Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hamisati Muftia

Mahasiswi Ilmu Komputer, Universitas Gunadarma. Web developer (berbasis CMS, khususnya Joomla atau Drupal). Calon Putri selengkapnya

Kalimat Mutiara

OPINI | 17 November 2012 | 16:41 Dibaca: 217   Komentar: 0   0

Kita tentu mengenal istilah ‘kata-kata mutiara’ yaitu (umumnya diartikan sebagai) suatu kalimat atau kutipan yang memberikan inspirasi/ide bagi pembacanya.

Berarti harusnya disebut ‘kalimat mutiara’ dong, yah ? :D Kan biasanya sudah menjadi satu frasa (bahkan lebih) yang mempunyai arti. Jadi harusnya disebut kalimat dong. (ngomong apa sih gue?  :-/ )

Biasanya, kalimat mutiara (yang selama ini gue temukan) susunan kalimatnya indah-indah begitu lah. Yang banyak beredar umumnya merupakan kutipan dari orang-orang sukses dan terkenal.
Sewaktu SMA, gue hobi mengoleksi kalimat mutiara. Bahkan gue punya satu binder yang isinya kalimat mutiara. Full kalimat mutiara semua. Gue juga sering nyimpen SMS-SMS tausiyah cukup banyak. Gue berharap dari kalimat mutiara yang gue koleksi tersebut…mereka bisa menginspirasi gue.
Tapi gue heran, karena kenyataannya tidak.
Kalimat mutiara yang gue koleksi itu,..hanya sedikit  yang turn on the lamp di kepala gue. Nyangkut gitu lah. Sebagian lainnya hanya memberikan gue efek kejutan sesaat, kemudian memotivasi diri gue sesuai dengan pesan di kalimat tersebut. Cuma sebentar tapi.

Gue sempat berpikir beberapa saat.

Apakah kalimat ‘mutiara’ bisa benar-benar menjadi mutiara buat gue ?

Salah seorang sahabat di SMA berkomentar,
“Lo itu ngoleksi banyak kata-kata mutiara, tapi nggak ada yang nyangkut di kepala lo . Lo nggak berubah karena itu.”

She’s right. Gue sempet ngerasa ada yang salah, bukan dengan kalimat mutiaranya, tapi dengan guenya.

Akhirnya gue sadar, sebagai orang yang sebagian dirinya mengagumi keindahan bahasa, gue mengagumi kalimat mutiara sebagai kalimat nasihat yang merupakan refleksi hidup dari orang yang mengucapakan (halah, ngomong apa pula ini ? ). Bahasanya pun umumnya indah-indah. Itu yang bikin gue suka. Bisa jadi kalimat tersebut menginspirasi dan memotivasi. Tapi, dari sekian banyak kalimat motivasi mungkin efek motivasinya nggak permanen buat gue. :D Hanya sedikit yang memberikan motivasi permanen.

Bahkan jika itu kutipan dari al-Qur’an dan hadits Rasulullah sekalipun. Maksudku begini, sebagai seorang muslim tentu gue percaya perkataan Rasulullah merupakan perkataan yang baik, apalagi ayat al-Qur’an. Banyak yang mengandung hikmah yang baik. Gue tidak meragukan hal itu.

Tapi itu belum tentu turn on the lamp di kepala gue. Jika gue membaca ayat atau hadits mengenai keutamaan shalat dan mengaji, kemudian gue suka ayat atau hadits tersebut. Apa itu berarti gue lantas jadi orang yang rajin shalat tepat waktu plus shalat sunnah kemudian rajin mengaji ? Belum tentu.

Lho, kok bisa ?
Balik lagi ke gue-nya.
Akhirnya gue menyimpulkan bahwa selama ini kalimat mutiara tidak akan menjadi benar-benar mutiara jika kita memang tidak meniatkannya.

Semua itu tergantung kita. Kalimat mutiara banyak bertebaran di sekitar kita. Kitalah yang memutuskan untuk menjadikan itu kalimat mutiara atau hanya kalimat nasihat yang indah tapi tidak berarti apa-apa untuk kita. Hanya kita yang bisa memutuskan untuk ‘nyalain lampu’ di kepala kita atau nggak.
Selain itu, gue pernah menemukan ada orang yang hanya mau mendengar nasehat jika si A saja yang ngomong, atau si B, atau orang dari suku tertentu yang ngomong, orang dari agama tertentu yang ngomong, orang dari golongan tertentu yang ngomong.

Sifat seperti ini sangat tidak tepat dan tidak baik menurut gue. Kalimat mutiara kan bisa datang dari mana saja, termasuk dari orang yang mempunyai latar belakang SARA yang berbeda dengan kita.
Kalimat mutiara tidak hanya dimiliki oleh orang yang sukses dan terkenal tapi juga orang yang kelihatannya biasa aja. Bisa datang dari tunawisma pinggir jalan raya, penjaga warung tetangga, anak kecil, abang gorengan depan kampus, omelan nenek gue, dari banyak orang.

Kalimat mutiara bisa dari mana aja. Bisa ngambil hikmahnya atau nggak, itu tergantung kita.

Kalimat mutiara yang memberikan motivasi cukup permanen buat gue antara lain :

“Be yourself.”

Yah,gue tahu. Ini umum diketahui orang. Tapi begini sejarahnya.

Gue pertama kali mendengar kalimat ini tidak lama setelah ortu gue berpisah. Gue kelas 5 SD waktu itu. Bokap gue bilang :
“Jadilah diri sendiri, nak. Be yourself. Jangan jadi seperti ayahmu. Atau jadi seperti ibumu. Kamu harus bisa jadi diri sendiri.”
Ngeliat kondisinya waktu itu. Apalagi pake kata ayah-ibu segala. I don’t know. Itu cukup terekam di kepala gue.
Meski sampe sekarang gue ga yakin apa gue bisa jadi diri sendiri .   :)

yah, mudah2an tulisan ini membuat kita jadi lebih banyak mendengar, menghayati, dan mengamalkan.

Gimana menurut pembaca?  :)

Tulisan ini pernah saya post di Forum Dudung.Net.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: