Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Yudhi Hendro

Seorang suami dan ayah dari empat orang anak. Bekerja di salah satu perusahaan swasta di selengkapnya

Jangan Menilai Seseorang Hanya dari Penampilan

OPINI | 28 October 2012 | 13:09 Dibaca: 502   Komentar: 0   1

Kalau lagi ada maunya baru mendekat. Lagi ada masalah, baru mau menghubungi. Kesan Itu yang saya tangkap ketika mendapat berita SMS seorang teman yang mengabarkan, kalau saat ini dia dalam kesulitan keuangan. SMS yang saya terima dua hari lalu yang isinya meminta tolong, supaya saya bisa meminjamkan uang. Ya, dia mengalami masalah keuangan akibat terbelit utang dengan pihak bank.

Ceritanya, uang hasil utang tersebut selanjutnya diputar kembali untuk usaha bersama temannya. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, justru temannya yang melarikan uang tersebut. Pinjaman dari bank tidak bisa dilunasi, keuntungan dari usaha pun jauh dari harapan. “Tolong, Mas. Saya lagi ada kesulitan. Nanti kalau teman saya mengembalikan uangnya dan ekonomi saya stabil, uangnya saya ganti” .

Tak hanya itu, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Pihak bank memberikan warning, apabila utang tersebut tak dapat dilunasi, rumah yang dijadikan agunan akan disita. Sebuah pertaruhan yang sangat berani, ketika mengagunkan rumah tinggal yang dihuni keluarga untuk mendapat pinjaman dari bank.

Serba dilematis. Sebuah permintaan yang bagi saya sulit untuk dipenuhi. Di satu sisi, saya merasa iba membaca isi SMS tersebut dan secara manusiawi ingin menolongnya. Namun di sisi lain, bila melihat gaya hidupnya selama ini yang saya lihat, ibarat bumi dengan langit bila dibandingkan dengan saya.

Sering jalan-jalan ke mall dan kerap ganti mobil pribadi adalah kebiasaan yang pernah saya lihat selama ini. Terakhir tiga bulan yang lalu, saya lihat dia membawa mobil yang harganya saya taksir sekitar tiga ratusan juta rupiah. Jauh berbeda dengan mobil saya yang keluaran tahun 1992. Kalau mobil saya saat ini pun dijual, harganya tidak sampai seperempat harga mobilnya.

Sebuah gaya hidup yang sangat berbeda dengan diri saya. Bagi saya, jalan-jalan ke mall termasuk jarang, paling-paling sebulan dua kali. Itupun dengan catatan barang-barang apa yg akan dibeli, catatannya sudah ada di tangan. Apalagi memikirkan gonta ganti mobil.

Saya punya gaya hidup yang berbeda dengannya. Prinsipnya membeli barang-barang yang memang diperlukan dan bukan karena keinginan. Kalau tidak diatur seperti itu dan hanya menuruti keinginan, bisa jebol anggaran belanja sebulan. Akhirnya pendapatan sebulan pun habis hanya untuk konsumsi tanpa ada yang disisakan untuk tabungan atau investasi.

Pada saat kondisinya masih berjaya, berkelimpahan materi, hubungan kami biasa-biasa saja. Tak bisa dibilang dekat atau akrab. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Sesekali just say hello, kemudian ngobrol urusan pekerjaan atau perkembangan usaha sampingannya.

Secara hitungan materi, logikanya dia punya kekayaan jauh di atas diri saya. Namun pada saat ini, justru dia minta bantuan saya untuk memberikan pinjaman uang. Apa tidak terbalik? Namun, ibarat seseorang yang hanyut di aliran sungai yang deras, akar atau ranting pohon sekecil apapun akan coba diraih agar tidak hanyut dan tenggelam.

Demikian juga yang dilakukan teman saya. Mungkin tidak hanya saya yang dihubungi untuk dimintai pinjaman. Barangkali ada juga beberapa teman lainnya yang dimintai tolong.

Dari isi SMS tersebut juga saya dapat menyimpulkan bahwa kita tidak dapat menilai seseorang hanya dari sisi penampilannya saja. “Don’t judge the book only from its cover”. Jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya.

Jangan menilai seseorang hanya dari sisi penampilannya saja. Terkadang kita terkecoh dengan tampilan seseorang yang bergaya serba wah. Memang sepintas menggiurkan dan meyakinkan, namun kita tak tahu apa yang terjadi di balik itu. Ternyata, untuk berpenampilan wah, ongkos yang dikeluarkan juga harus wah. Bikin saya tak habis pikir dan geleng-geleng kepala. Apa yang sebenarnya sedang kau cari, kawanku?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Guru: Kunjungan SMA Darul Ulum 2, …

Ony Jamhari | | 29 November 2014 | 07:51

Justru Boy Sadikin-lah yang Pertama Kali …

Daniel H.t. | | 29 November 2014 | 00:12

Saatnya Regenerasi, Semoga PSSI Tak Lagi …

Rizal Marajo | | 28 November 2014 | 23:28

Gara-gara Tidak Punya “Kartu …

Adjat R. Sudradjat | | 28 November 2014 | 18:40

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 3 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 7 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangan Tekan Ahok Lagi… …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Orang Besar …

Jonson Sipayung | 9 jam lalu

Lakon Kursi …

Aditya Idris | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa - Cara Baru Meningkatkan …

Ghumi | 9 jam lalu

Tafsir Papua untuk Yansen …

Yusran Darmawan | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: