Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Fey Down

I am a simple lady who likes the simple things in life. Email : fennydown@gmail.com selengkapnya

Tak Mampu Kuliah Bukan Akhir Segalanya

HL | 03 January 2013 | 00:49 Dibaca: 2323   Komentar: 94   28

1357159721180670148

Ilustrasi / Admin (Shutterstock)

Pendidikan formal dalam kehidupan kita memang sangat penting. Tentu kita akan bangga bila mampu  mencapai gelar impian. Namun  tak semua  keluarga di Indonesia mampu membiayai anak anaknya sekolah apalagi  kuliah, kecuali si anak mendapat beasiswa.   Di  Indonesia biaya pendidikan sangat mahal, walau katanya SD, SMP gratis tetap saja banyak uang sampingan yang harus dibayar oleh murid. Apalagi biaya kuliah mahalnya bukan main. Jika kita tak mampu kuliah bukan berarti akhir segalanya. Banyak jalan menuju Roma asal kita mau berusaha.

Saya tak ingin membandingkan orang orang luar negeri yang sukses walau tak lulus kuliah  seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg karena di Amerika dan Australia (entah di negara lain) kesempatan kuliah itu terbuka untuk mereka yang tak punya dana. Pemerintah setempat memberikan  student loan selama kuliah dan siswa harus mengembalikan dengan cara mencicil jika sudah mencapai gaji tertentu.

Di Indonesia banyak orang orang sukses dan terkenal padahal mereka tidak sekolah tinggi dan tak lulus kuliah.  Seperti Buya Hamka ,  Andy F Noya,  Andrie Wongso dll.  Tentu tak mudah mencapai kesuksesan lalu menjadi orang terkenal.  Mereka yang saya sebutkan hanya sekedar contoh saja.

Menurut pemikiran saya yang sederhana ,  jika kehidupan dan tingkah laku seseorang hari ini lebih baik dari kemarin maka saya menganggap itu sebuah kesuksesan.

Dulu anak saya yang kedua pernah menyesali mengapa kami ortunya  ngga bisa biayai kuliah. Kami besarkan hatinya bahwa selama kita mau belajar dan kerja keras,  tanpa kuliahpun bisa cari uang. Lulus Sekolah Tehnik Menengah, lalu bekerja di salah satu bank swasta mengurus mesin diesel.  Terjadi PHK, ia jadi pedagang kaki lima, berjualan kartu ucapan dan album photo buatan sendiri.  Bekerja di Amerika selama 4 tahun, dari tukang bersiin meja, waiter,  kitchen helper disebuah resto Jepang sambil   belajar membuat Sushi.  Kini ia  menjadi Sushi Chef di Jakarta dan sangat menikmati pekerjaannya dan  tak lagi menyesal karena tak kuliah.

Saya sendiri  hingga kini masih terus belajar karena dulu tak pernah sekolah tinggi. Beruntung sejak SD saya suka bahasa Inggris walau saat itu tak mampu kursus bahasa Inggris. Saya belajar gratis dari buku dan koran dengan modal kamus ditangan. Jika ketemu orang bule saya ajak ngomong, mau bener atau ngga yang penting cas cis cus.  Berbeda dengan jaman sekarang, belajar apa saja bisa lewat internet, tinggal kita sendiri ada kemauan atau ngga.

Inilah pekerjaan pekerjaan yang sudah saya jalani :

TUKANG JAHIT :

Menjadi ibu rumah tangga tak menghalangi saya untuk belajar mencari ilmu dan uang demi membantu suami. Kebetulan tetangga dekat rumah seorang penjahit pakaian. Saya tawarkan tenaga untuk membersihkan rumahnya asal saya diajari membuat pakaian.  Dalam 3 bulan saya pandai menjahit baju. Saya tawarkan gratis pada tetangga yang ingin bikin baju asal mengganti uang benang. Alhamdulilah langganan makin banyak, kebanyakan ibu ibu sekitar rumah. Saat hamil 9 bulan dibulan ramadan saya masih menjahit hingga  melahirkan. Cita cita bekerja dikantor masih terpendam tapi tak pernah pudar.

MENGURUS ADMINISTRASI RINGAN DISEBUAH KLUB ORANG ASING

Saya bekerja pada Gary orang Inggris yang   bekerja di perusahaan minyak asing. Ia juga  membuka usaha kecil seperti coffee shop di Jakarta Pusat. Di situ ada perpustakaan juga TV besar untuk memutar video.  Buka sore hari dari jam 4 hingga jam 10 malam. Pelanggan kebanyakan guru guru bahasa Inggris yang relax sejenak sambil baca buku, nonton video dan  minum kopi.  Tugas saya menyusun buku buku, jadi kasir dan mencatat buku apa saja yang dipinjam pelanggan.

Setiap sore sebelum coffee shop buka saya sering melihat Gary  mengetik di komputer. Saya berdiri dibelakangnya sambil dalam hati berkata ” Enak kali ya kalau saya bisa menggunakan komputer.” Ternyata Gary memperhatikan tingkah laku saya hingga suatu hari ia bertanya ” Kamu mau belajar komputer?” Wah kebetulan sekali, pucuk dicinta ulam tiba. Sejak itu setiap sore dari jam 3 hingga jam 4 saya diajari cara menggunakan komputer ( Apple).  Setelah 1 bulan Gary memutuskan untuk membiayai  saya  kursus komputer khusus untuk sekretaris. Selesai dalam waktu 6 bulan , sayapun mendapat tugas baru. Setiap hari Minggu, saya bekerja selama 2 jam di rumah Gary di Kemang. Pekerjaan saya mengetik laporan yang ditulis tangan dan  dibekali kamus bahasa Inggris khusus perminyakan.  Setelah makan siang sayapun pulang. Gaji waktu itu 100.000 rupiah ( kerja hanya hari Minggu saja) plus makan siang dan ongkos taxi pulang pergi. Gary bukan hanya seorang atasan tapi juga sahabat. Sayang Gary harus kembali ke Inggris  karena kontrak kerja   selesai.

JADI PENGAWAS SAMPAH SWASTA DI DKI :

Lalu saya bekerja lagi pada John ( samaran) , orang Inggris juga  yang mengurus sampah swasta di DKI.   Tugas saya mengawasi pengangkutan sampah di DKI  khusus Jakarta Pusat.  Jam 6 pagi saya sudah berada di posko Monas, lalu ikut truk sampah berkeliling mengangkut sampah. Bau dan kotornya tak terkira. Teringat ketika  Ibu Tien   melambaikan tangan sambil tersenyum melihat saya naik turun truk sampah. Jika sampah  sudah penuh, langsung kami berangkat ke  ketempat pembuangan akhir  di Bantar Gebang, kadang makan siang di sana dengan semangkok bakmi ditemani lalat lalat yang berterbangan. Untung ngga pernah sakit.   Kami bekerja hingga jam 3 sore lalu kembali ke posko di Monas.

Suatu hari saya diajak makan malam oleh John disebuah hotel mewah. Lalu saya diminta menghadap istrinya yang punya sekolah bahasa Inggris.   Sayapun diterima bekerja di sana sebagai staff administrasi.  Guru guru yang mengajar semuanya orang asing.  Maka bertambah lagi kemampuan bahasa Inggris saya. Walau gaji kecil yang penting dapat ilmu. Cita cita saya bekerja di kantor tercapai sudah walau saya tak pernah kuliah.

Ketika ada dana sedikit, saya  ambil kursus accounting di LPK Trisakti  (6 bln) dan dapat sertificat. Lalu kursus Bahasa Inggris Business ,  Manchester . UK  (kursus jarak jauh),   selesai dalam 2 tahun dan  dapat diploma.

Sempat jadi pengusaha kecil, usaha kost kost an didekat kampus Bina Nusantara, internet cafe,  dealer motor,  jual beli mobil bekas, travel agent.  Krisis ekonomi perlahan tutup satu satu.   Mulai sering ke Amerika menengok anak anak, sambil jadi kuli, di resto, panti jompo, percetakan koran, garment dan terakhir di pharmacy jalankan mesin pembuat kapsul.

Alhamdulilah , pekerjaan terbaik dalam hidup saya adalah bekerja sebagai Admin Officer di sebuah kantor penerbangan UAE.   Gaji sangat lumayan, budget kaca mata AED 1500/th, free apartement, free medical, free return ticket setahun sekali plus cuti 25 hari dengan gaji penuh.  Saya terus belajar sambil bekerja. Tugas saya mengurus administrasi, dan  melakukan transaksi pemesanan/ pembelian spare parts pesawat,  dari mengirim RFQ ( Request For Quotation )  ke beberapa suppliers di USA dan Eropa, transfer dana, hingga spare parts diterima. Sungguh pekerjaan yang penuh tantangan dan membutuhkan ketelitian serta  kesabaran, tapi saya sangat menikmatinya. Kontrak kerja  pertama dua tahun lalu unlimited,  berhubung  saya menikah dan suami tak mau pindah ke UAE, maka saya mengundurkan diri.

Jika saya menengok ke belakang, koq aneh ya saya tak pernah bekerja di perusahaan Indonesia.  Mungkin karena saya ngga punya titel sarjana.   di Indonesia ngga penting pengalaman, yang penting muda dan sarjana.

Kini saya tinggal di Australia dan sedang menuntut ilmu.  No one is too old to learn isn’t?  Teringat kata kata bijak tentang belajar .

” Orang orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu, orang orang yang masih terus belajar akan menjadi milik masa depan” (Mario Teguh)

” Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”

” Belajarlah dari buaian hingga keliang kubur”

Insya Allah jika selesai sekolah dan suami mengizinkan  saya akan bekerja lagi. Di Australia  tak mengenal batas usia kerja , tak boleh ada diskriminasi  fisik  atau warna kulit,  selama kita mampu, rajin  dan  mau belajar insya Allah akan dapat pekerjaan.

Menurut pendapat saya, jangan pernah menyesali diri ketika kita tak mampu sekolah tinggi. Berdoa, belajar,  berusaha keras dan jangan malas. Insya Allah dimana ada kemauan pasti ada jalan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 7 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 7 jam lalu

PSSI dan Kontradiksi Prestasi …

Binball Senior | 8 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: