Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muthmainnah Maret

MAHASISWA PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ITS | gonna be the world booster | Perubahan itu bisa diraih |

Di Balik Hari Pahlawan dan Orasi Pak Habibie

REP | 10 November 2012 | 21:45 Dibaca: 683   Komentar: 0   1

Bismillahirrahmanirrahim

Mumpung masih hangat, ngga ada salahnya membagi pengalaman saya hari ini. Tidak ada yang berbeda hari ini dengan hari-hari sebelumnya. Kecuali hari ini adalah Hari Pahlawan. 10 November 2012, yang mana hari ini adalah juga hari ulang tahun Almamater saya tercinta, kampus perjuangan , Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Ada yang spesial di ulang tahun ITS ke-52, bisa dikatakan unforgettable moment bagi saya. Hari ini ITS mendatangkan Mr. Crack. Anda tahu itu julukannya siapa?, yup, he’s Bacharuddin Jusuf Habibi. Saya tidak tahu seberapa populer orang super coolest ini di mata anda. Bagi saya beliau adalah sosok inspiratif. Mungkin dunia tidak terlalu mengenal Indonesia dengan statusnya sebagai negara berkembang. Tapi dunia, terutama Kedirgantaraan mengenal Habibi dengan baik. Beliaulah yang berhasil menemukan rumus untuk menghitung penyebaran retakan pada pesawat terbang. Sebuah metode terbaru untuk membantu penyelesaian permasalahan keselamatan pada pesawat terbang. Sayangnya, sayangnya, sayangnya, beliau adalah Warga Negara Kehormatan Jerman (bukan  WN Jerman sepenuhnya). Padahal menurut penuturan beliau, darahnya adalah 50 % Jawa dari ibunya, 25 % Bugis dan 25% Gorontalo dari ayahnya yang campuran (mohon dibenarkan kalo salah. Denger sambil ngantuk-ngantuk :D). Tapi Jerman dengan bangga mengakui, He is Germany. Bahkan di Jerman,  menurut salah satu artikel yang pernah saya baca, sampai-sampai rute perjalanan turis di Jerman melewati rumah Beliau dan dengan bangga Guidenya akan mengatakan itulah rumah Mr. Habibi,  Mr. Crack. Saya tidak tahu kebenarannya karena saya belum pernah ke Jerman dan melancong di sana. Tapi suatu hari saya akan ongkang-ongkang kaki di sana (Ngemis) hehehe.

Sayangnya hari ini bukan cerita tentang Pak Habibi sebenarnya. Tapi tentang saya. kegilaan saya untuk bisa foto dengannya. Meski dalam hati saya beristighfar, “Ya Allah jangan marah ya, saya tergila-gila sama Pak Habibi sebentar hehehe”. Anda sangat dibolehkan untuk tidak melanjutkan membaca, karena secara tidak langsung, ini bisa membuat anda gila.

Saya lupa kapan pastinya melihat info kalo Pak Habibi ke ITS. Yang saya inget sekali dengan pasti, tekad saya sendiri waktu baca informasi itu. “Wah Pak Habibi ke ITS, Ya Allah ijinkan saya foto sama Beliau”. Begitu teruusss setiap kali orang-orang di sekitar saya membicarakan kedatangan Beliau, atau ketika saya melihat baliho dan poster-poster di lingkungan kampus.

Oke. Begitu dapat informasi harus daftar ke mana, saya cus. Apa lagi kuota cuma 1000 orang. Saya harus termasuk salah satu diantaranya. Tapi kemudian sedikit kecewa, entah bagaimana penjelasannya, ternyata sistem registrasi itu tidak berlaku. Kita harus cepet-cepetan datang ke Graha. Istilahnya siapa cepat dia dapat.  Fine! Dalam hati dan saya omongin sama Dinda, “We’ll be there at 7.00 am”. Apalagi kalo bukan biar dapet tempat dan posisi strategis. Did i?.Seperti biasa saya yang lalai dan nggak on time ini, baru bangun jam 6.15. Subuh saya lewat pemirsa. Malas saya datang, “Apa ngga usah aja ya datang ke Graha. Paling dapat tempat duduk di lantai atas. Mana bisa lihat Pak Habibi”. Lalu kebiasaan buruk saya selama satu bulan ini menggoda saya. Tidur lagi. Oh Gosh!

Parahnya saya baru bangun jam 8 kurang. Masih sempet-sempetnya saya melakukan pembelaan terhadap kebiasaan buruk saya dan meninggalkan janji saya sendiri mau ke Graha jam 7. “Halah paling acaranya jam 9 baru di mulai. Ngapain panas-panas di Graha. Pak Habibinya juga pasti belom datang. Lagian libur-libur gini kan anak-anak ITS biasanya males. Mugkin juga mereka ngga inget kalo ada orasi ilmiah Pak Habibi hari ini”Dengan santai, lebih tepatnya lelet, saya siap-siap. Sholat Dhuha sebentar dan ditutup dengan doa, salah satunya bisa foto sama Pak Habibi.

Siap cus, eh kunci motor sama pagernya belum saya bwa. Ini dia memang ujian buat orang-orang yang lalai. Hampir 15 menit nyari 2 kunci itu ngga ketemu-ketemu. Saku jaket, celana, laci, tas, bantal seprei semuanya saya hamburkan. Di bawah kolong tempat tidur juga ngga  ketemu. Panik karena waktu terus berjalan, dan Dinda sms kalo Grahanya sudah penuh. Matilah saya. Seketika saya menyesal kenapa saya bangun telat, kenapa saya tidur lagi, kenapa saya meremehkan janji saya sendiri. dan kunci masih belum saya temukan. Saya turun ke lantai 1 kali aja tuh kunci masih nyantol di motor, dan jreng juga tidak ada. Pada dasarnya saya adalah pelupa akut. Dan itu adalah penyakit paling buruk dari saya.Balik ke kamar saya hampir menyerah, tidak mungkin bisa ikut ke Graha lagi. Percuma. Toh tempatnya uda penuh. Tapi saya sudah melakukan banyak kesalahan dan kalo sampe saya ngga datang, apakah saya bisa memaafkan diri saya sendiri nanti. Dengan putus asa, saya melirih pada-Nya, “Ya Allah, kenapa saya sepelupa ini?” memohon pada-Nya untuk memengembalikan ingatan saya. Ajaib memang, seperti tersentak oleh kesadaran saya sendiri, diikuti bunyi ‘cling’ (lebay). Saya inget kalo kemaren, terakhir pake motor pake jaket yang satunya. Langsung saya rogoh, kuncinya disana. Alhamdulillah.

Horsi (motor saya), saya pacu dengan kencang. Parahnya sepertinya dia lagi ngambek. Waktu saya mau belok longgarin gas dan nurunin gigi, eh ngga bisa. tetep aja si Horsi giginya nangkring di 4.  Mayak. Bagaimanakah ekspresi muka saya yang menggas lagi sekuat tenaga tapi motornya malah mengeluarkan suara berat dan ngga bisa cepet karena giginya masi di 4. Crap!.

Tiba di Graha, saya disambut dengan pemandangan yang membuat saya tambah shock. Bahkan parkir motornya sudah penuh. Terpaksa saya parkir di Sistem Informasi. Wow tebakan saya tentang mahasiswa-mahasiswa lain yang mungkin lupa hari ini ada orasi Pak Habibi salah besar. Bahkan mereka bejibun. hanya untuk melihat seorang B.j. Habibi. Saya mengutuk diri saya lagi. You know what? semua pada rapi, necis, kemejaan, pake batik,  pake Jas Almamater. Apa karena Pak Habibi? Dan saya, honestly sedikit malu dan menyesal, melirik yang nyangkut di badan saya adalah kaos lusuh dan tanpa jas almamater. Saya akan sangat marah pada diri sendiri kalo ngga dibolehin masuk gara-gara pakaian saya.

Apakah saya sesial ini? Ternyata lebih sial lagi sodara-sodara. Mahasiswa biasa ngga boleh masuk dulu. Mengutamakan para undangan dan teman-teman dari KM ITS. Wow, dalam hati saya mulai berburuk sangka, pameo ‘kesempatan hanya buat mereka yang punya jabatan’ bahkan sudah di praktekkan di kampus yang notabene mahasiswanya idealis. khakhak. Jadilah saya duduk bersama 2 teman saya yang sudah nyarter kursi buat saya di depan tv. Alias saya akan lihat Pak Habibi streaming? Streamiiing? Streamiiiiing? Oh my gooooddd. This was impressive jackpot. Can’t believe this happened to me.

Semenit, dua menit, acara belum dimulai. Salah satu teman saya, punya teman yang jadi panita. Alhasil bisa masuk di lantai 1 bersama undangan lainnya (mau donk ikutan). Ternyata lantai atas sudah boleh diisi. Kami yang berada deket tangga langsung aja cus. Karena kata panitia yang bikin barikade di tangga, “kuotanya untuk 100 orang pertama aja ya”. Bersama mahasiswa lain saya ikut-ikut berdesak-desakan melenturkan tubuh agar bisa nyelip. Sset…..Seeet Sett. Yes! Sempet saya dengar obrolan mahasiswa-mahasiswa lain. “Ya ampun demi apapunlah”. Saya pernah ikut kuliah-kuliah tamu lainya dari pesohor-pesohor juga, tapi berbeda dengan ini. Animonya berbeda.

Sampe di lantai 2, full. Oke, lantai 3. Full juga. Dapatlah kami di deretan belakang. untuk melihat Pak Habibi leher harus mengikuti gerakan manusia-manusia di depan kami. Mereka melihat ke kanan, maka leher saya akan ke kiri. Mereka ke kiri, saya ke kanan. Sampe pegel. Tujuannya cuma satu melihat Pak Habibi yang cuma kelihatan kepalanya doank sak upil. Sebelum itu Dosen ITS dan paduan suara ITS menyanyikan lagi Widuri. Katanya itu lagu kesukaannya Beliau. Lewat layar, saya melihat Pak Habibi disorot kamera dengan Toga yang miring dan hampir saja jatuh dan beliau kelihatan lucu sekali saat berusaha menangkapnya.  Spontan para hadirin tertawa, bukan tertawa negatif, tapi tawa yang hangat sekali. Itulah pertama kalinya saya melihat Beliau langsung, meski cuma lewat layar tapi sangat jelas. Lagu widuri masih mengalun indah. Entah dari mana asal muasal, saya merasakan mata saya panas. saya tidak tahu atas dasar apa saya ingin sekali mengangis melihat beliau. Haru mungkin kali ya. ato sedih sekaligus. Seandainya Pak Habibi di Indonesia, dan negara ini punya industri pesawat terbang, betapa segannya dunia pada Indonesia tercinta ini. Sedih karena hari ini adalah Hari Pahlawan, orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan, tapi Indonesia dengan segala polemiknya masih terjajah.

Saya berusaha menahan air mata saya. Malu kali Jeng masa’ gitu aja nangis ya. Tapi saya punya teman, Si Mbak depan saya juga lagi nyeka matanya pake ujung kerudung hahahahahaa. Saya coba ngambil gambar beliau pake camdig saya. Eh ngga kliatan ternyata. Terlalu jauh. Melihat sikon, sepertinya pupus sudah harapan saya untuk foto sama Beliau.  Bicara soal camdig, lucu lagi. Beberapa hari yang lalu SD-cardnya kena virus, jadi filenya ngga bisa diambil. Saya minta tolong temen benerin. Oke, jadi. Ternyata memorinya penuh karena filenya ngga di cut.  Jadi sambil nunggu saya apusin tuh foto satu-satu. Eh malah ngga bisa dan error lagi. Sibuklah saya mencari orang yang bawa laptop biar SD-cardnya bisa diformat. Sial, ngga ada yang bawa. Ada sih satu, katanya pake linux jadi ngga bisa ngeformat. Oke. Sudahlah tidak usah foto sama Pak Habibi. Mau foto pake apa, orang kameranya ikutan ngambek. Bodohnya saya, kan di kameranya bisa ngeformat langsung. Hahahaaa. Balik ke acara yang sudah dimulai, lama-lama saya pusing karena kepala saya miring ke kanan dan ke kiri terus. Pak Habibi ngomong, tapi orangnya ngga kelihatan. Ya sudahlah.

Lewat perut yang keroncongan kesempatan itu datang. Meninggalkan pidatonya Pak Habibi (aslinya saya emang suka dengerin beginian) dan Adinda, saya turun cari makan. Biasanya  di Graha ada yang jual bakso gerobak. Nyampe di lantai 2, sumprit tambah rame. Ada yang berdiri, duduk di tangga. Lantai 1, malah berjejer sampe pintu masuk. Melihat orang-orang yang menatap saya, honestly, kali ini saya benar-benar tidak merasa nyaman dengan kaos saya. Di antara orang-orang yang berpakaian rapi. Nunduk liat kaki, saya jalan ke belakang Graha, depan UPT. Baksonya sepi. Cuma saya sendiri. Saya makan sambil liat deretan Pete Cina yang lagi berbunga oranye, merah-merah gimana gitu. Tanpa daun, hanya ada bunga dan bunga. Biarpun namanya Pete Cina, saya justru merasa di bawah pohon sakura, Jepang. Gimana bisa coba

Emang dasarnya saya sangat escapist, sambil makan dan mendengar sayup-sayup suara Pak Habibi, saya sibuk berhayal. Gimana kalo ntar saya teriakin nama Pak Habibi dari lantai 3. “Pak habiiibiiii I love you”. Terus Pak habibi lihat asal suaranya, dan menemukan saya yang lagi dadag Beliau. Gila ngga siii. Ato nanti pas balik, saya lewat pintu utama di lantai 1, lari ke depan dan minta foto sama Beliau. Saya senyum-senyum sendiri bayangin ide-ide gila ini.Bakso habis, tapi saya belum beranjak. Muter otak gimana caranya biar bisa foto sama Pak Habibi. Itu tekad saya. Tidak boleh diganggu gugat. Gimana pun caranya saya harus foto sama Beliau. Dari alam bawah sadar, saya nantangin diri sendiri, saya harus, harus, harus foto sama beliau. Apapun resikonya, hari ini hari perjuangan. saya harus mendapatkan apa saya inginkan. I really know i’m silly, insane, or anything. But i’m sure what I really want. So i must get it.

Beranjak kembali ke graha melewati pintu utama, sambil lirak lirik kali kali bisa nyusup masuk. Kesempatan terbuka 60 % kecuali karena ada dua perempuan mengenakan jas almamater,  sepertinya panitia. Malu kali ya Nek kalo pas Eke masuk terus di setop. saya liatin aja tuh orang, eh ternyata temen sendiri. Siap-siap pake jurus cakar ayam andalan,  “Hei Jeng, aduh pada ngapain, panitia ya &*%$#@?$^!….”Akhirnya saya bisa masuk hahahaa. Berdiri dulu donk, ngamatin kursi kosong, dan tidak ada ternyata. Pak Habibi lagi memasuki prosesi penerimaan penghargaan dari ITS. Selesai penerimaan penghargaan, krasak krusuk ibu-ibu dan bapak-bapak undangan pada bubar jalan. Means, kursi kosong. Aseekk. Saya menunggu deretan kursi yang paling dekat sama karpet biru kosong. Posisi harus strategis, kalo nanti selesai, pasti rombongan Rektorat dan Pak Habibi lewat situ. Paling ngga kan bisa salaman. Mupeng :D

I got it. Posisi berpindah. Sms Dinda biar ke lantai 1. Tuh kan bener tu rombongan lewat sini. Tiba-tiba semua orang desakan di pinggir karpet. Kayak orang jatuh cinta jantung saya berdebar-debar melihat Beliau yang mendekat dan semakin mendekat. Sangat dekat. Agak berlebihan, tapi bisa menyalami Beliau adalah momen yang berarti bagi saya. Rasanya salaman sama Pak Habibi tu seperti dikejar Hiu berkaki panjaaang (lebay versi produk kopi instan). Tidak berhenti di situ, saya menarik Dinda, ngejar beliau lagi. Kan belum foto. Kayaknya Dinda ngga selebay dan segila saya. Jadi saya tinggalin, saya lari-lari, eh orangnya naik ke lantai 2. Yaelaaaahh. Saya memikirkan opsi terakhir. Tunggu sampe Beliau pulang. Tapi belum sholat. Oke, cuma sampe jam 1. Lebih dari itu pulang. Perjanjian yang tidak menguntungkan hubungan saya dengan Allah itu terjadi.

Dinda masih ngobrol sama teman SDnya. Eh malah anak-anak Aceh pada ketemu juga dan mulai ngobrol. Saya tenggelam dalam pikiran saya sendiri. Kalo tunggu diluar mana bisa foto. Pasti Pak Habibi makan di lantai 1. Berarti Beliau bakal turun lewat tangga dalam. Tanpa babibu, uda aja tu di depan ruang prasmanan. Ngga seperti biasanya, saya sama sekali tidak tergoda dengan makanan-makanan itu. Saat ini, pikiran saya berputar-putar dan berputar gimana caranya harus bisa foto sama Pak Habibi. Ide sedikit ekstrim lagi, deketin aja panitia yang dari dosen, tapi siapa ya. Hmmm…akhirnya cuma nunggu Pak Habibi turun. Tuh kan boro-boro minta foto, uda langsung dikerubungi aja sama barikade satpam digiring ke area santap siang. Lalu dengan siap siaga dan penuh pertahanan mereka berjajar di pintu masuk.

Yahhh…demi kegilaan saya biar bisa foto sama Pak Habibi, rela berdiri di situ nungguin, sambil lirik orang yang lagi makan. Es-esnya itu hmmm nyam-nyam. Eit focus. Dinda berhasil nemuin saya di pintu prasmanan, jadi kita nunggu Pak Habibi bareng. Ternyata ada Andri, anak Arsi yang juga pengen foto. Kata Si Satpam ada sesi Jumpa Pers, nanti bisa foto-foto. Nanti??? Sekarang uda mau setengah 1. Hell no!. Sedihnya saya tidak punya bolpen ato buku-buku Pak Habibi, jadi tidak bisa minta tanda-tangan kayak teman-teman yang lain. Konyolnya lagi, yang ngga punya buku beliau, bela-belain minta tanda-tangan pake buku print-print-an materi orasi Hahhaha. Termasuk Dinda yang saya kompor-kompori buat minta. Apapun lah, asal ada. :D

5 menit, 10 menit berlalu. Ngga mungkin nunggu di sini terus. Lagian Pak Habibi uda kelar makannya. Jumlah Satpam berkurang, dari 4 tinggal 2. Yang 2 lagi nganterin bukunya teman2 yang minta TTD. Ada orang nih satu, usaha banget ngajakin ngobrol tuh satpam biar di bolehin masuk. And me?, saya sedang deg-degan, mempertimbangkan opsi terakhir. TEORBOS! TEROBOS! TEROBOS! Apapun resikonya. Satu langkah kaki saya uda di dalam ruangan itu. Saya mundur dengan alami waktu Satpam ngelirik saya. 5 menit saya ngga bisa nunggu lagi, pengen rasanya saya teriak,“Pak Habibiiii….”

1, 2,3….. Satpam lagi lalai. Hap! Saya benar-benar menerobos sodara-sodara. Saya langsung merasakan tatapan ingin membunuh dari 2 Satpam di belakang saya dan menunggu mereka menangkap saya, lalu di interogasi dan di hukum karena saya sudah lancang. Apapun saya tidak peduli lagi, Pak Habibi di depan saya. Tidak persis, karena belaiu sudah dikerumuni massa dari media, ada Eureka Tivi, Tv One dll. Ada satpam juga di sekeliling beliau dan dengan was-was saya berpikir mereka akan menarik paksa saya keluar.

Mbak reporter Tv One selesai wawancara. Hap!, tidak saya biarkan Pak Habibi dibawa kabur. Spontan saya panggil Beliau yang membelakangi saya, “Pak Habibi, Pak Habibiiii, Pak saya mau foto sama bapak”. Kayak di film-film dengan gerak slow motion saya tidak bisa mendengar suara apaun selain suara saya sendiri dan Pak Habibi. “Pak Habiiiiiiibiii, saya mau foto sama Bapak”. Saya masih belum sadar sampe sebuah tangan merangkul pundak saya dan Beliau adalah Bacharuddin Jusuf Habibi. Saking deg-degan, saya cuma bilang, “Tolong fotoin donk Mas”. Tapi saya ngga ngasih camdignya. So stupid.

Akhirnya saya di foto dan melihat hasilnya. Tapi agak kabur. Jadi saya memutuskan,”Pak sekali lagi” Sambil memegang kamera dengan tangan kanan saya sendiri. Foto versi Alayers, hahaa. Dan hasilnya lebih buram pemirsa-pemirsa yang budiman. “Sudah-sudah”. kata pihak Rektorat yang mengawal Beliau. Saya hanya terdiam. I did it. I got the photograph. Yeesss!!! Saya ingin berteriak tapi saya tau itu hanya akan membuat saya terlihat lebih idiot. Dalam perjalanannya menuju mobil, beberapa kali saya berusaha mendapatkan foto teman saya dengan beliau tapi tidak berhasil karena kerumunan orang yang sangat banyak. Waktu semuanya uda kelar, barulah terpikir betapa tingkah saya tadi memalukan. Humiliated my self. Pasti saya terlihat seperti orang Ndesoo yang ngga pernah liat orang, ngga pernah foto. sangaat lebaaay dan berlebihan hanya untuk hal kecil, Cuma untuk foto. Whatever, saya punya keinginan, meski itu hanya mimpi kecil tapi saya harus pastikan bisa mendapatkannya. Jika hal kecil dan sepele saja saya tidak bisa raih, merasa malu, dan tidak yakin, bagaimana dengan hal-hal yang besar? Kadang-kadang kita harus menjadi katak tuli untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan catatan selama itu baik. Dan “kegilaan” adalah hal yang mutlak di perlukan. Hanya orang-orang “gila” yang melakukan hal-hal yang tidak mungkin bagi orang waras.

Kalo anda tau Merry Riana, mungkin cerita saya sama ketika dia pertama kali ketemu motivator kelas Kakap (padahalkan Hiu lebih besar) favoritnya, Anthony Robbins . Kalo saya hanya di kerumunan orang yang sedikit, mahasiswa pula, di berlari di antara 3000-an orang-orang beken, menuju panggung hanya untuk bisa menjabat tangan si Antony. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Ketika seminar selesai, Merry diajak ke belakang panggung dan berfoto bersama

Besar itu datang dari yang kecil :D

Satu lagi, tidak peduli siapapun kita, asal kita mau, kita bisa meraih apaun yang kita ingin kan. Sebelumnya saya berpikiran sinis, sirik ato apapun lah, “enak ya jadi teman-teman Eureka TV (TV ITS), mereka bisa ngeliput Pak Habibi langsung, bisa wawancara langsung, kali juga bisa foto bareng ya”. Tapi dugaan saya salah, ketika saya selesai foto sama Pak Habibi, seorang teman saya yang sudah di Eureka Tv sejak 2009, dia juga ikut ngeliput dengan lirih dan sedih ngomong “Wah Muth senangnya kamu bisa foto” Sepertinya dia belum dapat bagian ni hehhee.

Tidak bermaksud berlebihan, ini cuma sharing saya soal keyakinan :D

1352559039350565621

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

Lolos CPNS Tanpa Sogokan …

Asri . | 8 jam lalu

Jokowi, PDIP, dan SBY Demokrat …

Forro Chandra | 8 jam lalu

Meningkatkan Guru Anak Usia Dini Lebih …

Heny Darwis | 8 jam lalu

Reformator… Jangan Pernah Lengah Mengawal …

Sjahrir Hannanu | 8 jam lalu

Akhirnya …

Rudi Kurniawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: