Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Yodha Haryadi

Jakarta citizen that concerns on development for prosperity and better life: "I love you when selengkapnya

Suami Bisa Ngidam

OPINI | 16 November 2012 | 12:44 Dibaca: 1709   Komentar: 0   1

Sepertinya istilah ngidam hanya ditemukan di Indonesia, lebih khusus lagi Jawa. Buku-buku tentang kehamilan antara lain menjelaskan bahwa ngidam merupakan efek psikologis wanita hamil sebagai bentuk mengharapkan perhatian lebih dari orang-orang terkasih di sekitarnya seperti suami dan keluarga dekat. Ketika hamil, berbagai hormon terbentuk dalam tubuh wanita, yang mana hal tersebut tidak akan dijumpai pada wanita yang tidak hamil. Hormon-hormon tersebut antara lain menyebabkan mual di pagi hari, mudah capek, pernafasan yang pendek-pendek, emosi yang seperti angin, dan lain sebagainya. Adanya janin dalam rahim menuntut wanita untuk berhati-hati menjaga kehamilan tersebut dengan konsekuensi yang lumayan berat seperti perut membuncit, gerakan yang tidak lagi bebas, baju-baju yang kesempitan, dan sulitnya tidur nyaman. Kondisi tersebut wajar jika menyebabkan wanita hamil butuh perhatian lebih, baik secara sadar maupun bawah sadar, sehingga sering bersikap atau melakukan perbuatan yang tidak seperti biasanya. Contohnya, mencium harum minyak wangi bukannya senang malah mual; bersemangat melahap mangga muda yang tidak sanggup dilakukan pada kondisi normal saking asam rasanya; tidak mau pakai bedak dan menyisir rambut.

Tiga bulan pertama setelah hidup bersama istri, teman penulis dihadapkan pada kejadian-kejadian yang susah diterima akal. Dalam sehari, bisa lebih dari 5 kali menyisir rambut. Sekali menyisir bisa bermenit-menit sambil mematut-matut di depan kaca. Istri terheran-heran kenapa suaminya jadi begitu genit. Ketika nonton TV dengan duduk di karpet, pinggang terasa sakit, tak tahan duduk walau baru 5 menit. Jadilah nonton TV dengan bantal-bantal disusun tinggi sebagai sandaran. Manja memang. Ketika sedang jalan-jalan sore di taman, baru 100 meter sudah berhenti istirahat, lutut gemetar, keringat dingin bercucuran, dan nafas tersengal-sengal. Untuk menenangkan kondisi badan yang belum dipahaminya, ia mencoba merokok. Ketika mengambil satu batang untuk dinyalakan, ia merasa mual begitu aroma rokok tercium. Rokok tidak jadi dinikmati. Jelas kondisi badan sedang tidak wajar, karena sebagai perokok, biasanya minimal 3 batang sehari dihabiskan. Puncak keanehan badan adalah setiap pagi hari, ia tidak hanya mual, namun muntah hebat sampai keluar cairan kuning perut yang teramat pahit di kloset kamar mandi.

Sang istri yang belum berpengalaman namun mengerti gejala kehamilan dari membaca, curiga. Ia mampir ke apotek, membeli test-pack kehamilan dan hasilnya memang positif. Ia tidak mengalami gejala awal kehamilan seperti mual di pagi hari atau morning sickness, karena memang suaminya yang ngidam. Ketika hormon-hormon kehamilan tidak mungkin terbentuk dalam tubuh seorang pria, bagaimana penjelasannya ngidam bisa dialami oleh pria?

Catatan: pernah diceritakan lewat facebook

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 5 jam lalu

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 15 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 16 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: