Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Tria Cahya Puspita

Katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Lihat, dengar dan rasakan…menulis dengan selengkapnya

Wonderful Indonesia!

OPINI | 14 November 2012 | 08:03 Dibaca: 1858   Komentar: 13   1

1352855590273467807

Barong (Photo by Tria Cahya Puspita)

Beberapa tahun yang lalu kita sering terkejut dengan aksi saudara kita. Tetangga terdekat kita. Malaysia. Malaysia menampilkan iklan pariwisata yang terkemas cantik dan menarik. Mengaku sebagai “Truly Asia”. Beberapa kebudayaan yang kita mengakuinya sebagai kebudayaan Indonesia, muncul di situs dan iklan pariwisata sebagai milik Malaysia. Malaysia mengklaim bahwa budaya bahkan lagu daerah Maluku yang telah diubah liriknya, sebagai miliknya. Geram? Tentu saja.

Tapi apa yang bisa kita lakukan? Hanya berdiam diri. Tak melakukan apapun demi kemajuan pariwisata Indonesia. Bahkan kita memperburuknya dengan berkelahi sesama putra bangsa. Menghilangkan keinginan penduduk negara lain untuk mengunjungi Indonesia. Bahkan membuat dunia takut untuk datang kemari.

Selain itu, kecenderungan masyarakat Indonesia suka sekali dengan segala sesuatu yang berbau luar negeri. Kesan luar negeri akan meningkatkan harga diri di mata orang lain. Betapa bangganya seseorang ketika mampu pergi ke luar negeri. Entah dalam rangka tugas atau pekerjaan maupun liburan atau jalan-jalan.

Ketika pada akhirnya saya melangkahkan kaki ke luar negeri, saya terkejut. Iklan pariwisata yang ditampilkan dengan begitu menarik ternyata tidak seindah yang terlihat. Indonesia jauh lebih cantik. Dalam perjalanan saya bertemu dengan seseorang yang menanyakan asal. Ketika saya menyebut Indonesia, ia tak mengenalnya. Menunjukkan ketertarikan pun tidak sama sekali. Tetapi ketika saya menyebutkan salah satu pulau tujuan pariwisata dunia yang sangat terkenal, ia malah bertanya. “What are you doing here???” Ia menanyakan pada saya, apa yang saya lakukan di sana. Menurutnya pulau tersebut sangat indah, jadi mengapa saya malah berada sangat jauh dari tempat tinggal saya. Saya hanya tertawa dan menjawab bahwa saya ingin menjelajah dunia. Ingin tahu dunia.

Saat ini saya melihat perubahan pola jalan-jalan masyarakat Indonesia. Dulu masyarakat Indonesia sangat suka berkunjung ke luar negeri. Sekarang banyak bertebaran cerita perjalanan di dalam negeri Indonesia. Yang artinya tingkat kunjungan ke berbagai daerah mengalami peningkatan. Saya tidak akan memberikan data mengenai hal tersebut. Tapi saya akan mengingatkan anda akan betapa banyaknya kisah perjalanan yang ditulis masyarakat tentang budaya, pemandangan dan kuliner berbagai daerah Indonesia.

Lihat saja di layar televisi hari Sabtu dan Minggu. Begitu banyak acara tentang budaya, pemandangan dan kuliner daerah wisata di Indonesia. Terkadang televisi juga menyisipkan tentang kebudayaan daerah Indonesia dalam suatu acara. Seperti acara Bukan Empat Mata yang saya lihat semalam. Dayak Night. Tema acara Bukan Empat Mata tadi malam. Menampilkan kebudayaan suku Dayak. Acara tersebut diawali dengan tarian Dayak yang sangat menarik. Lihat pula buku-buku yang terbit belakangan ini. Banyak sekali catatan perjalanan seseorang ketika berwisata ke daerah di Indonesia. Salah satu buku yang menarik adalah “The Naked Traveler”. Buku yang membangkitkan keinginan dan inspirasi orang lain untuk wisata. Meskipun dengan biaya yang murah. Ada juga buku yang berisi kumpulan cerita dari orang-orang yang memiliki pengalaman unik ketika mengunjungi suatu daerah. “The Journeys 2 - Cerita dari tanah air beta”. Bahkan ada majalah khusus berisi mengenai tempat-tempat wisata dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan wisata. Majalah “My Trip-Just pack and go” yang terbit tiap 2,5 bulan. Hal tersebut membuat keinginan saya semakin menggebu untuk mengunjungi berbagai tempat di Indonesia.

Indonesia memiliki ribuan pulau. Indonesia juga memiliki beragam kebudayaan dan bahasa. Kebudayaan berbagai daerah tersebut tidak kalah dengan kebudayaan negara lain. Justru kebudayaan Indonesia yang beragam tersebut merupakan modal pariwisata Indonesia. Pemandangan alam Indonesia sangat cantik dan kaya nuansa. Pegunungan, pepohonan, hutan, sawah, sabana, pantai, dan laut semua ada di Indonesia.

Dulu, saya sangat suka dengan iklan rokok. Bukan karena iklan tersebut menampilkan produknya. Tapi lebih karena iklan itu menampilkan alam Indonesia dengan sangat bagus. Masih ingatkah dengan iklan “Bentoel”? Kemanakah iklan itu kini? Saya sungguh sangat merindukannya. Saya berpikir mengapa pemerintah Indonesia tak bisa menampilkan iklan tentang pariwisata Indonesia sebagus itu?

Terlepas dari iklan pariwisata Indonesia, kini saya senang melihat adanya gerakan pariwisata di Indonesia. Pemerintah mulai menyuarakan Indonesia melalui slogan “Wonderful Indonesia”. Melalui websitenya www.indonesia.travel, pemerintah memberikan informasi seputar daerah tujuan wisata di Indonesia. Tidak hanya Bali yang menjadi tujuan wisata. Namun juga daerah lainnya. Wisata Indonesia menggeliat.

Sayangnya, hal ini tidak bersamaan dengan peningkatan kualitas daerah tujuan wisata tersebut. Masih banyak sampah bertebaran. Kurang terawatnya tempat wisata tersebut. Serta tingkah laku penduduk setempat terhadap wisatawan yang kurang baik. Hal ini dapat menyebabkan orang tak ingin berkunjung ke daerah itu. Jika saja pemerintah dan masyarakat bersama-sama mau menjaga, melestarikan, merawat dan mengembangkan potensi daerah yang ada, tentu wisata Indonesia bisa maju. Semakin menarik wisatawan asing untuk berkunjung dan berwisata ke Indonesia.

Semoga pemerintah semakin memperhatikan khasanah budaya Indonesia. Berharap wisata Indonesia semakin berkembang. Kalau bukan diri kita sendiri yang menghargai, siapa lagi? Mari, galakkan wisata Indonesia !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 9 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 11 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 13 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 13 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepotong Asia di Jakarta Street Food …

Syaifuddin Sayuti | 8 jam lalu

Negeri Para Pezina …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indonesia Gagal Raih Keajaiban di Vietnam …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Swasembada Medis …

Harfina Finanda Anw... | 8 jam lalu

Sepakbola bukan Matematika …

Guntur Cahyono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: