Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dani Ibrahim

Ayah dari 3 orang puteri....

Pentingnya Pengelolaan Cash Flow

OPINI | 27 November 2012 | 13:58 Dibaca: 834   Komentar: 1   1

Pengelolaan cash flow bukan hanya urusan perusahaan saja, akan tetapi berguna juga untuk diri sendiri dan keluarga.  Kita sering terjebak bahwa kalau pendapatan besar maka tidak akan kekurangan…..anggapan itu belum tentu benar, karena kurang atau lebih sangat ditentukan oleh pengelolaan  cash flow kita.

Apa itu cash flow….? cash flow adalah arus dana (dalam hal ini harus berupa real cash) baik berupa penerimaan/pendapatan atau pengeluaran/biaya.  Dana yang dimasukkan ke dalam cash flow harus berupa real cash.  Jadi jika kita membeli suatu barang di bulan 1 akan tetapi pembayarannya di bulan 3, maka pengaturan cash flownya dimasukkan di bulan 3 pada saat memang dana cash kita keluar pada saat itu.  Hal yang sama juga berlaku untuk penerimaan/pendapatan.

Bagi orang yang berkecimpung didunia keuangan pasti sangat paham pentingnya positif cash flow.  Karena dengan cash flow yang positif, maka rencana perusahaan akan berjalan lebih baik.  Ditulisan ini saya akan lebih fokus membahas pengelolaan cash flow untuk pribadi atau keluarga.

Untuk memudahkan pemahaman betapa pentingnya mengelola cash flow, saya kasih contoh kasus sebagai berikut.  Dan ini kasus yang benar terjadi dan sering saya tangani.

Suatu hari datang ke ruangan saya salah satu tim kerja dan mengeluh bahwa dia selalu kekurangan setiap bulannya.  Saya tahu gaji dia sudah cukup sekitar Rp. 25 juta setiap bulannya.  Mungkin kedatangannya bermaksud untuk minta dipertimbangkan ada kenaikan gaji lagi.  Karena kondisi perusahaan yang belum memungkinkan memberikan kenaikan gaji dan saya lihat seharusnya sudah lebih dari cukup, maka saya tawarkan untuk memperbaiki cash flow dia.

Pertama-tama, saya tanyakan mengenai pos-pos pengeluarannya untuk apa saja dan dia memberikan jawaban sebagai berikut :

1. Untuk biaya makan @ 150,000 per hari x 30 = Rp. 4,500,000

2. Biaya sekolah anak-anaknya (bayar SPP) untuk 3 orang = Rp. 1,300,000

3. Biaya Listrik, PAM, telepon dan keamanan = Rp. 650,000

4. Biaya langganan internet = Rp. 500,000

5. Biaya langganan TV = Rp. 250,000

6. Biaya Hp buat dia, isteri dan 2 orang anaknya = Rp. 700,000

7. Biaya pergi ke kantor untuk bensin, tol = Rp. 2,100,000

8. Sumbangan ke orang tua = Rp. 4,000,000 (masing-masing @ 2,000,000)

9. Cicilan KPR = Rp. 6,500,000

10. Cicilan Kartu Kredit = Rp. 4,500,000 (dia punya hutang kartu kredit yang digunakan untuk biaya pengobatan)

11. Biaya rekreasi keluarga = Rp. 1,500,000.

Total Biaya yang dikeluarkan tiap bulannya sebesar Rp. 26,500,000.  Jadinya setiap bulan akan terjadi negatif cash flow sebesar Rp. 1,500,000. dari mana kekurangan itu ditutupi ? dia memakai kartu kredit lagi sehingga hutang kartu kreditnya tidak pernah lunas.

Melihat struktur biaya seperti diatas, saya sarankan dia untuk melakukan penghematan, dimana penghematan yang dapat dilakukan adalah:

1. Biaya makan agar dikurangi besarnya, dimana cukupi dulu syarat pemenuhan gizi dan diatur menunya.

2. Biaya-biaya listrik, PAM, Hp, TV dan internet dikurangi sampai batas minimum pemakaian.

Setelah dihitung-hitung, maka terdapat penghematan sebesar Rp. 1,000,000 setiap bulannya dimana dia masih negatif Rp. 500 ribu.  Setelah itu, saya lihat asset yang dimiliki, ternyata kondisinya sebagai berikut :

1. Rumah seharga Rp. 650 juta dan masih KPR dengan sisa pinjaman sebesar Rp. 250 juta lagi.

2. Mobil merupakan COP perusahaan.

Karena asset yang paling besar yang dimiliki adalah rumah, maka saya sarankan untuk lakukan restructuring dengan melakukan refinancing rumah ke bank lain dengan nilai sebesar sisa pinjaman dan hutang kartu kredit agar tidak ada lagi kewajiban untuk membayar cicilan kartu kredit.

Setelah dilakukan refinancing sebesar Rp. 350 juta yang digunakan untuk melunasi hutang KPR sebelumnya dan hutang kartu kredit, maka cicilan KPR dia hanya Rp. 4,7 juta setiap bulannya. Mengapa biaya KPR nya bisa turun? karena jangka waktu pinjamannya diperpanjang sehingga angsuran menjadi lebih ringan. Karena itu posisi cash flow dia pada saat ini dia berubah menjadi positif Rp. 5,8 juta.

Dari contoh kasus diatas dapat ditunjukkan bahwa tanpa menambah pendapatan/penghasilan tapi dengan merubah struktur cost, maka kondisi cash flow berubah dari negatif Rp. 1,5 juta menjadi positif Rp. 5,8 juta.  Seringkali kita terbelenggu akan kondisi cash flow karena tidak mengetahui bagaimana cara merestructuring keuangan kita.

Belum lama ini dia lapor sudah dapat membeli mobil baru dengan cicilan Rp. 2,9 juta dan kondisi keuangan masih terjaga…..meskipun saya agak khawatir karena pasti akan muncul biaya operasional dan pemeliharaan mobil baru.  Tapi harusnya dia sudah bisa belajar bagaimana biaya harus dikendalikan agar tidak melebihi pendapatan yang dia miliki.  Paling tidak dia masih punya tabungan sebesar Rp. 2,9 juta tiap bulannya yang dapat digunakan untuk biaya yang tidak terduga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: