Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Serial Wiro Sableng

REP | 28 September 2012 | 06:31 Dibaca: 5070   Komentar: 10   3

Berbeda dengan tulisan2 saya sebelum nya  yang membahas soal cerpen cinta .musik metal dsb

di sini saya melenceng sedikit dengan mencoba menuliskan kembali sebuah cerita silat klasik dari indonesia yang di awal tahun 1990-2000 an sempat menjadi tontonan menarik di layar kaca salahsatu stasiun televisi kita.

Langsung saja ini dia kisah yang ingin saya tuliskan yaitu sebuah serial cerita / novel /film yang berjudul Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Bagipembaca yang lahir di tahun 90an pastilah mengenal dan mungkinsudah pernah menonton atau membaca novel dari serial tersebut.

Dan pada kesempatan ini saya akan membahas *mungkinbelum detail banget. tapi semoga dapat menjadi bacaan yang enak. Wiro Sableng atau Pendekar 212, adalah nama tokoh fiksi dalam seri buku yang ditulis oleh Bastian Tito. Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang tekenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng alias Sinto Weni . Wiro adalah seorang pendekar dengan senjata Kapak  Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah “212″ di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh selama petualangannya di dunia persilatan, dari berbagai guru.

Sang Pengarang

Penulisan Buku

  1. Dalam menyelesaikan satu episode rata-rata menghabiskan waktu 3 minggu
  2. Pengetikan dilakukan oleh penulis sendiri, untuk proses pengeditan dan penyelesaian buku dilakukan oleh asisten
  3. Sekali menulis serial Pendekar 212, biasanya penulis menyelesaikan sekaligus langsung 2 sampai dengan 3 buku
  4. Waktu penerbitan buku episode baru di pasaran tergantung stok cerita selanjutnya atau jumlah buku selanjutnya yang akan diterbitkan, jadi apabila mengalami keterlambatan berarti stok buku berikutnya sudah hampir habis sedangkan penulis masih dalam proses menyelesaikan tulisannya
  5. Apabila jumlah stok buku yang akan diterbitkan habis sedangkan penulis masih dalam proses penulisan biasanya akan terjadi keterlambatan terbit lebih dari 2 sampai 3 bulan
  6. Keterlambatan ini biasanya disebabkan lamanya waktu yang dihabiskan penulis untuk survei tempat-tempat yang dikunjungi demi kepentingan penulisan

Survei Tempat

  1. Untuk memperkuat dan menambah kualitas cerita, penulis langsung mengunjungi dan mensurvei tempat atau daerah yang akan ada di serial Pendekar 212
  2. Untuk satu tempat biasanya membutuhkan waktu sampai 2 minggu sehingga penulis benar-benar bisa mengetahui adat, budaya, legenda maupun cerita-cerita masyarakat setempat dan dihubungkan dengan situasi, suasana alam dan keadaan di masa silam

Penulis Selalu Membawa Alat Perekam




  1. Kemanapun penulis pergi selalu membawa alat perekam




  2. Hal ini dilakukan untuk merekam semua yang dilihat dan didengar penulis, jadi setiap apa yang dilihat maupun percakapan yang didengar penulis kadang dituangkan ke dalam bukunya, jadi tidak mengherankan apabila isi cerita, isi percakapan para tokoh, gaya bahasa serta gaya penulisan penulis terasa benar-benar hidup




  3. Tentu saja semua itu harus disertai pula ilmu dan bakat yang memadai untuk menjadi seorang penulis yang handal




Judul Buku Terlaris (istilah perdagangan berhasil orbit)




  1. Serial Wiro Sableng berhasil mencapai 2 kali orbit, tepatnya tahun 1989 dan 1994




  2. Buku yang berhasil orbit ternyata buku terbitan lama tapi dicari kembali dan laris di tahun 90-an




  3. Dua buku yang berhasil orbit berjudul Makam Tanpa Nisan dan Guci Setan




  4. Judul Makam Tanpa Nisan meledak 921.020 exemplar tahun 1989




  5. Judul Guci Setan meledak 924.078 exemplar tahun 1994




  6. Berikut 10 judul serial Pendekar 212 yang terlaris selain 2 judul di atas (rata-rata terjual di atas 800.000 eksemplar): Badai Di Parang Tritis, Topeng Buat Wiro Sableng, Wasiat Iblis, Geger Di Pangandaran, Kiamat Di Pangandaran, Gerhana Di Gajah Mungkur, Kembali Ke Tanah Jawa, Senandung Kematian, Kematian Kedua dan episode terakhir Jabang Bayi Dalam Guci





Karakter Pendekar Wiro Sableng 212



Jika dicermati, terasa sekali perubahan karakter, sifat dan sikap Wiro seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Sejak Wiro masih muda dan masih sableng-sablengnya hingga dewasa, sedikit demi sedikit pribadinya berubah menjadi lebih bijaksana dan berpikirnya pun lebih dewasa serta mengurangi kesablengannya yang kadang menyakiti perasaan orang lain.


Walaupun sedikit ceriwis dan banyak disukai bahkan disayangi gadis-gadis cantik, tapi Wiro bukanlah tipe laki-laki brengsek pengobral cinta. Apalagi mulai dari episode Wasiat Iblis dan seterusnya, Wiro mengalami proses pendewasaan dalam dirinya, mulai dari cara berpikir maupun sikap dan tingkah lakunya.


Sampai sejauh ini Wiro pernah mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung hanya kepada dua orang gadis saja, yaitu Bunga dan Bidadari Angin Timur. Setelah mengungkapkan kata-kata sayang dan cinta kepada Bunga, hanya kepada Bidadari Angin Timur lah Wiro kembali mengungkapkan perasaan hatinya. Itu pun karena ada alasan kuat kenapa Wiro pada akhirnya tak bisa bersatu dengan Bunga. Saat Wiro mengungkapkan perasaan hatinya kepada Bidadari Angin Timur pun terpaut perbedaan waktu cukup jauh dengan saat dimana Wiro menyatakan cintanya kepada Bunga.


Wiro pernah menyukai atau mencintai gadis lain selain ketiga gadis di atas, tapi semua hanya Wiro pendam dalam hati dan tak sekalipun langsung Wiro ungkapkan dengan kata-kata. Apalagi bila akhirnya Wiro mengetahui bahwa gadis yang dicintainya lebih memilih pria lain, pendekar kita memilih lebih baik mundur dan merelakan si gadis pergi demi kebahagiaan gadis yang dikasihinya.


Mungkin kami keliru, tapi coba para sahabat baca kembali dan cari di episode mana Wiro mengobral kata-kata cinta secara serius selain kepada ketiga gadis di atas. Mungkin ini bisa sedikit membuka mata dan hati kita seperti apa pribadi dan karakter Pendekar 212 Wiro Sableng sebenarnya.


Tentu kesan yang berbeda akan dirasakan oleh para sahabat yang baru saja membaca seluruh kitabnya, atau sudah membaca tapi tidak benar-benar mengikuti, atau bahkan hanya membaca selewat saja. Untuk memahami pribadi dan perkembangan karekter seorang Pendekar 212 Wiro Sableng, sebaiknya kita baca seluruh kitabnya, lebih bagus lagi bila secara berurutan. Membaca seluruh kitabnya pun rasanya tidak cukup bila hanya sekali, namun harus berkali-kali secara rutin yang dilakukan selama bertahun-tahun sehingga benar-benar meresap dalam hati dan sanubari kita. Saat itulah kita akan tahu seperti apa sebenarnya rahasia dan misteri terdalam dibalik serial Pendekar 212 Wiro Sableng ini.


Senjata-senjata Wiro Sableng



Kapak Maut Naga Geni 212


Senjata utama Wiro Sableng. Sebuah kapak besar bermata dua, dengan gagang berupa seruling dan ujung gagang berbentuk kepala naga. Di masing-masing mata kapak terukir angka 212. Di seri pertama Wiro Sableng : “Empat Berewok dari Goa Sanggreng”, dikatakan bahwa kapak ini terbuat dari logam dan gading. Mulut ukiran naga dapat menembakkan jarum-jarum beracun, dengan jalan menekan tombol rahasia pada kapak. “Seruling” di gagang kapak dapat ditiup dan mengeluarkan suara yang sangat dahsyat. Beberapa musuh WIro Sableng yang tidak dapat dibunuh dengan kesaktiannya yang lain, dapat dikalahkan atau dibunuh dengan bunyi seruling ini, misalnya : Dewi Siluman dari Bukit Tunggul pada episode Dewi Siluman dari Bukit Tunggul, atau nenek Arashi pada episode Pendekar Gunung Fuji. Kapak ini baru dapat digunakan dengan mengerahkan tenaga dalam. Tebasannya terlihat seperti sinar putih dan mengeluarkan bunyi seperti dengungan ratusan tawon. Kapak ini juga mengandung racun mematikan. Pada episode Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin, di akhir episode, pemegang Cambuk Api Angin terbunuh oleh racun ini, setelah tangannya putus ditebas Kapak Maut Naga Geni 212.


Batu Hitam 212


Batu hitam (batu bara? coal briquette?) seukuran telapak tangan orang dewasa, berukir angka 212. Jika batu hitam ini diadu dengan mata Kapak Maut Naga Geni 212, dapat memercikkan semburan api besar yang sangat panas.


Bintang 212


Senjata rahasia berbentuk bintang dengan ukiran angka 212, digunakan dengan cara dilemparkan, seperti senjata “shuriken” milik ninja. Bintang 212 digunakan dalam episode Keris Tumbal Wilayuda dan Rahasia Lukisan Telanjang


Beberapa kesaktian Wiro Sableng



Pukulan Harimau Dewa


Diwariskan oleh Datuk Rao Basaluang Ameh, mahluk setengah roh setengah manusia dari kepulauan Andalas. Di awali dengan tiupan di tangan sebelah kanan yang memunculkan gambar kepala harimau putih (Datuk Rao Bamato Hijau), pukulan ini sanggup menghancurkan apa saja tanpa perlu mengeluarkan tenaga dalam. Hanya beberapa musuh utama Wiro Sableng yang dapat mematahkan / mengimbangi pukulan Harimau Dewa ini, seperti Datuk Lembah Akhirat, yang mempunyai tenaga dalam setingkat para Dewa (yang didapat dari menghisap tenaga dalam para pendekar yang lain).


Pukulan Sinar Matahari


Diajarkan Sinto Gendeng alias Sinto Weni. Berupa sinar menyilaukan berwarna putih keperakan yang sangat panas. Diawali dari sinar putih keperakan memancar dari tangan, kemudian tangan digerakkan dengan gerakan memukul, dan sinar putih perak itu ditembakkan kepada lawan (energy blast/energy shot). Kekuatan pukulan ini adalah suhu yang sangat tinggi, dan dalam episode Halilintar Di Singosari, pukulan Sinar Matahari disebutkan dapat melumerkan botgol besi. Pukulan Matahari juga sangat berguna di dunia batin.Terutama yang bisa mengeluarkan Ruhnya dari Jasadnya untuk sementara.


Pukulan Angin Es


Diajarkan Sinto Gendeng. Berupa suhu yang sangat dingin. Mampu membuat lawan tak dapat bergerak karena sangat kedinginan. Gerakannya berupa mengangkat kedua tangan lalu telapak tangan dikembangkan dan diputar perlahan-lahan, kemudian suhu udara di sekitar lokasi mulai dingin dan dapat membuat lawan yang dituju menjadi kaku seperti salju. Ilmu kesaktian ini biasa digunakan Wiro sewaktu menghadapi musuh yang mempunyai kesaktian berintikan api atau panas. Mayat Hidup dari Gunung Klabat dikalahkan Wiro dengan pukulan ini.


Pukulan Angin Puyuh


Diajarkan Sinto Gendeng. Berupa hempasan angin yang sangat deras.


Pukulan Dewa topan menggusur gunung


Diajarkan Tua Gila. Berupa hempasan angin yang sangat deras.


Pukulan Benteng Topan melanda samudera


Berupa hempasan angin yang sangat deras.


Pukulan Kunyuk melempar buah


Berupa hempasan angin yang deras dan berat, seperti sebongkah batu besar yang dilemparkan.


Ilmu silat Orang Gila


Diajarkan Tua Gila, paman guru (kakak seperguruan eyang sinto gendeng) Wiro di Pulau Andalas (sekarang Pulau Sumatera). Berupa gerakan-gerakan silat (martial arts) yang terlihat ngawur dan mirip gerakan orang gila, namun sangat berbahaya.


Pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih-Menindih


Diajarkan Sinto Gendeng, berupa angin dahsyat yang berhembus menyebar dan menggempur susul menyusul hanya dengan sekali pukul. Keistimewaan pukulan ini adalah fungsinya yang bersifat 3 dalam 1; dapat digunakan menyerang, bertahan, sekaligus mengembalikan serangan lawan ke pemiliknya.


Ilmu Pedang Pendekar Pedang Akhirat


Diajarkan dedengkot rimba kangouw Tiongkok , Pendekar Pedang Akhirat (Long Sam Kun), berupa tiga jurus ilmu pedang tingkat tinggi yang masing-masing bernama Cip-hian Jay-bong (Tiba-tiba Muncul Pelangi), Lo-han Ciang-yau (Malaikat Menundukkan Siluman) dan Kui-gok Sin-ki (Iblis Meratap Malaikat Menangis).



PUKULAN SAKTI [17 pukulan]


Sinto Gendeng (8 pukulan)




  1. Pukulan Sinar Matahari




  2. Pukulan Angin Puyuh




  3. Pukulan Angin Es




  4. Pukulan Kunyuk Melempar Buah




  5. Pukulan Benteng Topan Melanda Samudra




  6. Pukulan Segulung Ombak Menerpa Karang




  7. Pukulan Tameng Sakti Menerpa Hujan




  8. Pukulan Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih




Tua Gila (2 pukulan)




  1. Pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung




  2. Pukulan Kilat Menyambar Puncak Gunung




Kitab Putih Wasiat Dewa (7 pukulan)




  1. Pukulan Harimau Dewa




  2. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari




  3. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Batu Karang




  4. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Rembulan




  5. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Air Bah




  6. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Api




  7. Pukulan Tangan Dewa Menghantam Tanah




JURUS SILAT [19 jurus]


Sinto Gendeng (13 jurus)




  1. Jurus Membuka Jendela Memanah Rembulan




  2. Jurus Dibalik Gunung Memukul Halilintar




  3. Jurus Titiran Terbang Ke Langit




  4. Jurus Burung Walet Menembus Awan




  5. Jurus Kepala Naga Meyusup Awan




  6. Jurus Ular Naga Menggelung Bukit




  7. Jurus Menepuk Gunung Memukul Bukit




  8. Jurus Orang Gila Mengebut Lalat




  9. Jurus Kincir Padi Berputar




  10. Jurus Kipas Sakti Terbuka




  11. Jurus Naga Sebatkan Ekor




  12. Jurus Pecut Sakti Menabas Tugu




  13. Jurus Gunung Meletus Batu Melesat Ke Luar Kawah




Tua Gila (4 jurus)




  1. Jurus ilmu silat Orang Gila




  2. Jurus badai menerpa gelombang




  3. Jurus Orang Gila Melenggang Ke Awan




  4. Jurus Ular Gila Membelit Pohon Menarik Gendewa




Pendekar Pedang Akhirat (3 jurus)




  1. Jurus ilmu pedang Tiba-Tiba Muncul Pelangi/Cip Hian Jay Hong




  2. Jurus ilmu pedang Malaikat Menundukkan Siluman/Lo Han Ciang Yau




  3. Jurus ilmu pedang Setan Meratap Malaikat Menangis/Kui Gok Sin Ki




ILMU KESAKTIAN [15 ilmu]


Sinto Gendeng (4 ilmu)




  1. Ilmu Belut Menyusup Tanah




  2. Ilmu lari Kaki Angin




  3. Ilmu Menyusupkan Suara




  4. Ilmu pukulan Telapak 212




  5. Ilmu Sepasang Inti Roh




Nenek Muka Kucing/Neko (1 ilmu)




  1. Ilmu Koppo/Mematahkan Tulang




Ratu Duyung (1 ilmu)




  1. Ilmu Menembus Pandang




Kitab Putih Wasiat Dewa (1 ilmu)




  1. Ilmu Sepasang Pedang Dewa




Raja Penidur (1 ilmu)




  1. Ilmu Silat Orang Tidur




Luhrembulan (1 ilmu)




  1. Ilmu Membelah Bumi Menyedot Arwah




Datuk Tanpa Bentuk Tanpa Ujud (1 ilmu)




  1. Ilmu Empat Penjuru Angin Menebar Suara




Hantu Selaksa Angin (1 ilmu)




  1. Ilmu Menahan Darah Memindah Jasad




Nyi Roro Manggut (1 ilmu)




  1. Ilmu Meraga Sukma




Kumara Gandamayana (1 ilmu)




  1. Ilmu Masuk dan Bernapas Dalam Tanah




Dewi Loro Jonggrang (1 ilmu)




  1. Ilmu Bahasa Gerak Tangan Orang Bisu




Nenek Rauh Kalidhati (1 ilmu)




  1. Ilmu Tiga Bayangan Pelindung Raga




Episode Pertama Kali Munculnya Tokoh Utama


Berikut episode-episode yang menceritakan pertama kali munculnya beberapa tokoh utama:


Dewa Tuak dan Anggini


episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran


Kakek Segala Tahu


episode Rahasia Lukisan Telanjang


Tua Gila


episode Banjir Darah Di Tambun Tulang


Nyanyuk Amber dan Pandansuri


episode Raja Rencong Dari Utara


Raja Penidur


episode Siluman Teluk Gonggo


Pangeran Matahari dan Si Muka Bangkai


episode Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi


Bunga/Suci


episode Misteri Dewi Bunga Mayat


Bujang Gila Tapak Sakti


episode Hari Hari Terkutuk (di episode ini Bujang Gila belum menyebut namanya) ;


episode Bujang Gila Tapak Sakti ;


episode Purnama Berdarah ;


Dewa Ketawa dan Dewa Sedih


episode Halilintar Di Singasari dan episode Pelangi Di Majapahit


Bidadari Angin Timur


episode Guci Setan


Dewi Ular dan Si Manusia Paku Sandaka


episode Dendam Manusia Paku


Ratu Duyung


8 rangkaian episode Wasiat Iblis


Kaitan Beberapa Episode


Berikut sedikit ulasan/catatan mengenai kaitan beberapa episode dalam serial Pendekar 212 Wiro Sableng yang menjadi alasan Padepokan212 membuat urutan episode versi kedua:


Episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng, Maut Bernyanyi Di Pajajaran & Dendam Orang Orang Sakti


Ketiga episode ini merupakan tiga episode awal serial Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng. Karena tiga episode ini memiliki kaitan erat satu sama lain, maka saya jadikan satu rangkaian episode.


Pada episode Empat Berewok Dari Goa Sanggreng menceritakan tentang Wiro sejak masih bayi dimana kedua orang tuanya dibunuh oleh Suranyali (Mahesa Birawa). Sewaktu rumah kedua orangtuanya dibakar, Sinto Gendeng menolong Wiro yang saat itu masih bayi dari dalam rumah yang terbakar. Wiro dibawa ke puncak Gunung Gede dan dijadikan murid oleh Sinto Gendeng. Setelah digembleng selama 17 tahun oleh Sinto Gendeng, akhirnya Wiro turun gunung. Misi pertamanya adalah membalas dendam kematian kedua orangtuanya. Ketika kembali ke desa kelahirannya, yang ditemui Wiro hanya Kalingundil yang merupakan anak buah Suranyali. Saat itu Kalingundil sedang berseteru dengan komplotan Empat Berewok Dari Goa Sanggreng. Di akhir episode, Kalingundil kehilangan salah satu tangannya sewaktu berhadapan dengan Wiro.


Suranyali sendiri baru bisa ditemui Wiro dalam episode Maut Bernyanyi Di Pajajaran. Saat itu nama Suranyali telah berubah menjadi Mahesa Birawa dan membantu para pemberontak yang menyerang kerajaan Pajajaran. Dalam episode ini Wiro berhasil menuntaskan dendamnya terhadap Suranyali (Mahesa Birawa).


Dalam episode Dendam Orang-Orang Sakti, karena dendam, Kalingundil memfitnah Wiro atas pembunuhan sejumlah tokoh persilatan. Di Puncak Gunung Tangkuban Perahu semua tokoh silat yang mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang yang terbunuh berkumpul untuk membuat perhitungan dengan Pendekar 212 Wiro Sableng.


Episode Keris Tumbal Wilayuda & Neraka Lembah Tengkorak


Kaitan kedua episode ini hanya pada kemunculan Anggini sebagai Dewi Kerudung Biru secara berturut-turut.


Episode Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga & Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin


Kaitan kedua episode ini hanya pada kemunculan Sekar. Dimana setelah berhasil menumpas kejahatan Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga, Wiro masih ditemani Sekar di episode Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin.


Episode Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin & Dewi Siluman Bukit Tunggul


Kaitan episode ini hanya pada kemunculan kembali Nenek Telinga Arit Sakti bersama gurunya di episode Dewi Siluman Bukit Tunggul. Nenek ini ingin membalas dendam terhadap Wiro, karena sebelumnya nenek ini sempat bertarung dan dikalahkan Wiro di episode Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin.


Episode Dewi Siluman Bukit Tunggul & Banjir Darah Di Tambun Tulang


Kaitannya yaitu pada kemunculan Kiai Bangkalan. Pada episode Dewi Siluman Bukit Tunggul Kiai Bangkalan berjanji akan memberikan ilmu pengobatan kepada Wiro bila Wiro berkunjung ke tempat kediamannya. Saat Wiro berkesempatan menyambangi Kiai Bangkalan, ternyata Kiai Bangkalan telah terbunuh dan Kitab Seribu Pengobatan dilarikan pembunuhnya yang tak lain adalah Datuk Sipatoka.


Episode Munculnya Sinto Gendeng, Telaga Emas Berdarah & Iblis Berjanggut Biru


Di episode Munculnya Sinto Gendeng diceritakan Sri Baginda memberikan hadiah berupa peta rahasia telaga emas kepada Ki Rana Wulung atas jasanya membantu kerajaan bersama Sinto Gendeng.


Di episode Telaga Emas Berdarah terjadi perebutan peta telaga emas yang semula di pegang kakek Anom dan nenek Amini (Ratu dan Raja Bengawan Solo).


Di episode Iblis Berjanggut Biru terjadi perebutan peta rahasia telaga emas yang disimpan Ki Rana Wulung. Di episode ini disebutkan 30 tahun, masih kurang jelas apakah peta itu yang berusia 30 tahun atau peta itu sudah disimpan Ki Rana Wulung selama 30 tahun. Apabila petanya yang berusia 30 tahun, ada kemungkinan peta tersebut adalah peta yang diberikan Sri Baginda di episode Munculnya Sinto Gendeng. Namun apabila yang dimaksud adalah 30 tahun lamanya Ki Rana Wulung menyimpan peta tersebut, berarti peta itu bukan pemberian Sri Baginda. Berarti ada peta telaga emas yang lain lagi, karena waktu kejadian pemberian peta itu oleh Sri Baginda tidak mungkin 30 tahun yang lalu karena waktu peta itu diberikan saat itu Wiro sudah ada.


Ciri peta di tiga episode itu pun ada sedikit perbedaan.


Di episode Munculnya Sinto Gendeng, peta tersebut disebutkan berupa gulungan kain kecil berwarna putih yang sudah agak lusuh selebar telapak tangan, tergambar sebuah puncak gunung, sungai berkeluk, tanda silang dan matahari.


Di episode Telaga Emas Berdarah, peta tersebut disebutkan sehelai kain lusuh yang tadinya berwarna putih berubah kekuningan dan dekil kotor, lebarnya sama seluas telapak tangan, tapi bergambar puncak gunung, sungai berliku-liku serta rumah kecil.


Di episode Iblis Berjanggut Biru, peta tersebut disebutkan sebuah lipatan kertas tebal berwarna kekuningan karena telah dimakan usia, tergambar sebuah sungai dan gunung lalu lingkaran bengkok-bengkok mungkin gambar sebuah telaga, lalu tanda silang di sebelah timur telaga.


Atas dasar itulah saya tidak cantumkan episode Telaga Emas Berdarah sebagai episode yang berkaitan langsung dengan episode Munculnya Sinto Gendeng, namun bila dikaitkan dengan episode Iblis Berjanggut Biru mungkin ada karena di episode Iblis Berjanggut Biru juga muncul Sepasang Setan Bermata Api yang sebelumnya juga muncul di episode Telaga Emas Berdarah.


Episode Iblis Berjanggut Biru mungkin yang memiliki kaitan paling dekat dengan episode Munculnya Sinto Gendeng karena selain kaitannya dengan peta yang mungkin adalah peta pemberian Sri Baginda tersebut, tapi yang paling jelas karena menceritakan kembali mengenai sahabat Sinto Gendeng yaitu Ki Rana Wulung.


Episode Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi, Bajingan Dari Susukan & Panglima Buronan


Tiga episode ini saya jadikan satu rangkaian episode karena memiliki kaitan cerita yang sangat dekat, mulai dari kemunculan Pangeran Matahari, tokoh-tokoh yang terlibat, permasalahan terjadi di sekitar dan berputar di kerajaan yang sama, juga keberadaan Ni Luh Tua Klungkung yang selalu menemani Wiro.


Episode Ki Ageng Tunggul Keparat & Ki Ageng Tunggul Akhirat


Supit Jagal dan Supit Ireng yang di akhir cerita episode Ki Ageng Tunggul Keparat disangka telah mati, di awal-awal cerita episode Ki Ageng Tunggul Akhirat diceritakan masih dalam keadaan hidup dan ada yang menyelamatkan. Tak lama berselang datanglah Pangeran Matahari yang menjadikan kedua orang itu budak suruhannya.


Waktu kejadian di akhir episode Ki Ageng Tunggul Keparat dengan munculnya Pangeran Matahari di awal episode Ki Ageng Tunggul Akhirat sangat berdekatan, karena itu episode Ki Ageng Tunggul Akhirat saya jadikan lanjutan dari episode Ki Ageng Tunggul Keparat.


Episode Hari Hari Terkutuk, Bujang Gila Tapak Sakti & Purnama Berdarah


Di episode Hari Hari Terkutuk Bujang Gila Tapak Sakti muncul, tapi belum menyebutkan namanya dan Wiro pun belum mengenalnya. Saya berkesimpulan itu adalah Bujang Gila Tapak Sakti berdasarkan ciri-cirinya, mulai dari badannya yang gemuk, selalu mengipas badannya walaupun udara dingin, memakai baju terbalik dan selalu memakai kupluk.


Dan itu semua terjawab di episode Purnama Berdarah, Wiro akhirnya tau pemuda gemuk yang ditemui sebelumnya adalah Bujang Gila Tapak Sakti.


Di episode Bujang Gila Tapak Sakti, menceritakan tentang Bujang Gila Tapak Sakti mulai dari masa kecil hingga dewasa dan menjadi pendekar muda yang memiliki kesaktian sangat luar biasa. Bujang Gila Tapak Sakti sendiri adalah keponakan Dewa Ketawa dan Dewa Sedih.



Adaptasi


Serial Wiro Sableng ini telah diadaptasi sebagai sinetron dan film. Film dibintangi oleh Tonny Hidayat


dan sinetron dibintangi oleh Herning Sukendro ( Ken Ken ) (Wiro Sableng I episode 1-59) dan Abhie Cancer (Wiro Sableng I episode 59-91). Sinetron Wiro Sableng telah dibuat 2 bagian.


Pemeran: Tony Hidayat


Judul yang tersedia:




  1. Empat Berewok Dari Goa Sanggreng




  2. Dendam Orang-Orang Sakti (judul vcd: Orang-Orang Sakti Dari Tangkuban Perahu)




  3. Neraka Lembah Tengkorak




  4. Tiga Setan Darah Dan Cambuk Api Angin




  5. Sepasang Iblis Betina




  6. Siluman Teluk Gonggo




  7. Khianat Seorang Pendekar




Pemeran: Ken Ken


Judul yang tersedia:




  1. Maut Bernyanyi Di Pajajaran




  2. Dendam Orang-Orang Sakti




  3. Keris Tumbal Wilayuda




  4. Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga




  5. Dewi Siluman Bukit Tunggul




  6. Rahasia Lukisan Telanjang




  7. Pendekar Andalas




  8. Sepasang Setan Dari Tenggarong




Pemeran: Abhie Cancer


Judul yang tersedia:




  1. Siluman Biru Menabur Dendam




  2. Sepak Terjang Cokorda Gde Jantra




  3. Perampok Warok Gde Jingga




  4. Peramal Sinting & Pendekar Kecapi




  5. Mawar Merah Menuntut Balas




  6. Purnama Berdarah





Sebagai salah satu dari sekian banyak penggemar berat Wiro Sableng, di sini saya akan mencoba mengemukakan fakta-fakta unik menyangkut si Pendekar 212 itu.


1. Wiro sableng mempunyai nama Asli Wiro Sasono, Nama Ibunya Suci, dan nama ayahnya raden Romo Weleng.


2. Guru utama Wiro sableng adalah Eyang Sinto Geni, alias Eyang Sinto gendeng, alias Sinto gilan, seorang nenek tua yang mempunyai kepandaian silat tinggi dan sangat disegani oleh tokoh-tokoh silat baik golongan hitam maupun golongan putih.


3. Wiro sableng mempunyai sebuah senjata pamungkas berbentuk Kapak berkepala dua bertuliskan angka 212 ang ujung mulutnya berbentuk seperti kepala naga dan terbuat dari logam dan gading. Kapak ini sangat sakti, ujung mulutnya bisa menembakkan jarum beracun. Tebasannya terlihat seperti sinar putih dan mengeluarkan bunyi seperti dengungan ratusan tawon. Kapak ini bernama Kapak naga geni 212.


4. Selain senjata utama di atas, Wiro sableng juga mempunyai 2 senjata lain, yaitu Batu hitam dan bintang 212, keduanya mempunyai ukiran angka 212 sama seperti kapak naga 212.


5. Jurus yang paling mematikan dari seorang Wiro sableng yaitu Jurus pukulan matahari, Jurus dahsyat yang diajarkan oleh gurunya Eyang Sinto gendeng. Jurus ini berupa pukulan Sinar tangan yang mengandung suhu yang teramat panas.


6. Jurus yang paling sering digunakan oleh Wiro sableng selama berpetualang adalah Jurus Kunyuk melempar buah.


7. Sampai sejauh ini, Wiro pernah mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung hanya kepada 2 orang gadis saja, yaitu Bunga dan Bidadari Angin Timur. Setelah mengungkapkan kata-kata sayang dan cinta kepada Bunga, hanya kepada Bidadari Angin Timur lah Wiro kembali mengungkapkan perasaan hatinya. Itu pun karena ada alasan kuat kenapa Wiro pada akhirnya tak bisa bersatu dengan Bunga. Saat Wiro mengungkapkan perasaan hatinya kepada Bidadari Angin Timur pun terpaut perbedaan waktu cukup jauh dengan saat dimana Wiro menyatakan cintanya kepada Bunga.


8. Dalam petualanganya, Wiro sableng tak melulu berada di tanah Jawa atau Indonesia, namun juga pernah sampai ke China dan Jepang.


9. Dalam serial Wiro sableng, Tokoh Wiro pernah diperankan oleh 3 aktor berbeda, yaitu Tony Hidayat, ken-ken, dan Abhi Cancer. Namun dari ketiga itu, hanay Ken-ken yang mendapat apresiasi paling besar sebagai pemeran wiro sableng.


10. Lawan Terberat Wiro sableng menurut banyak penggemar adalah pangeran Matahari, tapi menurut saya pribadi, lawan terberat adalah Nyai Kalajengking merah, Dimana dalam Episode munculnya sinto gendeng. Wiro hampir mati jika saja tak diselamatkan oleh gurunnya Sinto Gendeng saat bertarung dengan kalajengking Merah.



Sedikit gambaran ketika Wiro Sableng bersama Naga kuning dan kakek ssetan ngompol terpesat dalam negeri 1200 tahun silam yaotu negeri Latanahsilam


Penceritaan Negeri 1200 tahun silam dari jaman Wiro Sableng begitu memukau. Negeri ini bukanlah sama dgn masa kerajaan Salakanagara atau Tarumanagara walau secara perhitungan memang mendekati. (Jika Wiro hidup antara tahun 1500-1600 Masehi (artikel Kang Pendekar 212 di Warjem), maka kurang lebih Latanahsilam berada ditahun 300 atau 400 Masehi ketika Wiro dan Naga Kuning serta Setan Ngompol tersesat disana.
Era kerajaan Salakanagara 150-362 M atau Tarumanagara 358-669 M-sumber Wikiepedia).Negeri ini adalah alam lain yg sarat dgn hal-hal yg mengagumkan. Keajaiban, hal-hal gaib dan penggambaran binatang-binatang raksasa mengingatkan akan jaman dinosaurus dan dongeng-dongeng waktu kita kecil dulu.
Para Peri yg selama ini dalam benak kita perempuan cantik dan tak pernah tua di patahkan oleh penulis secara mengagumkan.
Pemujaan terhadap Dewa dan Peri serta pada Roh leluruh seperti ajaran sunda wiwitan dalam sejarah kerajaan Tarumanagara.

Jika kita mencermati julukan, alur kehidupan, kepandaian dan lainnya para tokoh Latanahsilam seperti ada implikasi dari para tokoh tanah jawa walau tidak mirip betul.
Dan juga secara watak, penggambaran jasmani jelas berbeda.

Hantu Muka Dua layaknya Pangeran Matahari dari Gunung Merapi.
Kepandaian Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab (sewaktu masih baik) tak ubahnya Kakek Segala Tahu dari tanah jawa.
Cerita Hantu Selaksa Angin yg kehilangan anak bagaikan kisah Sabai Nan Rancak.
Lalu sosok Peri Angsa Putih tak ubahnya seperti Ratu Duyung dll.

Latanahsilam adalah rangkaian episode cersil Wiro Sableng yg paling memukau. Alur kisah yg rumit, keajaiban dan keanehan alam serta satwa, keganasan ilmu kesaktian, persoalan cinta dan liku kehidupan menyatu membuat cakrawala baru cerita silat membuat saya kagum.

Mencermati alur kisah rangkaian Latanahsilam dan beberapa episode sebelumnya, membuat saya berpendapat bahwa ada keterkaitan yg sangat erat antara; LATANAHSILAM, (sesepuh dari) KIAI GEDE TAPA PAMUNGKAS (episode Muka Tanah Liat), KAPAK NAGA GENI, PEDANG NAGA SUCI, BATU SAKTI PEMBALIK WAKTU, NAGA HANTU DARI LANGIT KETUJUH, NAGA BETINA DAN JANTAN (ditelaga gajahmungkur dan telaga gunung gede, mungkin naga yg sama itu-itu juga).

Seperti kita ketahui, kapak dan pedang keluar dari mulut sepasang naga.
Kedua benda tsb diwariskan oleh Kiai pada sinto weni dan sukat tandika. Namun sinto weni mengambil keduanya (episode Pedang Naga Suci 212).
Lalu Pedang Naga Suci disembunyikan didasar telaga gajahmungkur.

Kemudian diceritakan Kiai pun tinggal di telaga tsb. Dan sepasang naga menjadi pelindung telaga disamping Naga Kuning yg dititisi Naga Hantu Dari Langit Ketujuh.
Didalam liang lahat telaga gajahmungkur selain Pedang Naga Suci juga terdapat Batu Sakti Pembalik Waktu, yg kemudian ditelan oleh naga betina. (episode Liang Lahat Gajahmungkur dan Kitab Wasiat Malaikat)

Saya berpendapat bahwa antara kapak, pedan, batu sakti dan sepasang naga serta naga hantu
berawal atau berasal dari masa 1200 tahun silam.

Alasan pertama Kapak & Pedang identik dgn penjelmaan dari naga jantan dan naga betina, (atau dititisi)

Alasan kedua karena ketika Naga Hantu keluar dari tubuh Naga Kuning, beberapa tokoh latanahsilam sangat ketakutan bahkan sampai menyembahnya. Hal ini menandakan bahwa naga tsb telah dikenal oleh mereka dan hidup pada masa itu. Namun mungkin dimensi alamnya yg berbeda. Maksudnya seperti dimensi alam para Peri,tapi dimensi alam naga ini lebih tinggi (mungkin langit ketujuh) dari dimensi alam Peri,karena dimensi alam Peri masih bisa ditembus (oleh wiro dan hantu raja obat).
Yg menyebabkan tak dapat ditembus oleh para tokoh silat latanahsilam.

Alasan ketiga, Batu Sakti Pembalik Waktu tak mungkin berada didasar telaga gajahmungkur jika tidak ada tangan yg menyimpannya (secara gaib) dan sampai dilindungi oleh sepasang naga.
Sepertinya Batu Sakti ini telah disiapkan oleh para pendahulu atau sesepuh pemelihara dan penguasa naga-naga dari masa 1200 tahun silam agar bisa berhubungan dgn masa 1200 tahun mendatang.

Jika kita mengurai antara naga-naga (baik roh atau bukan) ternyata saat itu dipelihara dan dikuasai oleh Kiai Gendeng Tapa Pamungkas yg boleh dikatakan sebagai sesepuh terakhir.
Hal ini mengarah pada asal muasal naga-naga tsb yg pasti juga dipelihara dan dikuasai oleh seseorang yg saya katakan sebagai pendahulu atau sesepuh ini pasti mempunyai hubungan yg erat dgn Kiai Gede Tapa Pamungkas, setidaknya guru dari guru Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah orang-orang dari sesepuh yg saya maksud.
Jadi jangan heran ketika Naga Hantu keluar dari tubuh Naga Kuning dalam waktu tak lama Kiai Gede Tapa Pamungkas muncul dilatanahsilam.
Ini sangat berlainan dgn ilmu kesaktian Hantu Tangan Empat yg mempersiapkan diri selama lima ratus tahun untuk bisa memasuki alam 1200 tahun mendatang.
Inilah sekelumit kemegahan dari cersil Wiro Sableng.



Namun di tengah kesuksesan cerita silat tersebut ada kabar duka datang dari sang penulis yaitu Bapak Bastian Tito yang berpulang ke rahmatullah dan meninggalkan cerita serial tersebut di tengah jalan tanpa ada cerita selanjut nya lagi.


13487698831067254260

1348769915919944779

1348769942729270144

1348769980598087850

13487700011685583765

Link untuk download buku buku versi ebook wirosableng

http://www.kangzusi.com/Wiro_Sableng_212.htm

Link untuk bergabung dengan sesama member komunitas pecinta Wiro Sableng di Facebook

https://www.facebook.com/Padepokan212


Hoahem
Penulis ngantuk izin untuk beristirahat

semoga banyak yang membaca postingan ini
:-)

selamat pagi kompasioner

salam


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 5 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 5 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 6 jam lalu

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: