Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Sofian Munawar Asgart

SOFIAN MUNAWAR ASGART. Lahir di Garut, Jawa Barat 29 Desember 1969. Master FISIPOL-UGM dengan mengambil selengkapnya

Ibuku, Pahlawanku !

REP | 08 November 2012 | 17:20 Dibaca: 900   Komentar: 11   2

13523696422100326279

ibuku, pahlawanku …

Sepanjang perjalanan hidup kita, adakah yang lebih berjasa kepada kita selain ibu? Saya tahu, jawaban atas pertanyaan ini tentu akan beragam. Namun saya punya keyakinan bahwa sebagian besar jawaban atas pertanyaan ini adalah: TIDAK ADA! Siapapun anda, entah seorang direktur atau tukang cukur, insinyur atau tukang sayur, jenderal atau kopral, pengamen atau parlemen, guru, dosen, menteri, presiden, bahkan raja atau seorang bandit sekalipun… pasti ia terlahir dari seorang ibu. Karenanya, tak dapat dipungkiri bahwa ibu merupakan sosok paling sentral dan monumental dalam hidup dan kehidupan kita. Rasanya, tidaklah berlebihan jika aku sendiri menyebut ibuku sebagai pahlawanku, bahkan tentu melebihi predikat itu.

Ibuku adalah pahlawanku, bukan saja karena ia telah melahirkan dan membesarkanku. Lebih dari itu, ia adalah manusia pertama yang memberi segala inspirasi. Suka-duka, sedih-gembira, tangis dan tawa, segala senang dan derita. Darah, gairah, keringat, semangat, cinta dan air mata –adalah sebongkah mutiara hidup dengan segala pemaknaan, kecemasan dan pengharapan– ditumpahkannya dengan penuh kerelaan dan kasih sayang. Sepanjang perjalanan hidupku, tentu begitu banyak atau bahkan terlalu banyak pengorbanan dan pemberian yang telah dicurahkan ibuku untukku hingga aku tidak akan sanggup menghitungnya. Kalau pun aku harus mengingat dan menyebut pengorbanan dan pemberian itu satu per satu, aku yakin, apa yang kuingat dan apa yang kusebut pasti jauh lebih sedikit dari daftar pengorbanan dan pemberian ibuku yang tidak dapat kuingat dan tidak dapat kusebutkan.

Namun dari semua itu, hal yang paling kuat kuingat dan kesan yang paling membekas dalam hatiku dari sosok ibuku adalah kesabaran, ketegaran dan kegigihannya. Ini antara lain terrekam dari bagaimana ia merawat, mendidik, dan membesarkan aku dan sepuluh orang kakakku dalam rentang waktu lebih dari setengah abad. Ada sebelas putera-puteri terlahir dari rahim ibuku. Sekitar 40-an tahun yang lalu, aku sendiri baru mampu mengingat dan menyadari bagaimana kesabaran, ketangguhan, dan kegigihan ibuku menghadapi segenap persoalan kehidupan, termasuk dan terutama menangani keunikan sekaligus kenakalan sebelas orang anaknya. Masih segar dalam ingatanku bagaimana ibuku begitu sabar meladeni rengekan kerewelan dan kebandelanku dari hari ke hari. Namun segala kerewelanku selalu dihadapinya dengan senyum dikulum, dengan ketegaran dan kesabarannya.

Kesabaran dan ketabahan ibuku laksana batu karang yang tegar dihantam gelombang pasang. Sementara kegigihan yang ditampilkannya bak pahlawan yang tandang ke medan juang. Pernah suatu ketika, aku dan tiga orang kakakku sakit keras dalam waktu bersamaan. Menghadapi situasi ini, ayahku tampak pasrah menyerah dan bahkan nyaris frustasi sehingga ayah seolah tak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Dengan ketegaran dan kegigihannya, ibuku justru yang tampil lebih sigap menghadapi situasi sulit itu. Saat itu, ibuku bukan saja tampil sigap menjadi perawat yang sabar dan cekatan, tapi ia begitu gigih mengupayakan berbagai alternatif untuk penyembuhan kami.

Aku yakin, sebagai manusia biasa, ibuku tentu diliputi rasa galau dan gundah-gulana menghadapi situasi yang mencemaskan seperti itu. Namun kecemasan, kegalauan, dan kepanikannya nyaris tak pernah ia pertontonkan di depan kami, anak-anaknya. Yang justru sering kami saksikan dari ibu adalah semangat juang dan kegigihannya dalam menghadapi sejumlah masalah. Tanpa berkeluh kesah dan tanpa banyak bicara, segala masalah dihadapinya dengan tenang dan disikapinya dengan heroik serta penuh optimisme. Dengan sikap dan tindakannya itu, ibuku seolah ingin mengatakan bahwa sebesar apapun persoalan yang kita hadapi, pasti akan ada jalan keluar untuk mengatasinya. Ibuku sungguh telah menjadi teladan dan pahlawan bagiku, pahlawan bagi keluargaku.

13523697681354967404

me and mom

Sikap heroik dan kepahlawanannya terutama ditunjukan ibuku saat ayahku meninggal dunia pada 1979. Sejak ayahku meninggal, ibuku tentu menanggung beban hidup yang amat berat: beban moral, sosial, maupun finansial. Namun demikian, situasi sulit dan himpitan hidup yang amat berat itu sama sekali tidak membuat ibuku patah semangat. Banyak hal dilakukan ibuku agar kami tetap mampu bertahan. Beragam upaya dilakukan ibuku agar kami tetap dapat melanjutkan sekolah, agar kami mampu memenuhi segala kebutuhan untuk meniti dan menjalani kehidupan. Kegigihan dan heroisme yang dicontohkan ibuku, bukan saja telah mampu mengantarkan kami melewati masa-masa sulit, tapi sungguh telah menjadi inspirasi terpenting dalam hidupku.

Kini usia ibuku sudah hampir satu abad. Seiring bertambahnya usia, fisiknya tampak semakin renta, namun jiwa dan semangat juangnya tetap terjaga, tetap menyala. Meski tubuhnya kian lemah, tapi kegigihan dan semangat juangnya seolah tak berubah. Kesabaran, ketegaran dan kegigihan tak bosan-bosan ia contohkan di hadapan kami: anak, cucu, dan cicitnya. Bagiku, teladan kesabaran, ketegaran, dan kegigihan yang ditampilkan ibuku menjadi sumber motivasi dan inspirasi tersendiri. Bagiku, ibuku adalah pahlawan sejati !

13523698631719761913

ibuku bersama cucu dan cicit …

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 5 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 7 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Daffa (2thn) Atlit Cilik Taekwondo …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | 8 jam lalu

Anak Muda Haruskah Dipaksa? …

Majawati Oen | 8 jam lalu

Gigi berlubang Pada Balita …

Max Andrew Ohandi | 8 jam lalu

Sosialisasi Khas Warung Kopi …

Ade Novit | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: