Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Aulia Gurdi

spread wisdom through writing...

Kutemukan Kebesaran Tuhan pada Diri Anakku

OPINI | 29 October 2012 | 09:07 Dibaca: 2388   Komentar: 115   38

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk refleksi dan catatan bagi saya khususnya dan bagi banyak orangtua pada umumnya. Semoga bisa menjadi renungan dalam perjalanan para orangtua mengawal buah hati tercintanya.

Sejak saya mempunyai anak spesial, saya selalu terusik bila ada orangtua yang suka marah berlebihan saat mendapati anak-anak mereka berlaku sangat aktif dan agresif terutama di masa balitanya. Bahkan terkadang juga menghukum secara fisik dan tak sabaran untuk setiap prilaku mereka yang kadang dianggap “nakal” itu. Anak ceriwis, dikeluhkan terlalu bawel sampai cape meladeni pertanyaannya, anak membantah dan melawan diomeli panjang lebar, anak membuat isi rumah serupa kapal pecah, bisa membuat ibunya begitu kesal sampai kepala mau ikut pecah, demikian seterusnya.

Padahal anak aktif adalah salah satu tanda anak yang sehat. Aktif bicara, agresif beraktifitas, kritis bertanya, kreatif berimajinasi. Bicara soal kreatif ini, bahkan ada seorang teman saya yang seluruh dinding sampai langit-langit rumahnya penuh grafiti hasil corat coret goresan karya anaknya, bayangkan betapa kreatif dan menguras kesabaran tingkah sang anak.

Benar, kadang memang prilaku aktif anak-anak kita  sangat membuat kita kewalahan. Tapi tahukah anda, saya kini sangat merindukan itu semua. Kenapa? Karena semua ciri anak-anak aktif dan sehat itu, kini tak saya temui pada diri anak bungsu saya. Itu karena Tuhan menganugrahi keistimewaan lain padanya. Ia penyandang autistik sejak lahir. Anak spesial begitu orang menyebutnya.

*****************

Anak spesial bukanlah sebentuk maha karya Tuhan yang salah cipta. Orang boleh saja melihat mereka sebagai manusia dengan sejuta keterbatasan. Namun ternyata keberadaan merekalah yang mampu membuat saya tetap menjejak kaki di bumi. Dari sosok merekalah saya mengerti arti bersyukur. Pada kekurangan dan keterbatasan merekalah, saya bisa melihat makna kesempurnaan sebagai wujud kebesaran Tuhan.

Mengapa saya katakan demikian? Sebelum saya memiliki seorang anak yang sangat spesial ini, saya abai dengan kenyataan betapa menakjubkannya proses tumbuh kembang seorang anak. Saya tak pernah merasa ada yang istimewa dalam proses anak bisa merangkak, berjalan, berlari, berbicara. Saya berpikir itu adalah hal biasa yang bisa dilakukan umumnya seorang anak manusia. Nothing special. Hal alamiah. Anak saya bisa berjalan? bukankah anak lain juga begitu? bisa berlari? yang lainpun demikian. Bisa bicara? ahh…teman-teman sebanyanya pun tak kalah cerewet mengoceh. Sesederhana itu saja pandangan saya dulu.

***************

Dua anak saya lahir sempurna. Maaf sebelumnya, ini saya ceritakan hanya sebagai gambaran betapa kita sering tak menyadari nikmat Tuhan yang seringkali menghampiri kita dengan cara yang berbeda. Si abang sebutan anak sulung saya bahkan dianugerahi wajah yang lucu dan menggemaskan. Si kakak, juga demikian, sehat, pintar berceloteh, pandai menulis. Ia juga mencoba kemampuan menulisnya dengan menjadi kompasianer di sini. Kemampuan mereka berdua berkembang dengan pesatnya. Kebetulan lagi, meski sangat aktif, mereka anak-anak yang penurut. Sehingga sepanjang ingatan saya, sangat tak terasa membesarkan mereka. Tahu-tahu mereka sudah pandai membaca. Tanpa perlu saya ajari dengan susah payah. Tahu-tahu mereka sudah remaja. Begitulah Tuhan memberi banyak kelebihan pada keduanya. Alhamdulillah…Segala puji hanya bagi Sang pemilik.

13468657591884385872

13468656721569520118

abang dan kakak semasa kecil

Sampai kemudian saat usia kakak 4 tahun, saya diberi lagi seorang anak sebagai amanah dariNya. Ia terlahir dengan rupa yang sama sempurna dengan abang dan kakaknya. Montok, spontan menangis saat lahir layaknya bayi sehat. Tak ada yang menyangka kemudian sederet vonis menghampirinya. Tak pernah saya bermimpi diberi amanah yang luar biasa ini.

Manusia memang mahluk penyuka kesempurnaan. Tak ingin diberi kekurangan oleh Yang Maha Kuasa. Demikian halnya dengan saya. Tentu kalau boleh memilih saya ingin di anugerahi anak-anak yang sehat walafiat. Jiwa juga raganya.

Tapi tak ada yang mampu melawan takdir. Di usia belia, bahkan belum genap 1 bulan, saat ia masih bayi merah, bayi saya di vonis akan lumpuh tak berdaya di kursi roda atau kalaupun berjalan butuh waktu lama dan usaha ekstra keras melatihnya. Semua itu akibat kejang tanpa demam yang dikategorikan dokter sebagai epilepsi parsial. Penyakit ini yang akan membuat tumbuh kembangnya terganggu. Terang saya merasa gamang saat itu. Luar biasa sedih juga menyangkal. Menjadi indikasi tabiat manusia saya yang emoh diberi kesulitan.

Perlu waktu lama untuk saya merenung menerima kenyataan yang saya anggap pahit saat itu. Mereka-reka apa kiranya hikmah Tuhan memilih saya. Seiring berjalan waktu, saya disadarkan akan banyak hal, terutama pada cara saya memandang rasa syukur. Sesuatu memang baru akan terasa nikmat ketika Allah mencabut sedikit nikmat itu. Selama ini saya tak menyadari bahwa punya 2 anak yang lucu dan sehat, walau kadang sangat aktif hingga menguras energi saat menjaganya, itu adalah sebuah nikmat Tuhan luar biasa sangat patut disyukuri.

Siapa mengira proses tumbuh kembang itu menjadi barang mahal bagi bungsu saya. Tahap demi tahapnya menjadi begitu saya nanti. Bilakah dia tengkurap, merangkak, duduk, dan berjalan, berbicara?  Semua begitu saya tunggu-tunggu. Sungguh penantian yang saya rasa begitu panjang.

Bungsu saya sangat pasif saat usianya dibawah 2 tahun, meski secara fisik terlihat montok, gempal dan menggemaskan. Di usia 6 bulan, saat anak lainnya sudah aktif berguling ia hanya bisa tergeletak terlentang. Sangat jarang tangis yang keluar dari mulutnya. Ia teramat anteng untuk ukuran seorang anak bayi. Sampai tetangga pun tak pernah mendengar tangisnya. Menjadi hal yang aneh, punya bayi tapi rumah sunyi dari tangisannya.

Saya sampai perlu membeli matras, sekedar mengajarinya berguling, membolak balikkan badannya dari telentang, tengkurap. Untuk kemudian merangkak, duduk dan berjalan. Sesuatu yang sepertinya mudah dilakukan bayi pada umumnya. Namun tidak untuk bungsu saya. Latihan itu berlangsung hampir setiap hari. Selain itu diperlukan pula bantuan tenaga terapis untuk  merangsang semua gerak motoriknya. Praktis waktu dan hari-hari saya habiskan bersamanya. Mengiringi tumbuh kembangnya.

.

13468650312033908110

inilah si bungsu, meski sangat pasif, fisiknya nampak segar di usia 3 bulan

.

Saat itu saya juga mengunjungi klinik terapi hampir setiap hari demi  membuatnya bisa bertumbuh. Klinik terapi yang jauh dari rumah, tak menyurutkan langkah saya. Meski untuk mencapai klinik trapi, saya harus turun naik angkot berkali-kali. Dan butuh 2 jam perjalanan, menembus kemacetan. Bersama terapisnya, saya latih terus motoriknya, agar tahapan tumbuh kembang itu bisa dikejarnya. Alhasil, tak hanya fisik si bungsu yang tergembleng, mental dan kesabaran saya sebagai ibunya pun ikut terasah karenanya.

Alhamdulillah, segala daya upaya saya membawa hasil, meski perlahan akhirnya ia benar-benar mampu berjalan diatas dua kakinya sendiri. Di usia hampir 2,5 tahun. Tanpa perlu bantuan kursi roda, seperti yang diprediksi dokter ketika ia baru sebulan hadir di dunia.  Subhanallah…saat itu tersungkur saya dalam tangis dan sujud yang panjang. Seperti bermimpi melihatnya bisa berjalan, tak terkira bahagianya.

Karenanya, syukuran kecilpun saya gelar. Memotong kambing dan membaginya pada anak yatim. Mungkin jarang anda mendengar ada orang potong kambing untuk  merayakan seorang anak bisa berjalan. Tapi ternyata bisa berjalan adalah karunia sangat berharga bagi si kecil saya. Perlu perjuangan mencapainya.

.

1346866115683498320

inilah ia kini…mampu berjalan bergandengan tangan bersama abinya

Kini di usianya yang 7,5 tahun, begitu banyak suka duka yang sudah saya lalui mengawalnya. Semakin besar, ia semakin hyperaktif. Benar-benar aktif yang tak terkontrol, hingga saya harus ekstra menjaganya. Tak mengerti bahaya, tak kenal rasa takut. Semua masih ditambah dengan keterbatasan komunikasinya yang masih non verbal. Sudah begitu banyak kejadian yang membuat jantung saya bekerja ekstra keras. Berkali-kali hilang, tak sekali cedera fisik. Dan saya pernah menulisnya disini dan disiniSelalu ada masa dimana saya lengah menjaganya. Karena saya hanya manusia biasa yang memang tempatnya salah dan lupa.

Kini yang begitu saya nanti adalah mendengar celotehnya memanggil saya. Saya begitu merindukannya. Rindu yang membuncah hingga sering terbawa dalam mimpi saya. Sekedar gambaran, anak saya sudah mengikuti terapi bicara sejak usia 6 bulan. Kini usianya 7,5 tahun. Berarti sudah 6 tahun lebih penantian saya. Namun belum sepatah katapun mampu dia ucapkan. Hingga saat ini, kamipun hanya bicara dengan bahasa tubuh. Itupun keinginannya tak selalu bisa saya mengerti. Terkadang perlu menerka-nerka apa yang ia mau. Perjuangan yang tak mudah. Dan Alhamdulillah, sampai detik ini saya masih tegar berdiri mengawalnya, semoga jiwa dan raga saya tak pernah lelah karenanya.

Sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Pepatah ini  mengajarkan kita, bahwa kita tak pernah malang sendiri. Boleh jadi diluar sana masih banyak berjuta anak lain yang tak seberuntung anak saya. Atau boleh jadi juga anak yang anda miliki lebih beruntung dari anak saya. Tengoklah selalu kebawah, agar selalu ingat untuk bersyukur.

Akhirnya kini…sepenuhnya saya bisa mengerti mengapa Tuhan mengamanahi saya merawat malaikat kecil ini. Karena hadirnyalah saya bisa memaknai setiap jengkal karuniaNya. Mengasah kesabaran saya yang selama ini terasa tumpul. Membuat jiwa saya semakin kaya dan bijaksana.

.

Karenanya tetaplah bersyukur atas sekecil apapun nikmatNya…

.

Semoga coretan kecil  ini berhikmah bagi anda

.

Tags: autisme freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 6 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: