Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Popy Indriana

Orang memanggil saya dgn byk sebutan : Popeye,Popay,Poyi,Poy,Pay dan tentu saja Popy . Apalah arti selengkapnya

Mengapa Saya Berhijab?

OPINI | 08 January 2013 | 18:17 Dibaca: 887   Komentar: 23   2

Inilah tulisan pertama saya di tahun 2013. Mengapa ingin menuliskan ini, karena memutuskan berhijab adalah keputusan terbesar yang saya ambil di tahun 2012 lalu.

Awal memakainya, respon yang saya terima beragam. Tidak semuanya bagus. Ada satu yang justru frontal, sedikit menyerang dengan sebuah pertanyaan, apakah saya berhijab karena mengikuti trend?

Di Indonesia saat ini memang sedang muncul komunitas baru yang menyebut diri mereka Hijaber’s Community. Mereka menjadikan gaya berkerudung terlihat lebih stylish. Kalau boleh jujur bisa dikatakan beberapa ada yang sedikit keluar dari pakem. Bahkan beberapa brand, melabelkan istilah street style.

Memang berkerudung yang sempurna itu tidak hanya sekedar menutup tapi seharusnya juga sesuai kaidah syar’i. Arti syar’i tentu saja tidak menunjukkan lekukan tubuh kita. Bagi saya pribadi, justru para hijaber ini bisa disebut sebagai “The Cracker”. Mereka berhasil mengubah wajah industri fashion Indonesia dan turut meramaikan panggungnya.

Dan ini sangat merepresentasikan Indonesia yang memang mayoritas beragama Islam. Tentu saja busana muslim menjadi hal yang sangat melekat dengan identitas kita sebagai seorang muslim. Visi mereka menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia di tahun 2020 adalah sebuah keniscayaan.

Saya sendiri tidak ingin menghakimi siapa-siapa.  Setuju dengan tweet @fifialvianto . “Like it or not, hijab is personal. Between one person and God. No one can judge which one is better or best or worse”.

Alasan seseorang memutuskan memakai hijab juga sangat personal. Innamal A’malu bin Niyat.  Segala sesuatu tergantung dari niat. Dan niat ini tidak bisa dibaca dan diketahui oleh orang lain. Hanya kita sendiri dan Allah yang Maha Mengetahui saja yang mampu membacanya.

Anda berhijab karena ingin menunjukkan identitas diri sebagai muslim sejati, itu bagus. Berhijab karena sekarang pilihan berkerudung menjadi lebih banyak dan justru lebih menarik, itu juga ok. Niat itu kan juga nantinya akan dipertanggungjawabkan oleh masing -masing diri kita sendiri. Jadi kenapa musti worrying dan judgemental, itu yang saya katakan kepada teman saya.

Tidak perlu risau dengan alasan saya. Saya sendiri yang nanti akan mempertanggungjawabkannya. Toh kalau saya jadi terlihat makin cantik apa itu masalah buat elo…hahahaha (alay banget)

Saya pribadi punya alasan yang berbeda. Saya berhijab selain karena wajib dan memang jujur saya akui, baru mampu menuntaskan kewajiban ini sejak Ramadhan tahun kemarin. Tapi ada hal lain lagi diluar soal kewajiban ini.

Jika hanya sekedar wajib, maka selesai sudah tulisan ini ,tidak perlu diperpanjang lagi. Masalahnya kenapa yang wajib ini ternyata juga banyak yang belum melakukan dan menyempurnakannya. Masing-masing perempuan punya argumen yang berbeda.

Saya justru saat itu mencoba menggunakan logika terbalik. Ya, alasan yang sering saya gunakan ketika ditanya mengapa belum berhijab adalah, buat apa menutup dengan hijab jika hati kita belum berhijab. Hati itu kan orbit yang menggerakkan. Kalau orbitnya saja masih banyak celanya, hijab hanya akan sekedar  sebagai penutup saja. Tidak punya makna apa -apa.

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah tausiyah yang menyarankan mengapa kita tidak mencoba berhijab dulu, hati yang nanti akan mengikuti menjadi terhijab.

Ini yang saya artikan dengan logika terbalik. Tidak ada salahnya menggunakan logika terbalik ini untuk menemukan jawaban yang kita inginkan. Sampai disini saya perlu berhenti sejenak. Mengingat kembali perenungan saya dulu :)

Saya akui memang ketika kita berhijab saya merasakan ada semacam sensor yang kasat mata. Sensor ini seperti memberikan alarm untuk segala tindak tanduk kita. Setidaknya hijab menjadi sebuah motivasi saya untuk terus menggali dan belajar memahami keyakinan ini.

Well, ketika berdiskusi dan atau menjawab pertanyaan teman , saya juga tidak tahu darimana saya bisa menjelaskan  dengan lebih baik dan lebih diplomatis. Ini menurut saya pribadi , untuk ukuran saya sendiri loh. Jangan dibandingkan dengan Mamah Dedeh hehehe.

Hal lainnya adalah ketidaknyamanan yang selama ini saya rasakan terutama saat harus melaksanakan sholat di masjid sudah tidak lagi saya rasakan. Tidak ada lagi perasaan rikuh dan kikuk. Kebetulan pekerjaan saya tipikal on site, tidak sekedar berada di belakang meja. Jadi kegiatan sholat kadangkala harus dilakukan di masjid-masjid yang saya temui di jalan.

Entahlah yang jelas dulu sebelum berhijab, ketika memasuki masjid, saya merasakan seperti banyak tatapan mata tertuju ke saya.  Mungkin ini hanya perasaan saya saja. Tapi ini mungkin yang tadi saya bilang muncul perasaan rikuh dan kikuk. Jadi seolah-olah, banyak mata yang mengawasi.

Alasan lain yang sering saya dengar tentang mengapa belum berhijab adalah soal hidayah yang belum diterima. Menurut saya pribadi, hidayah itu bukan sesuatu yang ditunggu karena diberikan. Kita sendiri yang harus mengusahakannya. Kita sendiri yang harus mencari hidayah itu sendiri.

Ini saja mungkin pengalaman yang bisa saya bagi. Yang jelas setiap orang punya alasan yang berbeda. Saya sekedar berbagi yang saya alami dan rasakan sendiri. Mohon maaf jika tidak menemukan alasan yang sangat fenomenal dan religius. Saya memang hanya bisa menuliskan dengan bahasa yang sederhana dan ngepop seperti nama saya, popy hehehehe

Apapun keputusannya, sudah siapkah anda berhijab?  Alhamdulillah….saya sudah :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 7 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 19 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 20 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: