Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rz Hakim

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.

Taman Makam Pahlawan Patrang

REP | 06 October 2012 | 19:07 Dibaca: 194   Komentar: 0   0

13495291751729109400

Foto di atas saya dapatkan dari seorang kawan bernama Ndreexs. Meski tanpa angka tahun, tapi saya suka dengan foto tersebut. Alasannya sederhana, karena saya menghabiskan masa kecil di sekitar Taman Makam Pahlawan (TMP) Patrang.

Yang keren dari TMP Patrang adalah tugu-nya, lengkap dengan penangkal petir yang menusuk langit. Dan foto di atas membantu saya untuk mengingat bentuk tugu lama, sebelum dipugar.

Pada periode 80-an, gerbang TMP sudah mengalami pemugaran, tapi pintu besinya tetap seperti itu. Setidaknya itu yang berhasil saya ingat.

Tugu tersebut bertahan hingga saya melepas atribut bocah. Saya lupa-lupa ingat, kapankah tugu tersebut dipugar. Mungkin di awal atau pertengahan era 90-an, saat saya masih SMP.

Kenangan Saya Tertinggal di Tugu TMP

Di bawah tugu lama, dengan lantai tegel kasar berwarna putih mangkak, di sanalah biasanya saya melepas penat setelah bersepak bola di dalam lapangan TMP (dulu tiap sore TMP menjadi arena olah raga, sekarang sudah nggak boleh).

Di hari yang lain, saya merebahkan diri di bawah tugu sambil menatap ujungnya, hanya untuk mengeringkan rambut agar Ibu tidak tahu kalau saya habis mandi di kali bedadung.

Saat mendekati musim panen tebu, saat itulah saya (dan teman-teman masa kecil) memiliki porsi waktu yang banyak untuk duduk-duduk di bawah tugu. Hanya sekedar beristirahat setelah capek berlari menghindari amukan mandor tebu.

Ya, dulu sekali, tepat di belakang TMP terhampar lautan tebu yang berbatasan dengan sungai bedadung. Sekarang tempat itu sudah menjadi Perumahan Melon.

Antara tahun 1999 - 2001, setiap sore saya mengais rejeki di Perumahan Melon dengan berjualan tempe Cap Nyonya Tyas, dari pintu ke pintu.

Sepulang dari Perumahan Melon, kadang saya menyempatkan diri melongok ke arah tugu. Sayangnya, itu tugu yang tidak sama lagi. Bentuknya lebih pendek, tidak ber-unsur seni, semakin dipandang semakin terasa menyebalkan. Tapi itu hanya menurut perasaan saya saja, hehe.

Kenakalan di Masa Kecil

Perubahan jaman semakin menjauhkan saya dengan seorang sahabat imajiner bernama Dr. Soebandi. Biasanya, nisan yang bertuliskan nama Dr. Soebandi itu selalu menjadi saksi bisu atas hari-hari yang dulu pernah saya lewati.

Mencari selongsong peluru manakala ada upacara pemakaman, berburu keranjang saat ada tabur bunga, atau menghabiskan malam di hari-hari besar (seperti malam 17 Agustus, 10 November, dll), di sudut TMP dekat nisan Dr. Soebandi (lokasi favorit saya) hanya untuk mencari celah. Setelah ada kesempatan, saya merebut lilin lalu lari menghindari amukan para peserta renungan malam. Hmm, abaikan saja, itu hanya kenakalan kecil dari seorang bocah yang tinggal di kota (yang juga) kecil.

Ada Yang Aneh di Taman Makam Pahlawan Patrang

Dr. Soebandi tidak pernah marah atas apa yang dulu saya lakukan. Nisannya selalu membisu. Itulah kenapa saya tidak tega bertanya, kenapa nisannya ada di urutan kedua?

Beliau diyakini meninggal pada 8 Februari 1949, saat di Jember juga terjadi pertempuran, yang kita kenal dengan Agresi Militer II.

Yang ada di urutan pertama (di deretan TMP Patrang) adalah Brigdjen Pit Soendoro. Kalau tidak salah ingat, beliau meninggal pada tahun 1971. Nisannya yang mengatakan.

Kok bisa ya? Harusnya yang ada di urutan pertama adalah Dr. Soebandi, karena beliau meninggal dunia terlebih dahulu.

Kelak ketika saya duduk di bangku SMP kelas tiga, saat Mbah Kung saya meninggal oleh setrum dan dimakamkan di pemakaman Kreongan - Jember, saya mendapatkan jawaban tersebut.

Dimulai dari sebuah pertanyaan saat nyekar di pesarean Mbah Kung. “Pak, kok kuburannya Letkol Sroedji ada di sini? Beliau kan seorang Pahlawan? Kenapa tidak dimakamkan di TMP Patrang?”

Bapak tak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, “Iya, mulanya Taman Makam Pahlawan Jember ada di sini (di daerah Kreongan), kemudian dipindahkan ke Patrang, di TMP yang sekarang.”

Begitulah, jenazah Dr. Soebandi dipindahkan dari Kedawung ke TMP Kreongan pada 1950. TMP kemudian dipindahkan ke Patrang, dan jenazah Dr. Soebandi turut dipindahkan ke sana. Sedangkan makam Letkol Sroedji masih tetap di TMP lama, di Kreongan.

Ah, foto di atas memaksa saya untuk kembali menengok sejarah negeri ini, dimulai dari kota kecil Jember. Semoga setelah ini saya bisa menuliskan tentang profil seorang pejuang Indonesia yang namanya dijadikan nama Rumah Sakit Daerah di Jember, dan diabadikan juga sebagai nama jalan. Setidaknya, untuk mengenang masa kecil.

Penutup

Dalam foto tersebut, ada terlihat dua orang gadis kecil di kiri dan kanan gerbang TMP. Semoga tidak ada yang bertanya tentang siapakah mereka, karena saya juga tidak tahu.

Catatan saya yang lain :

1. Dr. Soebandi

2. Letnan Kolonel M. Sroedji

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 10 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 12 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 13 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: