Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rahib Tampati

Rahib yang hidup di biara Tuhan

Mengapa Israel Lemah dan Gamang dalam Perang Gaza?

OPINI | 20 November 2012 | 08:51 Dibaca: 5281   Komentar: 0   2

Israel kembali lagi mengelar mesin perangnya di Gaza, setelah perang selama 22 hari pada tahun 2008-2009 yang tidak membawa hasil apa pun untuk negeri zionis ini, Israel memulai kembali petualangan barunya. Mendemonstrasikan kekuatan perangnya yang tidak seimbang terhadap para pejuang Palestina di Gaza.

Perang hari ini (2012) kembali menunjukkan kegamangan perang yang dilakukan oleh Israel. Kecenderungan ini bisa dilihat dari faktor dan strategi perang yang dilakukan oleh negeri Zionis ini yang masih melakukan pengeboman membabi buta tanpa sasaran yang tepat dan jelas. Menyerang fasilitas – fasilitas umum dan akhirnya jatuh korban rakyat sipil.

Sampai detik ini pun Israel masih melakukan perang psikologis dalam ancaman perang darat yang tidak akan menjadi pilihan para elit militer Israel. Padahal strategi dan taktik perang udara tidak akan menghasilkan apa pun kecuali kerusakan di bagian infrastruktur. Taktik dan strategi militer Hamas dan faksi militer lainnya di Gaza takkan tersentuh oleh perang udara ini, kecuali berhadapan langsung di darat.

Kegamangan ini bisa terlihat ketika Israel mengelar perangnya pada perang pertama di Gaza beberapa tahun yang lalu. Israel terpojok karena melakukan kekuatan berlebihan dalam menghadapi roket – roket para pejuang Hamas. Julukan raksasa buta yang mengamuk pun diberikan oleh media massa kepada negeri ini.

Mengapa Israel begitu gamang untuk menghadapi Hamas dalam perang darat? Jika alasan Israel untuk menghindari jatuhnya korban di fihak sipil maka sebuah kekeliruan dalam melihat perang ini. Apakah serangan udara yang serampangan tidak mengakibatkan korban di pihak sipil? Roket – roket Hamas ternyata lebih efektif dalam menyerang sasaran militer Israel. Padahal secara teknologi, Hamas tidak memiliki peralatan militer modern kecuali rakitan yang dilakukan oleh para elit militernya.

Kali ini perang Gaza telah “membangunkan” beberapa pemimpin Arab yang langsung menunjukkan reaksinya kepada aksi militer Israel di Gaza. Perkembangan ini tentu saja membawa Israel kembali dalam kegamangannya dalam hubungannya dengan negara – negara Arab. Sidang OKI yang ingin melakukan peninjauan ulang terhadap Israel tentu akan membawa kerugian kepada negeri Zionis ini. Apalagi hak membela diri yang selalu di utarakan oleh para elit Israel tidak lagi mampu menipu dunia dengan segala logika dan retorikanya. Israel kembali di pojokkan dan hanya berteman dengan Amerika yang menjadi patronnya dalam setiap petualangan militernya.

Hamas memberikan kejutan

Dalam perang kali ini Hamas kembali lagi memberikan kejutan – kejutan kepada negeri Zionis. Roket – roket mereka berhasil menembus Tel-Aviv dan memberikan efek kejut psikologis yang dramatis. Suara sirene membuat warga Israel bersembunyi dalam tempat – tempat perlindungan dan Hamas berhasil memberikan pesan yang jelas bahwa mereka telah siap dengan perang panjang kepada negeri Zionis ini.

Roket – roket Hamas pun menyasar kapal – kapal perang Israel di lepas pantai Gaza dan membawa kerusakan yang hebat. Hamas berhasil memodernkan roket – roket mereka dan menjadi mimpi buruk bagi militer Zionis. Apalagi Hamas berhasil meluncurkan roketnya dari bawah tanah, sebuah upaya melakukan taktik baru dalam perangnya terhadap Israel. Hamas semakin terorganisir dan tahu konsekuensi dan siap membayar harga mahal untuk perang untuk ini.

Hamas dan faksi militer lainnya tentu sudah menunggu Israel untuk mengelar perang darat di Gaza dan melakukan kesalahan besar di sana. Ketangguhan moral dan disiplin faksi militer di Gaza tentu saja bukan tandingan militer Israel yang kehilangan moralnya dalam perang kali ini. setelah kalah perang dalam perang Libanon dengan Hizbullah (2006) dan kekalahan dalam perang pertama di Gaza (2008-2009) Israel telah kehilangan moral dan dampak psikologis yang berat. Sosok militer tangguh dan tak terkalahkan telah di hancurkan oleh Hizbullah dan Hamas.

Israel tidak akan mampu lagi mengelar perang panjang di Gaza jika hanya mengandalkan serangan udara yang serampangan, dunia akan kembali memojokkannya. Jika taktik dan pilihan militer Israel hanya mampu memberikan pilihan itu, maka Israel akan kehilangan momentum perangnya dan kembali kalah dalam perang ini dan efek psikologis bagi militernya akan semakin berat. Tapi jika Israel mengelar perang darat, kemungkinan besar Israel tidak akan mampu memprediksi apa yang akan terjadi dan hasilnya terhadap tujuan – tujuan perang mereka.

Kegamangan Israel dalam perangnya terhadap Hamas (2012) telah membuat masyarakat dunia melihat dan mengukur bahwa Israel semakin lemah, kebingungan dan tidak mampu bersikap proporsional.

Rahib Tampati

—————————————–

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Cari Info Wisata Bukan Paket Liburan …

Pandu Aji Wirawan | 8 jam lalu

KIS Diberlakukan, SDM Kesehatan Siap-Siap …

Dian Arestria | 8 jam lalu

#R …

Katedrarajawen | 8 jam lalu

Australia Berubah Total, Indonesia Perlu …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Bebaskan MA! …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: