Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Oom Arsalan

oom arsalan adalah nama panggilan saya. nma saya aslinya adalah Mukhtarom alMuttaqin.

Makna Sholat

REP | 21 November 2012 | 20:52 Dibaca: 560   Komentar: 0   0

Bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi, dan hanya untuk membohongi orang lain; maka semuaya merupakan keburukan dan sumber malapetaka di muka bumi. Tidak bisa dipegangi artinya ke-lima rukun islam itu tidak dapat dirasakan manfaatnya bagi kesejahteraan hidup. Misalnya secara teoritis banyak orang yang pandai berdalil bahwa shalat harus dikerjakan secara khusuk. Tetapi fakta yang terjadi melatih seseorang untuk bisa khusuk itu tidak gampang. Bukan hanya yang dilatih yang tidak dapat mengerjakan sholat khusuk, tetapi kebanyakan yang melatih pun belum bisa mengajarkan shalat dengan khusuk.

Sedangkan bagi orang-orang yang melupakan dan mengabaikan makna shalat, hanya akan mendapat murka-Nya. dalam artian shalat yang dikerjakan oleh kebanyakan orang telah kehilangan ‘ruh dan maknanya’. Shalat merupakan hal yang mencelakakan manusia bila hanya dikerjakan sebagai pemenuhan formalitas, hanya sebatas mengugurkan kewajiban, alias tidak mampu memberikan manfaat bagi orang-orang yang menderita. Tidak adanya perubahan perilaku yang signifikan kearah yang diridhai Allah swt. Al-qur’an telah mengkritik dengan Firman-Nya,

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Qs. Al-Mâ’un: 4-7)

Dari ayat tersebut pelaksanaan shalat bukanlah sebuah tujuan dalam hidup ini. Shalat merupakan sebuah etika dalam kehidupan beragama. Makna dan tujuan dibalik pelaksanaan shalat itulah yang tidak boleh diabaikan. Perilaku orang yang shalat dan yang tidak shalat harus berbeda. Karena out put dari shalat yang benar (khusuk) tercermin dalam kehidupan sehari-hari dengan terwujudnya kehidupan yang rahman lil ‘alamin. Kasih sayang terhadap sesama, perhatian terhadap lingkungan, tidak membuat onar, taat terhadap rambu-rambu lalu lintas, meminjam istilah Gus Luthfi ‘hidup bersih, benar, tidak menyakiti orang lain.’

Suatu syari’at yang hanya ditunaikan secara formal itu merupakan hal yang buruk. Padahal sekarang ini banyak orang berpandangan bahwa, “Yang penting shalat dikerjakan, daripada tidak.” Ada juga yang berlasan; “Lho, yang mengerjakan shalat saja banyak yang tidak bisa berbuat baik, apalagi yang tidak.” Hal demikian saya nilai sebagai suatu yang salah ‘pengandaian’. Salah dalam mengambil perbandingan. Ini tidak bisa disamakan dengan siswa yang menghadapi ‘ujian esai’. Bagi yang akan menempuh ujian esai, tentu saja harus belajar dan berlatih terlebih dahulu agar bisa lulus. Bila tidak pernah belajar dan berlatih, jangan berharap bisa lulus.

Ibadah juga dapat dianalogkan dengan ‘upacara’. Ibadah merupakan upacara yang disertai keyakinan agama. Orang yang mengikuti upacara di kantor pemerintahan atau istana Negara merupakan kewajiban. Hadir di upacara sekedar kewajiban. Formalitas. Setelah itu, koruptor ya kembali korupsi. Si maling kembali mencuri dsb.

Sekarang ini kita menyaksikan keadaan demikian di negeri ini. Tempat ibadah penuh sesak. Berbondong-bondong orang yang melakukan formalitas ibadat—apalagi shalat dua Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha-red). Tetapi perilaku negatif kian hari semakin meningkat. Terbukti korupsi di negeri ini tergolong nomor wahid. Rasa solidaritas, sepenanggungan seperasaan, semakin kandas. Tak berbekas. Para elit pemerintahan cuek, tak acuh pada penderitaan orang banyak, orang kaya tidak mau memperhatikan yang miskin. Yang penting gue enjoy. Keagamaan hanya sebatas pada simbul. Dan, identitas diri belaka. Belum sampai pada penghayatan keagamaan. Akhirnya apa yang terjadi…? Bencana melanda negeri ini. Mala petaka tak kunjung usai, sejak pertengahan 1977 sampai sekarang 2008. Ini semua bisa terjadi karena kita cuma riyak dalam beragama.

Sehingga praktik keagamaan tidak berimplikasi—membekas terhadap “amar ma’ruf nahi munkar” seolah-olah praktik rukun Islam itu tak terkait dengan akhlak atau budi pekerti dan perjuangan hidup. Sehingga timbulah istilah “sholat oke dan maksiat jalan terus” dengan kata lain rukun Islam dikerjakan, perintah dan larangan pun diabaikan. Sebagian besar umat bangsa ini belum mampu menjadikan syari’at Islam–khususnya shalat–sebagai motivator kecerdasan keagamaan.

Jika seseorang telah mancapai derajat menjadikan syari’at Islam sebagai motivator kecerdasan, maka insya Allah hidupnya akan selalu berdzikir kepada Allah swt meskipun dalam keadaan bergerak, berdiri, rukuk, sujud dan duduk dalam satu kesatuan, maka terciptalah ketenangan batin. Yang mana dalam shalat ada ‘washala’ yaitu tindakan untuk menghubungkan, menyatukan diri dengan Tuhan. Bila ini tercapai maka lahirlah ‘kasih’. Yang terejawantahkan tercegahnya seseorang yang menegakkan shalat dari perbuatan keji dan munkar.

Nah, tujuan shalat itu untuk mencegah perbuatan dan tindakan keji dan munkar. Bukan untuk mendapatkan surga. Jika orang sudah tidak berbuat keji dan munkar maka surganya akan datang dengan sendirinya. Seseorang dikatakan terbebas dari perbuatan dan tindakan keji bila ia sudah tidak lagi melakukan perbuatan yang memalukan. Tidak lagi berbuat yang menjijikkan. Ia bebas dari perbuatan dan tindakan munkar bila ia tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum yang berlaku. Lalu bagaimanakah shalat yang benar itu?

Sholat yang benar adalah sholat yang mengikuti Rasulullah serta didasari dengan rasa cinta kepada Allah swt. Dan menyadari dengan sepenuh hati bahwa diri ini tidak lebih dari seorang hamba-Nya. Sebagaimana diterangakan oleh Imam Ibn Atha’ illah as-Assakandari di dalam Hikamnya, menukil pernyataan Rabi’ah al-Adawiyah dalam satu munajatnya;

“Ya Allah jika aku menyembah Engkau karena mengharapkan surga, maka campakkanlah surga kepadaku. Jika aku menyembah Engkau karena takut akan neraka, maka lemparkanlah aku kedalam neraka Engkau. Namun jika aku menyembah Engkau semata karena cintaku kepada Engkau, maka perkenankanlah aku melihat Wajah Agung Engkau.”

Inilah makna dari Firman-Nya,

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,” (Qs. Al-Mu’minun: 1-2)

Wallahu a’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 6 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 18 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 18 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: