Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Anxo

im just ordinary person

Farhat Vs Ahok

OPINI | 13 January 2013 | 13:39 Dibaca: 1006   Komentar: 0   1

Sekarang ini sedang marak beredar berita tentang Ahok dan Farhat Abbas, dimana berita-berita tersebut menunjuk seorang pengacara handal menjelek-jelekan bahkan menghina seorang wakil gubernur DKI Jakarta. Bahkan Farhat tidak malu-malu mengumbarkan penghinaannya tersebut secara umum melalui social media.

Sebenarnya saya malas mengikuti berita itu karena buat saya itu tidak penting. Tapi ada rasa penasaran yang menggelitik relung hati saya, seperti apa sih si pengacara ini mengumbarkannya. Bahkan beberapa waktu yang lalu, tidak hanya pengacara, bahkan seorang tokoh yang dicalonkan jadi presiden mendatang pun pernah melakukan hal yang sama dalam dakwahnya (red: menghina dan menjelek-jelekkan). Rasa penasaran saya membuat saya mencari berita bahkan membaca timeline akun twitter si pengacara. Karena dalam akunnya si pengacara terang-terang menunjukkan ketidaksukaannya kepada wagub tersebut.

Sungguh sangat tidak layak dan pantas seorang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai kredibilitas sebagai pengacara handal mengumbarkannya seperti itu. Bahkan sampai memprovokasi para followersnya. Tidak sedikit juga orang-orang yang akhirnya mem-follow si pengacara ini hanya untuk menyerang balik karena ketidaksukaannya bukan hanya pada satu orang tapi suatu golongan (red: etnis). Dari tweetsnya si pengacara terlihat jelas bahwa dia adalah seorang yang rasis. Hingga saya berpikir, ada apa dengan Farhat dan Cina? Apakah dia mempunyai kekecewaan yang begitu besar terhadap seseorang yang berketurunan Tionghoa hingga sangat membekas di hatinya dan menjadi suatu kebencian yang teramat sangat?

Orang seperti Farhat ini pasti ada di lingkungan kita sehari-hari. Tapi mereka cukup bijak untuk tidak membawanya ke publik. Saya sebenarnya kasian sama Farhat. Orang yang berpendidikan tinggi tapi mempunyai akhlak yang sangat rendah. Lebih kasian lagi keluarganya, terutama anak-anaknya. Secara tidak langsung dia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak bertoleransi terhadap sesuatu yang menurutnya tidak sesuai atau tidak suka dengan keinginannya. Padahal Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Banyak suku bangsa, bahasa, agama di negeri tercinta kita ini. Sudah seharusnya kita saling bertoleransi terhadap apa pun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 6 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: