Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

Menolong Orang Kecelakaan, Malah Babak Belur

OPINI | 15 January 2013 | 17:12 Dibaca: 555   Komentar: 0   4

1361936887950862584

Beberapa waktu berselang, saya mendapat penuturan dari seorang sahabat tentang suatu kejadian yang membuat saya merenung. Sahabat saya bercerita tentang kenalannya yang sedang berkendara dan melihat orang yang sedang terkapar di jalan karena kecelakaan. Kemungkinan orang ini adalah korban tabrak lari, karena tak nampak kendaraan lain yang berhenti di situ. Naluri kemanusiaan mendorongnya untuk menghentikan kendaraannya dan segera menolong korban yang nampak kesakitan itu. Baru saja dia menghampiri korban, segera berkerumun orang-orang dengan wajah garang yang menudingnya sebagai penabrak. Penjelasan bahwa dia bukan penabrak dan ingin menolong, tak digubris oleh orang-orang itu. Tanpa ba-bi-bu, segala bogem mentah mendarat di wajah dan tubuhnya. Akhirnya, seperti pepatah Jawa ’nulung malah kepentung’, dirinya harus diopname di rumah sakit karena luka-luka dikeroyok massa.

Kejadian ini mengingatkan saya pada sebuah parabel orang Samaria yang pemurah (The good Samaritan). Dikisahkan seorang musafir yang sedang berjalan dari Jerusalem ke Jericho dan di tengah jalan dihadang penyamun yang melucuti semua hartanya, pakaiannya, bahkan menganiayanya dan meninggalkannya sekarat di jalan. Tak lama kemudian lewatlah seorang imam, namun dengan pura-pura tak melihat korban, dia berjalan terus dari sisi jalan yang berseberangan. Demikian pula ada orang Levi (yang sesuku dengan korban) datang ke situ, melihat korban yang menderita, namun terus melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan dari sisi yang berseberangan.

Kemudian datanglah seorang Samaria, melihat korban tergeletak tak berdaya. Hati nuraninya tergerak, dia membalut luka-luka dan mengolesinya dengan minyak-minyakan dan anggur. Korban diangkutnya ke atas keledainya, dibawanya ke sebuah penginapan dan dirawatnya di sana. Keesokan harinya, sebelum meninggalkan penginapan, dia menitipkan sejumlah uang kepada pemilik losmen untuk beaya pengobatan si korban. Orang Samaria ini juga berpesan berapa pun beaya yang dikeluarkan, akan digantinya apabila kelak dia datang kembali ke penginapan ini.

Nama Good Samaritan banyak dipakai untuk institusi rumah sakit dan organisasi kedermawanan (charity organization) di dunia. Dua kisah ini seperti sebuah ironi yang menyedihkan. Kenalan sahabat saya ini, mungkin ingin meniru teladan dari kemurahan hati orang Samaria ini. Dia ingin menolong korban kecelakaan dan membawanya ke rumah sakit. Namun skenario di negeri ini ternyata punya jalan cerita sendiri. Orang yang menolong korban tabrakan otomatis diasumsikan sebagai sang penabrak. Dan sebagai pertanggung jawaban, orang ini harus dihakimi massa.

Ini sebuah renungan yang merogoh hati nurani saya (soul searching). Mengapa penghakiman massa masih selalu terjadi, apalagi justru terjadi pada orang yang tak berdosa yang dengan tulus ingin mengulurkan tangan pada korban kecelakaan. What is wrong with my country? Tak ada jawaban yang membisik ke telingaku.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 3 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 5 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 6 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: