Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Harsi Nastiti

"passion" must have item and "pray" must to do in everytime and everywhere

Dikte!

REP | 05 December 2012 | 15:08 Dibaca: 268   Komentar: 0   0

Kupikir saat kuliah adalah saat dimana kita tidak terlalu “rajin” belajar dan membaca di kelas. Artinya, belajar dan membaca bisa dimana saja.¬† Kupikir juga bahwa pembelajaran di kelas akan sangat variatif ketimbang waktu SMA ataupun SMP. Jadi, bisa ada diskusi, debat, membuat seminar kelas, kerja kelompok di luar kelas setelah itu konsultasi ke dosen, tugas mandiri membuat paper atau makalah dan lain-lain. Ya, memang ada yang seperti itu, namun ternyata ada metode pembelajaran di kelas yang menurutku; untuk diterapkan lagi saat kuliah akan sangat membosankan. DIKTE itulah namanya.

Salah seorang dosen di prodiku masih menggunakan metode pembelajaran yang “jadul” itu. Dan maaf ya..kalau aku bisa bilang terkadang metode seperti itu akan menghambat kreativitas mahasiswa untuk bisa mengaplikasikan kemampuan bicara atau berpendapat. Itu sih…kalau dosennya udah pakai metode DIKTE tapi, juga ga memberi kesempatan bagi mahasiswanya buat mengajukan pertanyaan. Muluuuus aja terus, lempeng, dari A sampai Z dikte terus. Begitulah dia.

Tidak hanya aku yang merasakannya, teman-teman pun juga merasakan hal yang sama. Kadang keluhan macam-macam muncul ketika durasi di kelas dikte itu lama. Ada saja kata-kata “Capek, ah!”, “Cuma bolak-balik aja temanya”, “Ni bener-bener matiin pikiran kita buat ngasih komentar, la wong nulis terus, kalo ujian juga harus sama dengan yang didikte-in”, dan keluhan lain-lain. Memang benar, dan kuakui saja, untuk model mahasiswa sekarang yang cukup kritis, metode dikte sangatlah kurang pas. Apalagi kalau ujian harus sama persis dengan yang ada di teks. Walhasil, kemampuan berpendapat¬† teman-teman jadi sedikit terhambat. Sedikit…karena di sisi lain DIKTE ada sisi-sisi positifnya, (menurutku):

Pertama, mungkin memang benar menghambat kemampuan mahasiswa dalam mengutarakan pendapat (untuk kasus dosen yang semacam itu) karena tak selamanya mahasiswa betah buat didikte. Tapi, dikte pun sebenarnya melatih mahasiswa sendiri untuk belajar mendengarkan dan menulis. Menulis? Iya, kupikir banyak mahasiswa yang mau membaca namun, untuk menulis terkadang malas. Nah, dengan dikte ini sedikit mendorong kemauan mahasiswa untuk menulis (walau harus menuruti apa yang dikatakan oleh si pendikte)

Kedua, melatih kepekaan. Ketika didiktekan sebuah teks dari dosen, tak jarang ada mahasiswa yang tertinggal menulis teks itu. Mau tak mau teman yang di sampingnya juga (harus) menolong; memberi kopian tulisannya kepada si teman.

Ketiga, belajar mendengar. Adakalanya saking merasa dirinya kritis atau mungkin bisa kusebut “sok tahu” mahasiswa ga mau dengerin atau cuek dengan omongan orang lain. Sama halnya dengan mengikuti belajar metode dikte. Dengan itu mahasiswa akan bersabar untuk mendengarkan apa yang dikatakan dosen.

So, tak selamanya pendapat tentang dikte ini bagiku buruk. Sesuatu itu pasti ada sisi positifnya kan?

Mungkin untuk saat ini yang bisa dilakukan oleh teman-temanku dan aku hanyalah bersabar menikmati “dikte” ini. Karena hidup ini ga nikmat kalau hanya berjalan sesuai idealisme kita. Termasuk “dikte”, mungkin saja nantinya ia akan mengisi kenanganku bersama teman-teman selepas kuliah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 5 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: