan seringkali dituding sebagai alasan yang cukup rumit untuk terwujudnya sebuah pernikahan.

Namun, yang paling banyak terjadi, Nikah Siri bermakna dengan ketiadaan saksi dan wali sekaligus tidak dicatat pula pernikahannya. Bahkan, inilah yang kemudian paling banyak memunculkan persoalan di kemudian hari. Selain tidak adanya bukti pernikahan, tiada pula saksi yang bisa membuktikan terjadi pernikahan tersebut.

Sebuah pernikahan, di mana pun dan kapan pun, tidak akan pernah melupakan tiga hal, di antaranya :

1. Walimatul urs

Apa pun namanya, bagi sepasang insan yang hendak diikat dalam tali perkawinan, momentum perhelatan pernikahan merupakan langkah awal yang harus mereka lalui. Momen tersebut tidak sekedar ungkapan rasa syukur atas bersatu nya kedua mempelai. Lebih dari itu, status sosial baru sebagai suami istri yang mereka sandang kelak, dapat diketahui khalayak ramai.

2. Wali dan Saksi Nikah

Tindakan pencegahan untuk melindungi kedua mempelai lainnya adalah menghadirkan seorang wali dan dua orang saksi. Adanya wali dan saksi akan menjadi patokan atas sah atau tidaknya sebuah pernikahan. Sebagaimana Hadist yang berbunyi : Tidak ada nikah keculai dengan wali dan dua saksi yang adil (HR. Daruquthni, dari Aisyah ra). Walaupun terjadi silang pendapat dalam hal ini. Imam malik menolak ketiadaan saksi dan wali, sementara Imam Syafi’i dan Abu Hanifah menyatakan perkawinan tersebut sah walaupun memakruhkannya. Kebolehan tidak menghadirkan saksi dan wali menurut Abu Hanifah, hanya diperuntukkan bagi janda, sementara untuk perawan tetap harus ada saksi dan wali.

3. Pencatatan Perkawinan

Khususnya di Indonesia aturan perkawinan mewajibkan untuk mencatat nya ke KUA atau Kantor Urusan Agama. Dengan maksud agar kedua pasangan ini mendapat payung hukum jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Karena apabila dalam mengarungi kehidupan berumah tangga terdapat persoalan, mereka mendapat bantuan dari hukum yang berlaku.

Karena itulah hukum positif Indonesia tidak mengakui Nikah Siri dan perkawinan diakui secara hukum jika tercatat oleh petugas yang ditunjuk, yakni oleh Petugas Pencatatan Nikah (PPN) atau Penghulu. Nikah Siri mengandung risiko yang besar dan sangat merugikan, terutama bagi pihak perempuan yang tidak dapat berbuat apa-apa ketika terjadi perselisihan dalam biduk rumah tangga.

Bagaimanapun, nikah sah secara Agama dan Negara merupakan pilihan yang paling aman yang harus dilakukan setiap pasangan yang akan menikah. Selain tidak akan hilang hak-hak masing-masing, jika seandainya terjadi perceraian, baik cerai mati mau pun hidup dengan talak, khulu’ dan semacamnya. Status anak yang dilahirkan pun akan menjadi jelas siapa orangtuanya. Kejelasan status pernikahan sekaligus akan menangkal pula terjadinya hubungan seks di luar nikah dengan dalil Nikah Siri. Sehingga tak perlu lagi ada istilah lelaki dan perempuan peliharaan.

Demikian tulisan dari Syamsun Nahri tentang Nikah Siri yang bersumber dari berbagai sumber dan dijadikan sebuah kesimpulan, semoga bisa memberikan pencerahan bagi anda yang ingin melakukan pernikahan. (sumber : klik di sini)

Tags: nikah siri

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: