Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Kusnandar Putra

Adalah guru SMP Islam dan Madrasah Aliyah Tanwirussunnah, Gowa. Diamanahkan "memegang" mata pelajaran IPA, IPS, selengkapnya

Catatan Harian Guru Honorer (10): Sepatu Guru

OPINI | 02 December 2012 | 22:32 Dibaca: 178   Komentar: 0   0

Ada novel yang judulnya Sepatu Dahlan, yang lagi mega best seller. Tapi, saya tidak suka dengan genre fiksi secara umum. Kalaupun saya baca, saya hanya mempelajari teknik mendeskripsikan suasana, tempat, tokoh, dan paling tinggi saya membaca halaman belakangnya sja. Apa tujuan saya? Ya, mencari identitasnya saja. Terutama no HPnya. Sekarang, di HP saya sudah ada 29 kontak, hasil lirikan halaman belakang. Dan memang kebetulan saya selain guru, juga karyawan di salah satu toko di Makassar. Jadinya leluasa mendapatkan info.

Nah, sepatu guru adalah artikel terbaru dari saya. Saya akan menginterpretasikan makna sebuah sepatu dari sudut padang saya sendiri sebagai guru.

Alhamdulillah, saya bisa lulus masuk di SMP Islam Tanwirussunnah Gowa. Sebuah sekolah yang mengedepankan perbaikan aqidah shohih anak-anak, memberikan asuhan sesuai tuntunan Rosululloh. Di sini saya mendapatkan pengalaman baru yang berbeda dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Saya diajak untuk menggunakan busana Islami. Harus memakai songkok, misalnya.

Inilah pola teladan yang diterapkan, kiranya memberikan pengaruh kepada santri-santri yang ada di sini. Hingga suatu kali ada aturan, “Semua guru harus pakai sepatu.”

Mungkin ada pernyataan, “Lah, memang guru kan pakai sepatu, untuk apa pakai sendal?” Tunggu dulu, sekolah kami, yang SMP belajarnya di masjid. Transfer ilmunya berada di salah satu rumah-rumah Alloh. Sehingga, dengan dalih ini, guru kadang kali tak memakai sepatu. Buat apa pakai sepatu, sementara saat mengajar pasti dibuka juga? Ini mungkin paradigma yang terbangun. Sehingga, kerapkali ada juga santri yang mencontoh gurunya untuk tidak memakai sepatu.

Maka keluarlah aturan wajib pemakaian sepatu. Supaya terbit teladan yang siap dicermini. Guru yang bersepatu bukan hanya dimaknai sebagai aturan. Ia adalah paket pendidikan akhlak yang tersembunyi. Betapa masa depan anak akan dihadapkan sebuah timbangan boleh, wajib, sunnah, dilarang. Mereka akan memilih mana yang tepat sesuai kondisinya. Memakainya sepatu, melebihi paham perintah sekolah, membuat guru harus dewasa dalam bercontoh. Anak ialah manusia yang peka akan teladan, saat menunjukkan ketidakkonsistenan pada aturan, maka rawan masa depan anak.

Sekali lagi, sepatu guru bermakna memberikan pengaruh lebih demi perkembangan anak. Kita boleh saja menggunakan sendal, memilih pendapat sendiri, tetapi ingat, harus ada dalil mengapa kita tak laksanakan? Dan mengapa pula melaksanakan. Yang pada intinya bersumber pada pemahaman yang kolektif bersama keluarga sekolah.

Jangan ada sikap egoisme. Jangan sampai ada ketimpangan disebabkan kita tak bersinergi.

Salam,
Pak Kus
Bagi pembaca yang budiman, hendak mendapatkan buku gratis dari Pak Kus, silahkan kirim e-mail Anda ke: unismuhmenulis@yahoo.com

Jangan lambat, ya…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 4 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: