Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muhammad Fathi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Graphic Designer di www.satugerai.com, terus belajar untuk bermanfaat selengkapnya

Menikmati (Kembali) Gagahnya Tonggak Keperkasaan Jogja

REP | 19 December 2012 | 00:28 Dibaca: 407   Komentar: 0   2

JOGJA – Hari ini, Selasa (18/12/12) bisa dikatakan menjadi hari bersejarah bagi kota Jogjakarta. Seharian ini, aura asli Jogjakarta memenuhi atmosfer kota “gudheg” ini. Warna baru dan aksesoris baru membuat tonggak keperkasaan Jogjakarta semakin gagah dan baru. Dari modelnya, warnanya, dan aksesoris di sekitarnya, menyiratkan makna semangat baru bagi Jogjakarta. Tonggak keperkasaan Jogjakarta berdiri gagah di tengah-tengah mendung tebal sore ini.

Pemandangan itulah yang saya dapatkan ketika melihat dari dekat tonggak keperkasaan Jogjakarta itu. Berawal dari meng-update berita seputar Jogjakarta hari ini, saya berencana melihat dari dekat monumen sakral tersebut. Sepulang kuliah, saya segera menyiapkan kamera digital saya yang tergolong lawas, Canon PowerShot A590 IS. Kamera keluaran tahun 2008 ini selalu setia menemani saya ke manapun saya pergi, kecuali ketinggalan di rumah. Bagi saya, kamera 8 mega pixel ini cukup handal dan bersaing jika dibandingkan dengan kamera-kamera digital keluaran sekarang. Pixel boleh kalah, tapi kualitas gambar yang dihasilkan cukup memukau mata yang memandangnya. Kamera ini dibeli oleh bapak saya di Medan, saat beliau pergi menjenguk keluarga bapak saya di Aceh yang menjadi korban tsunami pada 2004 lalu.

Pada awal kemunculannya, Canon PowerShot A590 IS ini dijual dengan harga sekitar Rp2.500.000,-. Harga yang cukup mahal jika dibandingkan dengan kamera-kamera yang keluar saat ini. Kelebihannya, kamera saya ini ada viewfinder-nya, yaitu fasilitas untuk mata mengintip lensa tanpa menggunakan layar display. Fasilitas setting yang digunakan juga beragam, dan sudah termasuk mode Aperture Priority, Shutter Speed Priority, Manual, dan Program. Dengan mode Aperture Priority dan Shutter Speed Priority ini, kita dapat mengambil gambar dengan teknik “bulb” yang memukau.

Teknik bulb adalah dimana kita mengambil gambar objek, namun objek bergerak di sekitarnya menjadi kabur. Biasanya digunakan pada sore atau malam hari. Jika malam hari, gambar yang dihasilkan adalah gambar objek yang dihiasi gambar lampu kendaraan yang seolah terseret jadi seperti cahaya laser. Teknik inilah yang saya gunakan untuk memotret objek monumen sakral Jogjakarta sore ini. Saya masih tahap belajar, jadi mohon koreksi dan wawasan bagi para pembaca yang lebih berpengalaman dari saya. Hehehe.

Setelah menyiapkan dan mengetes kamera agar siap dipakai untuk mengambil momen spesial tersebut, saya menyiapkan tripod. Tripod digunakan agar gambar ‘bulb’ yang dihasilkan tidak terkesan kabur atau buram. Trik lainnya, ketika memotret, gunakan juga fasilitas timer yang akan menjepret dengan sendirinya berdasarkan waktu yang sudah kita tentukan. Untuk memotret bulb, tidak perlu lama-lama mengatur timer­-nya, cukup satu atau dua detik saja.

Setelah setting dilakukan, saya langsung tancap gas menuju lokasi. Tidak lupa saya mampir ke minimarket untuk membeli sepasang baterai ukuran AA untuk kamera saya. Pada saat di minimarket itulah mendung tebal sudah menguasai hampir separuh kota Jogja, termasuk lokasi yang akan saya kunjungi. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan niat saya. Saya segera bertolak ke arah utara kemudian ke barat, ke arah stasiun Tugu berada.

Dua puluh menit kemudian saya sampai di perempatan jalan P. Mangkubumi, Jogjakarta. Saya belok kiri untuk mencari tempat parkir. Karena kurang yakin, saya teruskan ke arah staiun Tugu dan belok kanan sebelum stasiun. Saya kembali ke perempatan semula untuk menentukan titik agar sepeda motor saya aman. Kembali saya bingung dan mengambil arah ke utara. Saya putar arah dan mencoba melirik tempat parkir yang meyakinkan. Akhirnya, saya parkir motor saya di tempat parkir selatan kantor polisi jalan P. Mangkubumi, Jogjakarta.

Setelah memastikan motor saya aman parkir di situ, saya segera berjalan kaki ke perempatan jalan P. Mangkubumi, dan… Wow keren… Tonggak keperkasaan Jogjakarta terlihat berdiri gagah di depan saya; itulah sang Tugu Jogja. Sebuah monumen sakral Jogjakarta yang baru saja selesai direnovasi. Pagi tadi sekitar pukul 10.00 WIB gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan HB ke-X membuka dan meresmikan monumen Tugu Jogja yang baru ganti kulit ini. Dan malam ini, saya pertama kali mengambil gambar Tugu Jogja baru pada malam hari pasca renovasi. Tentunya dengan teknik bulb yang sudah saya singgung di atas. Berikut ini hasilnya.

13558515261371004120

New Tugu Jogja, dok. pribadi

1355851641186651567

New Tugu Jogja menjelang maghrib, dok. pribadi

Tugu Jogja yang baru ini ada perubahan pada cat dan aksesorisnya. Sebelumnya, Tugu Jogja memiliki warna kombinasi putih-hitam-cokelat, dan yang baru ini warna kombinasinya putih dan emas, membuat tonggak keperkasaan Jogja ini semakin elegan dan gagah. Tugu Jogja sekarang dikelilingi oleh sepetak taman kecil berisi rerumputan dan beberapa tanaman, serta pagar yang melindungi tanaman dan Tugu Jogja sendiri. Diberinya pagar di sekitar Tugu Jogja bertujuan untuk melindungi Tugu Jogja dari tangan-tangan jahil yang membuat Tugu Jogja kotor. Jelas terlihat di kotak taman tersebut tulisan “Dilarang Masuk!”. Jadi, kalau mau berfoto-foto di Tugu Jogja sekarang, hanya bisa di depannya tanpa menyentuh Tugu.

Tertarik untuk menikmati pesona kegagahan monumen sakral Tugu Jogja yang baru ini? Silakan bawa kamera dan abadikan momennya, mumpung masih sangat baru dan bersih.

Jogja, 18 Desember 2012

Muhammad Fathi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 11 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Walikota Kota Bogor Bima Arya Sugiarto …

Hakeem Elfaisal | 8 jam lalu

Guru (di) Indonesia …

Inne Ria Abidin | 8 jam lalu

“Remember Me” …

Ruby Astari | 8 jam lalu

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Inne Ria Abidin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: