Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Fera Nuraini

Lahir di Ponorogo. Doyan makan, pecinta kopi, hobi jalan-jalan dan ngobrol bareng. Lebih suka menjadi selengkapnya

Lika-liku Merawat Manula

OPINI | 06 December 2012 | 11:48 Dibaca: 554   Komentar: 0   17

Ada yang bilang kalau merawat manula (manusia lanjut usia) itu seperti merawat bayi. Bedanya kalau bayi hanya bisa menangis saat kita tidak paham apa yang dia inginkan, kalau manula bisa marah saat keinginannya tidak terpenuhi meski kita paham. Butuh kesabaran lebih karena manula bisa menolak, membantah, memaksa dan mengeluarkan jurus ngeyelnya.

5 tahun lebih saya merawat manula (kakek usia 95 tahun) yang setahun terakhir ini sering keluar masuk rumah sakit. 4 tahun sebelumnya, badannya masih segar bugar, bisa melakukan semua aktifitas sendiri seperti mandi, ganti baju, makan, minum obat, bahkan masih bisa saya tinggal sendirian di rumah 3 jam lebih.

Menurut dokter sih, kalau manula masuk rumah sakit, saat keluar pikirannya pasti berubah, ada sedikit linglungnya. Nah, kalau sering keluar masuk rumah sakit apalagi, linglungnya bertambah. Dan ini dialami oleh kungkung (kakek) saya. Saat ini sebulan bisa 3 kali keluar masuk rumah sakit.

Pikirannya jauh berubah dalam setahun terakhir ini. Kadang dia ngoceh sendiri sehari semalam, tidur cuma menitan. Makan minun pun tetap sambil ngomong tak henti, tapi matanya tertutup. Badannya jadi lebih aktif, mendekati hiper aktif malah. Pernah juga dalam seminggu dia tidak tidur. Meski badannya terbaring di ranjang, tapi mulutnya ngomong terus, suaranya sangat keras. Berhenti 5-10 menit, lalu lanjut lagi. Saat dibangunkan, duduk di kursi mata tetap terpejam. Makan sesendok, minum seteguk, mata tetap merem, tapi mulutnya tetap ngomong.

Keadaannya akan jauh berbeda saat dia cukup tidur. Bicaranya sangat jelas, teratur, orangnya juga tak banyak gerak, diajak ngobrol nyambung, makan minum pun menjadi lebih mudah. Dan kondisinya akan berubah lagi saat gangguan tidur datang.

Pernah juga saat malam tidak bisa tidur, saya kasih obat tidur 4 butir (anjuran dokter) tapi ternyata tidak mempan sama sekali, mental obatnya dan tak berefek sedikit pun. Tetap saja sehari semalam ngomong tanpa henti, pancal selimut sana-sini, ingin bangun sendiri, bahkan pernah hampir jatuh dari ranjang gara-gara terlalu banyak gerak. Saya tidak tahu dia dapat kekuatan dari mana. Padahal istirahatnya kurang, makan pun juga berkurang, tapi tenaganya justru menjadi berlipat-lipat.

Pernah saya dan teman saya di marahi habis-habisan oleh anaknya kungkung (dia adik bos kami) saat sedang makan dia keselek lalu batuk-batuk. Gimana gak keselek, la di mulutnya penuh nasi tapi ngocehnya tetap terus tak mau berhenti. Kita yang sehat pun, kalau sedang makan sambil ngomong pasti pernah mengalami hal ini, kan?

Kami tentu tidak mau disalahkan, saya jelaskan kalau dia makan sambil ngomong hasilnya pasti gitu. Baru dia paham. Pernah juga kami disalahkan Saat meminumkan obat. Obat masih di mulut diberi air tidak mau minum, malah obatnya dikunyah. Duhh, hasilnya apa? Batuk-batuk sejam lebih gak mau berhenti, sampai memanggil ambulan untuk dibawa ke rumah sakit.

Meski sudah diberi penjelasan oleh dokter, kalau organ pencernaannya kungkung ada gangguan dan ini menghambatnya saat menelan sesuatu, tetap saja kami yang disalahkan. Dituduh terlalu tergesa-gesa menyuapi atau memberi minum. Padahal kami sangat mengerti penjelasan yang diberikan oleh dokter dalam bahasa kantonis. Beginilah resikonya merawat manula :D

Memang waktu kami lebih banyak berada di sisi kungkung dari pada anak-anaknya. Dan mereka sudah memasrahkan orang tuanya ke kami. Jadi, kalau ada masalah sedikit saja, tentu mereka larinya ke kami. Kadang saya merasa takut, jangan-jangan kalau kungkung meninggal, kami selaku perawatnya yang disalahkan? (semoga tidak).

Sebagai seorang pekerja yang ikut orang, yang dibutuhkan oleh kami adalah sebuah kepercayaan. Kalau bos tidak percaya, lebih baik tidak usahlah mengambil pekerja, dan silahkan dikerjakan sendiri :P

Untung bos saya (yang serumah) orangnya sudah sangat memercayai kami dan memberi tanggung jawab penuh untuk merawat orang tuanya. Dan saya yang lebih dulu merawat kungkung selalu mengingatkan teman saya (masih setahun menjaga kungkung) untuk selalu mengomunikasikan kondisi kungkung dengan bos.

Kadang gangguan kerja itu datang bukan dari dalam tapi justru dari luar. Seperti yang saya alami. Bos yang serumah (anak kungkung paling besar) orangnya baik, tidak banyak ngomong dan sangat percaya terhadap kami. Tapi beda jauh dengan adiknya (anak kungkung paling kecil, perempuan) yang selalu menyereweti kami soal merawat kungkung. Dikiranya kami masih baru, padahal kami yang lebih banyak tahu tentang kondisi dan seluk beluk kungkung dari pada dia yang belum tentu bertemu kungkung seminggu sekali.

Jadi ya, hanya sabar yang menjadi senjata kami. Tapi kalau terus direcoki, “mungkin” bisa saja kontrak ini berhenti di tengah jalan (ngancam).

Itung-itung pengalaman dan pembelajaran nanti saat merawat orang tua sendiri. Harus memerlakukannya gimana, memahami bahwa sifat dan pikirannya gimana, pasti akan mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pun juga soal organ pencernaan, yang mana seiring usia bertambah tentu juga akan mengalami perubahan. Tidak bisa menelan dan mengunyah makanan selancar saat masih muda. Selain sifat, belajar tentang kebersihan juga diutamakan. Tidak mau dong melihat orang yang kita rawat kotor, karena itu akan menunjukkan siapa kita,eh bener gak sih?

Sekian dulu curhat hari ini. Maaf kalau gak nyambung :D

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Batik 3005 Meter Karya Masyarakat Yogyakarta …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 12:27

Antara Yangon, Iraq, ISIS dan si Doel …

Rahmat Hadi | | 02 October 2014 | 14:09

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 4 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 5 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 10 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kios Borobudur Terbakar, Pencuri Ambil …

Maulana Ahmad Nuren... | 7 jam lalu

Kemacetan di Kota Batam …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

“Amarah Nar Membumihanguskan …

Usman Kusmana | 7 jam lalu

Pembunuh (4) …

S-widjaja | 7 jam lalu

Penghujat SBY, Ayo Tanggung Jawab…!! …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: