Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Anxo

im just ordinary person

Farhat Vs Ahok

OPINI | 13 January 2013 | 13:39 Dibaca: 1007   Komentar: 0   1

Sekarang ini sedang marak beredar berita tentang Ahok dan Farhat Abbas, dimana berita-berita tersebut menunjuk seorang pengacara handal menjelek-jelekan bahkan menghina seorang wakil gubernur DKI Jakarta. Bahkan Farhat tidak malu-malu mengumbarkan penghinaannya tersebut secara umum melalui social media.

Sebenarnya saya malas mengikuti berita itu karena buat saya itu tidak penting. Tapi ada rasa penasaran yang menggelitik relung hati saya, seperti apa sih si pengacara ini mengumbarkannya. Bahkan beberapa waktu yang lalu, tidak hanya pengacara, bahkan seorang tokoh yang dicalonkan jadi presiden mendatang pun pernah melakukan hal yang sama dalam dakwahnya (red: menghina dan menjelek-jelekkan). Rasa penasaran saya membuat saya mencari berita bahkan membaca timeline akun twitter si pengacara. Karena dalam akunnya si pengacara terang-terang menunjukkan ketidaksukaannya kepada wagub tersebut.

Sungguh sangat tidak layak dan pantas seorang yang berpendidikan tinggi dan mempunyai kredibilitas sebagai pengacara handal mengumbarkannya seperti itu. Bahkan sampai memprovokasi para followersnya. Tidak sedikit juga orang-orang yang akhirnya mem-follow si pengacara ini hanya untuk menyerang balik karena ketidaksukaannya bukan hanya pada satu orang tapi suatu golongan (red: etnis). Dari tweetsnya si pengacara terlihat jelas bahwa dia adalah seorang yang rasis. Hingga saya berpikir, ada apa dengan Farhat dan Cina? Apakah dia mempunyai kekecewaan yang begitu besar terhadap seseorang yang berketurunan Tionghoa hingga sangat membekas di hatinya dan menjadi suatu kebencian yang teramat sangat?

Orang seperti Farhat ini pasti ada di lingkungan kita sehari-hari. Tapi mereka cukup bijak untuk tidak membawanya ke publik. Saya sebenarnya kasian sama Farhat. Orang yang berpendidikan tinggi tapi mempunyai akhlak yang sangat rendah. Lebih kasian lagi keluarganya, terutama anak-anaknya. Secara tidak langsung dia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak bertoleransi terhadap sesuatu yang menurutnya tidak sesuai atau tidak suka dengan keinginannya. Padahal Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Banyak suku bangsa, bahasa, agama di negeri tercinta kita ini. Sudah seharusnya kita saling bertoleransi terhadap apa pun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 6 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 11 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 12 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 14 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengaruh Millieu Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Aku Pelari, Maka Aku Trendi …

Vita Sophia Dini | 8 jam lalu

Akankah El Clasico Ke 230 Menggenapkan …

Nino Histiraludin | 8 jam lalu

Kerja Perdana: Jadi Perawat Klinik di Banda …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Intip Buku Kedua, Minggu, 26 Oktober 2014 …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: