Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Harsi Nastiti

"passion" must have item and "pray" must to do in everytime and everywhere

Dikte!

REP | 05 December 2012 | 15:08 Dibaca: 305   Komentar: 0   0

Kupikir saat kuliah adalah saat dimana kita tidak terlalu “rajin” belajar dan membaca di kelas. Artinya, belajar dan membaca bisa dimana saja.  Kupikir juga bahwa pembelajaran di kelas akan sangat variatif ketimbang waktu SMA ataupun SMP. Jadi, bisa ada diskusi, debat, membuat seminar kelas, kerja kelompok di luar kelas setelah itu konsultasi ke dosen, tugas mandiri membuat paper atau makalah dan lain-lain. Ya, memang ada yang seperti itu, namun ternyata ada metode pembelajaran di kelas yang menurutku; untuk diterapkan lagi saat kuliah akan sangat membosankan. DIKTE itulah namanya.

Salah seorang dosen di prodiku masih menggunakan metode pembelajaran yang “jadul” itu. Dan maaf ya..kalau aku bisa bilang terkadang metode seperti itu akan menghambat kreativitas mahasiswa untuk bisa mengaplikasikan kemampuan bicara atau berpendapat. Itu sih…kalau dosennya udah pakai metode DIKTE tapi, juga ga memberi kesempatan bagi mahasiswanya buat mengajukan pertanyaan. Muluuuus aja terus, lempeng, dari A sampai Z dikte terus. Begitulah dia.

Tidak hanya aku yang merasakannya, teman-teman pun juga merasakan hal yang sama. Kadang keluhan macam-macam muncul ketika durasi di kelas dikte itu lama. Ada saja kata-kata “Capek, ah!”, “Cuma bolak-balik aja temanya”, “Ni bener-bener matiin pikiran kita buat ngasih komentar, la wong nulis terus, kalo ujian juga harus sama dengan yang didikte-in”, dan keluhan lain-lain. Memang benar, dan kuakui saja, untuk model mahasiswa sekarang yang cukup kritis, metode dikte sangatlah kurang pas. Apalagi kalau ujian harus sama persis dengan yang ada di teks. Walhasil, kemampuan berpendapat  teman-teman jadi sedikit terhambat. Sedikit…karena di sisi lain DIKTE ada sisi-sisi positifnya, (menurutku):

Pertama, mungkin memang benar menghambat kemampuan mahasiswa dalam mengutarakan pendapat (untuk kasus dosen yang semacam itu) karena tak selamanya mahasiswa betah buat didikte. Tapi, dikte pun sebenarnya melatih mahasiswa sendiri untuk belajar mendengarkan dan menulis. Menulis? Iya, kupikir banyak mahasiswa yang mau membaca namun, untuk menulis terkadang malas. Nah, dengan dikte ini sedikit mendorong kemauan mahasiswa untuk menulis (walau harus menuruti apa yang dikatakan oleh si pendikte)

Kedua, melatih kepekaan. Ketika didiktekan sebuah teks dari dosen, tak jarang ada mahasiswa yang tertinggal menulis teks itu. Mau tak mau teman yang di sampingnya juga (harus) menolong; memberi kopian tulisannya kepada si teman.

Ketiga, belajar mendengar. Adakalanya saking merasa dirinya kritis atau mungkin bisa kusebut “sok tahu” mahasiswa ga mau dengerin atau cuek dengan omongan orang lain. Sama halnya dengan mengikuti belajar metode dikte. Dengan itu mahasiswa akan bersabar untuk mendengarkan apa yang dikatakan dosen.

So, tak selamanya pendapat tentang dikte ini bagiku buruk. Sesuatu itu pasti ada sisi positifnya kan?

Mungkin untuk saat ini yang bisa dilakukan oleh teman-temanku dan aku hanyalah bersabar menikmati “dikte” ini. Karena hidup ini ga nikmat kalau hanya berjalan sesuai idealisme kita. Termasuk “dikte”, mungkin saja nantinya ia akan mengisi kenanganku bersama teman-teman selepas kuliah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 3 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 3 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 5 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 7 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 8 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: