Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bain Saptaman

aku adalah ..Musik....liverpool...the beatles...kopi....sepeda..vegetarian...... "AKU BERONTAK....maka aku ADA"....

Mengapa Orang Desa Lebih Memilih Mantri daripada Dokter?

REP | 25 September 2012 | 05:03 Dibaca: 2359   Komentar: 73   28

Desa beda sama kota besar. Apalagi di daerah yang lumayan pelosok.

Terutama urusan kesehatan. Terkadang Rumah Sakit jauh.

Paling Puskesmas yang jam bukanya terbatas sampai siang.

Bagaimana dengan dokter?

Nah ini dia yang ingin saya sampaikan.

Di beberapa daerah, terutama di pedesaan,

dokter telah tergantikan dengan tenaga kesehatan yang bernama Mantri Kesehatan.

Siapakah dia?

Menurut KBBI mantri kesehatan adalah

pegawai yg kerjanya sbg pembantu dokter dl pelayanan kesehatan; perawat kepala (biasanya laki-laki)”

Lalu, bagaimana sebenarnya keberadaan para mantri Kesehatan ini?

Bolehkah mereka mengadakan Praktek?

Coba simak kisah seorang manteri di Nias bernama Mantri Misran

1348503496604628260

Misran, seorang mantri desa yang menolong warga Kuala Samboja, Kalimantan Timur,

oleh Hakim PN Tenggarong, pada 19 November 2009, divonis

karena dinilai tidak berwenang memberi pertolongan layaknya dokter.

Misran dituduh melanggar UU 36/ 2009 tentang Kesehatan pasal 82 (1) huruf D jo Pasal 63 (1)

UU No 32/1992 tentang Kesehatan.

Misran di hukum 3 bulan penjara dengan denda Rp 2 juta rupiah subsider 1 bulan.


Putusan itu juga dikuatkan PT Samarinda pada tingkat banding.

Karena kuatir dikriminalisasi terus,

Misran dan rekan-rekannya, 12 mantri, mengajukan uji materi (judicial review)

Ulah hakim ini terang saja mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Diantaranya adalah YLKI

“Yang terpenting, hak masyarakat untuk mendapat akses kesehatan dan pertolongan dapat dipenuhi. Selama tak ada akses dokter, tindakan mantri dibenarkan,” ujar pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Soedaryatmo, saat dihubungi detikcom”. Beritanya di sini

Akhirnya, perjuangan Mantri Misran membuahkan hasil.

Apa yang dilakukannya dikabulkan oleh MK. Beritanya di sini

Lalu, mengapa Mantri kesehatan ini lebih dipilih masyarakat pedesaan/pelosok


daripada seorang dokter?

Saya melihatnya ada 3 alasan mendasar

1.

Mantri adalah tenaga kesehatan yang fleksibel.

Bila berkunjung ke rumahnya (tempat praktek) tidak terlalu ribet.

Antrean berjalan alami tanpa perlu pesan nomer.

Bila sang pasien mengalami kesulitan datang, maka sang mantrii yang akan mendatangi.

Jam berapa pun beliau mau datang.

2.

Sugesti yang bernama “Jodoh”

Boleh percaya boleh tidak, beberapa pasien yang datang ke mantrti

Sebagian besar beralasan karena “jodoh/cocok”

Bahkan, dialami oleh bapak mertua saya saat berkunjung ke seorang manteri

Di desa Ngestiharjo Wates Kulon progo yang bernama Pak Karimun

“Nembe weruh wonge, rasane wis mari”

(baru lihat orangnya saja, rasanya sudah sembuh)

Nyaris satu keluarga istri saya kalau sakit pergi ke manteri karena alasan ini.

3.

Ongkos lebih murah.

Di dekat tempat tinggal saya sekarang di Banguntapan Bantul

ada seorang bidan sebuah Puskesmas bernama Ibu Endang

Setiap sore, pasien yang datang lumayan banyak ke rumah beliau

yang sekaligus tempat praktek

Bahkan deretan antrian mengalahkan dokter-dokter praktek sekitar.

Apalagi pada saat pergantian cuaca seperti sekarang.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Bahkan ada pasien yang berasal dari tempat lumayan jauh seperti Kalasan.

Selain alasan Jodoh di atas, alasan ongkos pengobatan menjadi salah satu alasan.

Bui bidan ini memasang tariff sekitar 10 – 15 ribu saja.

Sebuah tarif yang sangat terjangkau dibandingkan dengan Dokter-dokter praktek

Dengan tarif kisaran 25 ribu ke atas.

Tidak terbayangkan dengan biaya dokter spesialis.

Pertanyaannya, kenapa bisa murah?

Karena para bidan (juga Mantri) ini menggunakan obat generik untuk segala jenis penyakit

Dan penyakit yang ditanganinya pun adalah penyakit “ringan”

Seperti flu, masuk angin dan lain-lain.

Mereka tahu diri untuk tidak menangani kasus-kasus sakit berat.

Pasti mereka langsung merujuk pasien ke RS/Dokter.

Obat yang diberikan tak jauh dari Parasetamol, Amoxilin dan beberapa jenis sirup.

Dan ternyata SEMBUH !!

….

Bagaimana keberadaan Mantri Kesehatan di tempat anda?

……………….

Poentjakgoenoeng, 23-09-2012

1346087195338323337

Gambar: detik.com


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: