Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hento2008

Praktisi Ayur Hypnotherapy dan Neo Zen Reiki. Menulis adalah upaya untuk mengingatkan diri sendiri. Bila selengkapnya

Kepatuhan terhadap guru bukanlah kepatuhan buta…

OPINI | 22 December 2012 | 07:01 Dibaca: 109   Komentar: 0   0

Kepatuhan buta terjadi jika tidak ada interaksi timbal balik. Biasanya kepatuhan seperti ini bersifat perbudakan. Penjajahan pada si manusia, hanya sebagai kedok. Kepatuhan terhadap doma dan doktrin adalah kepatuhan buta. Tujuannya jelas, memperbudak para pengikutnya. Mereka yang memberikan dogma atau doktrin tidak senang jika pengikutnya meninggalkannya. Mengapa? Kekuasaan. Semakin banyak yang takut, semakin baik. Karena mereka gampang diperbudak. Ini tidak sesuai dengan berita yang disampaikan para nabi.

Para nabi sama sekali tidak ingin memperbudak. Mereka menyampaikan ajaran yang membebaskan jiwa manusia dari penjara. Penjara yang sesungguhnya tidak disadarinya. Penjara yang diciptakan oleh sekelompok orang yang tidak sadar juga bahwa ia sedang memperbudak sesamanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Kekuasaan yang menuju kegelapan. Kekuasaan keinginan terhadap kenyamanan dunia.

Kepatuhan terhadap guru, sebaliknya  membebaskan jiwa. Guru berarti ia yang mengusir kegelapan. Kegelapan pengetahuan. Seorang guru yang benar akan menyampaikan hal ang bermanfaat bagi evolusi jiwa. Tidak ingin muridnya membudakkan diri terhadap masyarakat yang belum sadar akan pengetahuan kebenaran. Apalagi keinginan agar muridnya menghambakan diri padanya. Sama sekali tidak. Ia memberikan sesuatu tidak hanya satu arah. Ia ingin muridnya memberikan respon atas hal yan disampaikan. Inlah bedanya seorang guru dan para pemberi dogma.

Seorang murid patuh terhadap gurunya bukan karena takut. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang disampaikan sang guru semata demi kebaikan sendiri. Bukan untuk mengkultuskan sang guru. Seorang guru tidak butuh pengikut.ia sadar bahwa kehadirannya semata untuk menyampaikan berita gembira. Pembebasan jiwa. Seorang guru selalu mengingatkan bahwa jika dirinya bisa menggapai kebebasan, sang murid dapat dipastikan hal yang sama. Sesungguhnya yang sangat menjadi perhatian sang guru adalah kebebasan jiwa si murid. Ia sendiri selalu tetap harus menjaga kebebasan dirinya. Untuk itu, ia tidak mau sesungguhnya dianggap sebagai seorang guru. Ia akan menjadi terbebani oleh karenanya.

Para pemberi dogma atau doktrin tidak berkehendak yang disampaikan dibantah. Ia hanya ingin agar yang disampaikan dipatuhi dengan tidak dibantah. Ini tujuan dari perbudakan. Patuh tanpa dibantah semata agar ia tetap bisa memperbudak demi melanggengkan kekuasaan. Pembodohan tersistematis.

Ini bukan ajaran nabi. Nabi memberikan pengetahuan ntuk membebaskan jiwa manusia dari penjara pikiran.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 9 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 10 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: