Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Pak Ugi

read & write, berita99.com

Lebaran Yatim Buya Idris

REP | 25 November 2012 | 20:20 Dibaca: 149   Komentar: 0   0

Anak-anak yatim (foto: ipabionline.com)

BEBERAPA hari ini banyak terdengar istilah “lebaran yatim”. Di banyak tempat yang budayanya diwarnai Islam, memang tanggal 10 Muharram sering disebut sebagai hari lebaran bagi anak yatim. Termasuk di kultur Betawi.

Kabarnya, lebaran bagi anak yatim ini merujuk pada dalil ini:

“Diriwayatkan bahwa Rasul saw menyayangi anak-anak yatim, dan lebih menyayangi mereka pada hari 10 Muharram (Asyura) dan menjamu serta bersedekah pada 10 Muharram bukan hanya pada anak yatim tapi keluarga, anak, istri, suami dan orang orang terdekat, karena itu sunnah Beliau Saw dan pembuka keberkahan hingga setahun penuh.” (Faidhul Qadir juz 6 hal 235-236)

Saya tidak akan membahas soal lebaran yatim ini. Tetapi saya akan bercerita tentang peristiwa yang selalu terkenang setiap menjelang lebaran yatim ini. Padahal, peristiwanya sudah berlalu lebih 30 tahun yang silam.

Ketika itu, di awal 1980-an belum ada trend fullday school seperti sekarang. Tetapi, saya sudah sekolah seperti di fullday school. Pagi di sekolah umum di SD Yayasan Mahaputera di Cilandak, lalu siang sepulang sekolah langsung sekolah lagi di Madrasah Hidayatut Thalibin di Cilandak Tengah untuk menuntut ilmu agama.

Suatu hari jelang 10 Muharram, seperti biasa, sebelum masuk kelas, murid-murid Madrasah berbaris rapi di aula terbuka yang luas. Biasanya, ustadz-ustadz bergantian memberikan tausiyah sebelum mempersilakan barisan yang paling rapi untuk lebih dulu masuk kelas.

Kali ini berbeda. Yang berbicara di depan barisan adalah Kepala Madrasah, (Allah Yarham) Buya KH Idris Kaisan. Setelah berucap salam yang diulang lagi karena para murid tak menjawabnya dengan kompak, beliau mulai menyapa.

“Hoi anak-anak…” sapanya dengan gaya lenong Betawi. Maklum, ini memang madrasah di tengah masyarakat Betawi. “Lu semua tahu ini apaan?” lanjutnya sambil menunjukkan sesuatu yang terbungkus rapi dengan kertas sampul coklat.

“Kagaaaak…” sahut murid-murid.
“Lu semua kudu tahu. Ini hadiah buat anak-anak yatim. Isinya ada buku, alat tulis sama barang-barang lain. Kenapa anak-anak yang udah pada kagak punya baba (bapak -Betawi) dapet hadiah ini?” tanya Buya Idris lagi.

“Kagaaaak…” lagi-lagi murid-murid menyahut serempak.
“Sebab, hari ini hari Lebaran Yatim. Kita semua kudu sayangin temen-temen kita yang udah pada kagak punya baba… Ngartiii?” sahut Buya Idris.

“Ngartiii….” timpal murid-murid.
“Bagus,” Buya Idris manggut-manggut. “Jadi, semua murid yang yatim, hari ini bakal dapet hadiah ini,” lanjutnya. Terdengar sorakan lumayan ramai. Rupanya banyak juga anak yatim di sini.

“Lu semua yang bukan yatim, mau dapet hadiah ini juga?” tanya Buya Idris.
“Mauuuuu….” serempak murid-murid menjawab.
“Boleh. Tapi… matiin dulu baba lu!” Buya Idris menjawab dengan intonasi serius. Murid-murid kaget dan sontak berteriak, “Haaaah….???”

“Mau kagak, matiin baba lu dulu supaya dapet hadiah kaya temen-temen lu yang udah yatim ini???” tekan Buya Idris.
“Kagaaaak….” riuh rendah murid-murid menjawab. Buya memandangi murid-muridnya dengan sayang. Tatapannya menyejukkan. Nada suaranya kembali lembut.

“Nah, lu sayang-sayangin dah baba lu. Jadi anak yang nurut sama orangtua, mumpung lu masih pada punya orangtua yak? Sayang-sayangin juga temen-temen lu yang udah pada yatim… Setujuuu?”
“Setujuuu….”

Cara yang luar biasa unik untuk menanamkan pesan. Murid diajak berdialog dan berpikir. Hasilnya, pesan itu tertanam hingga kini. Lebih 30 tahun sesudahnya…

*Serangkum doa untuk (Allah yarham) Buya KH Idris Kaisan dan para asatidz Madrasah Ibtidaiyyah Hidayatut Thalibin

sumber:

http://www.berita99.com/inspirasi/3573/lebaran-yatim-buya-idris

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 3 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 8 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 8 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 9 jam lalu

Surga Kecil di Sukabumi Utara …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: