Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Saya Membeli Buku Bung Karno Seharga Rp 5.000

REP | 03 December 2012 | 06:34 Dibaca: 1833   Komentar: 0   8

“Koraaaaan … koran bekas!”

Seruan itu terdengar tiap hari di depan jalan rumah kami di kompleks kawasan Jati Asih, Pondok Gede. Seruan yang berarti pemberitahuan dari para pembeli koran-majalah-buku bekas, dan barang-barang bekas lainnya. Termasuk kulkas, aki, kompor, besi-besi tua hingga sepeda. Pendeknya apa saja yang akan dijual dari warga akan dibelinya. Mungkin termasuk rumah dan orangnya, he, he, he.

Jangan kaget, dan jangan pernah memprotes masalah harga yang ditawar oleh mereka. Amat sangat njomplang, dan mungkin menyakitkan. Bayangkan, rice cooker yang masih bisa dipakai – walau kondisinya seadanya – hanya ditawar Rp. 5. 000, 00 (lima ribu rupiah). Atau kipas angin, yang komponennya masih ada yang bisa dipakai pun hanya ditawar sama: lima ribu rupiah. Padahal, misalnya stop kontaknya kalau dibeli di toko alat-alat listrik bisa lima ribu rupiah juga.

Lalu berapa harga koran bekas yang menjadi andalan “teriakan”nya itu? Harga koran bekas, satu kilogramnya hanya seribu dua ratus rupiah per hari ini (Desember 2012). Saya yang hampir sekitar dua bulan sekali menjual koran bekas, tak bisa mengelak. Karena bagaimanapun tujuannya mengurangi “sampah” yang ada di rumah. Itu setelah tulisan-tulisan yang saya butuhkan saya kliping. He, he, he saya masih tradisional – dan diprotes anak-anak. Mengkliping atau mengunting dan menempelkan tulisan di koran – bagi tulisan yang tidak mungkin diambil dari media on-line itu. Saya pikir apa bedanya membaca dan misalnya mengcopy dan mencetak dari sana? Berarti mengeluarkan dana juga, toh? Di samping, mengurangi mata lelah karena kelewat lama memelototi layar komputer.

Meski sakit hati dengan tawaran amat-sangat rendah dari pembeli koran bekas, saya membutuhkan mereka. Dan saya punya 2 langganan pembeli koran-koran bekas di rumah. Dengan pembeli langganan sudah ada saling pengertian. Paling tidak, saya sudah bisa mengukur “tawaran”. Sebab sudah kelewat sakit dengan mereka yang menawar murah, juga sulit untuk mengukur kejujuran terutama dalam hal menimbang. Mereka kerap “korupsi” yang lumayan. Misal, saya pernah memprotes, dan meminta ia menimbang ulang. Dan apa yang terjadi? Selisih hampir 3 kg untuk berat sekitar 12 kg. Jadi kira-kira seperempat dari yang sebenarnya. Dari protes saya, ia menyatakan menyesal dan malu.

Hal yang kedua, kita bisa membeli dari mereka mendapatkan terutama majalah atau buku sejenis. Karena, jangan kaget pula, harganya pun fantastis bagi orang seperti saya. Kelewat-wat murah sekali. Dengan harga kiloan juga. Memang, di atas harga kalau dia membeli majalah bekas dari saya. Hal lumrah, tentu. Untuk mencari untung.

Nah, saya pernah mendapatkan buku dari pembeli koran bekas yang kedua – ia menjadi serep apabila yang pembeli pertama lama tidak muncul. Buku tebal-tebal saja membuat mata melotot, sehingga saya rasanya ingin menawar dengan harga mahal alias bukan harga koran bekas secara kiloan. Buku-buku babon, ensiklopedi dan kamus, selain Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno yang setebal bantal dan monumental itu..

Sungguh memelas, ia menawarkan. Begini kalimatnya, “Pak kalau nanti dijual lagi dan harganya mahal, saya minta ditambahi, ya Pak?”

Ya, itu mungkin karena ia melihat buku Bung Karno yang disebutnya buku “sejarah” itu. Waduh, saya trenyuh. Maka buku-buku yang jelas harganya bisa di atas ratusan ribu (bisa berbilang juta untuk buku koleksi Bung Karno) itu, saya tambahi harga perkiloannya. Meski semua itu jumlah uang yang harus saya keluarkan hanya Rp. 38. 000, 00 (tiga puluh delapan ribu rupiah). Cring.

Dia pikir, tetap untung minimal dua kali lipat dari awal ia membeli buku entah siapa yang gila menjual buku secara kiloan itu. Paling tidak lebih besar daripada kalau dijual ke pool di mana mereka punya bos barang-barang bekas.

Dari kejadian itu, maka saya berpikir. Ini ada kebutuhan antara saya yang lebih kerap sebagai penjual koran-majalah bekas, buku tak mungkin saya jual secara kiloan, kan? Ya dengan mereka yang membeli. Ada pembelajaran yang berharga dari mereka yang biasa membeli barang-barang bekas. Terutama, saya ingin mereka jujur dalam hal timbangan. Kedua, mereka ikut membersihkan koran-koran bekas di rumah kami. Ini era digital, he.

“Koran …. koraaaaan bekas!” ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: