Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rooy Salamony

Saya pelayan masyarakat rooy-salamony.blogg.spot.com

Bung Karno Masih Hidup

REP | 04 October 2012 | 21:31 Dibaca: 14568   Komentar: 4   0

Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia, masih hidup. Mengenakan pakaian kebesarannya - jas putih, celana putih - mantan presiden ini membawaku menemui satu demi satu pengawalnya. Aku menyalami para pengawal yang berseragam sipil. Lalu Bung Karno memberiku buku perjuangan Sun Yat Tsen. Aku memperhatikan buku itu baik-baik dengan sejuta tanya. Bung Karno tahu bahwa aku ragu. Antara percaya dan tidak percaya. “Sudahlah, katanya, Jika kamu ragu atau tidak percaya, silahkan kamu berlibur dahulu. Biar pikiranmu tenang”. Mantan presiden yang gagah itu memberiku tiket princess star. Aku memandang tiket itu penuh tanya. Tetapi setelah menaiki princess star aku baru sadar, bahwa inilah kapal pesiar yang megah, lengkap dengan semua yang dibutuhkan para pesohor. Perjalanan dengan kapal mewah berkeliling dunia ini akan berlangsung selama seminggu. Benar-benar luar biasa.

Apa yang aku kagumi dari Pak Karno adalah bahwa beliau menyediakan bagi bangsa ini harta karun negara sebagai cadangan devisi yang akan digunakan sewaktu-waktu. Emas. Perak. Permata. Mutu manikam. Uang Brazil. Semua tersimpan rapi di Bank Swiss. Setiap hari, Bung Karno datang ke Bank ini. Menyapa satu demi satu pegawai Bank dan bertemu dengan orang-orang kepercayaannya di sana. Pertemuan harian itu penting. Bung Karno memegang kunci utama ruang harta karun. Tetapi kepada tiap orang kepercayaannya ia memberikan kunci-kunci kecil yang memberi pada mereka akses menuju bagian-bagian dari ruang harta karun yang sesungguhnya terbagi-bagi.

Anda mungkin berpikir cerita ini bohong. Tapi beberapa pejabat dan orang penting di Jakarta tahu hal ini. Salah satu direktur Bank terkenal di Indonesia adalah satu dari sekian pemegang kunci ruangan itu. Ia bertemu dengan Bung Karno secara rutin.

Dari pembicaan dengan Bung Karno aku tahu bahwa harta karun bangsa Indonesia yang melimpah-limpah itu disiapkan untuk membangun Indonesia menuju masyarakat sejahtera adil dan makmur. Tetapi persoalan bagi beliau adalah mencari siapa diantara generasi bangsa ini yang dapat dipercaya. Ditengah kemeriahan pesta korupsi, kolusi dan nepotisme, mungkinkah Bung Karno menemukan orang yang dicarinya? Saya kira itu masih membutuhkan waktu yang sangat lama.

Meski aku pesimis dengan harapan Bung Karno, aku tahu bahwa setiap saat ia datang mengunjungi istana para leluhur di puncak gunung Lawu. Anda belum pernah mendengar nama istana purwa-nyata? Istana ini berlokasi di gunung Lawu. Dari arah kota Solo, anda bergerak melalui telaga Sarangan, terus mendaki ke arah vihara. Dekat lokasi vihara anda akan menemui istana purwa-nyata. Pusat dari semua kerajaan tua di negeri ini.

Aku memandang ke luar jendela. Kantor sudah dekat. Aku mengeluarkan uang kertas 50 ribuan. Sopir taksi menerimanya. Kemudian ia mengembalikan uang sisa 25.000. Jarak antara menara Mulia dan kantor terasa dekat karena mendengar cerita sang sopir tentang pertemuannya dengan Bung Karno. Aku memilih diam mendengarkan semuanya. Dalam hatiku aku berguman;”ada berapa orang di negeri ini yang memiliki cerita seperti sang sopir?”

Apakah ini gejala khayalan publik? Apakah penderitaan yang ditanggung masyarakat terlalu berat? Apakah harapan akan kehidupan bangsa yang lebih baik begitu kuat dan berjuang untuk bertahan di tengah fakta korupsi yang merajalela? Pak sopir yang baik hati ini tidak sendirian. Akupun bukan baru pertama kali mendengar cerita seperti ini.

Berapa orang diantara kita yang mempercayainya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produk Indonesia di Tengah Konflik Rusia dan …

Syaripudin Zuhri | | 02 September 2014 | 08:42

Koalisi Merah-Putih Terus Berjuang Kalahkan …

Musni Umar | | 02 September 2014 | 06:45

Serunya Berantas Calo Tiket KA …

Akhmad Sujadi | | 02 September 2014 | 05:55

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | | 01 September 2014 | 23:08

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 1 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Yakitori, Sate ala Jepang Yang Menggoyang …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Sebuah Cinta Berusia 60 Tahun dari …

Harris Maulana | 8 jam lalu

Yohanes Surya Intan Terabaikan …

Alobatnic | 8 jam lalu

Mengukur Kepolisian RI Dari Kuching …

Abah Pitung | 8 jam lalu

Xiaomi RedMi 1S “Hajar” Semua Brand …

Andra Nuryadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: