Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Pengalaman Anak Yang Tidak Naik Kelas

OPINI | 12 September 2012 | 21:51 Dibaca: 1783   Komentar: 15   11

Hari Senin, 10 September 2012 adalah awal masuk anak sekolah dasar dan menengah kawasan Baden Würrttemberg, Jerman, setelah 6 minggu liburan musim panas dan kenaikan kelas. Ada yang bermuka ceria, yang lain biasa, bahkan ada anak bermuram durja karena harus mengulang dan atau lantaran sedih, liburan telah usai.

Tidak naik kelas ? Saya yakin, di dunia ini tak ada anak yang bercita-cita untuk tidak naik kelas. Bahkan saya percaya pula banyak orang tua yang mendambakan anaknya tak ada angka merah di dalam raport, bahkan meraih rangking sebaik mungkin dan menapaki jenjang pendidikan tertinggi.

Bagaimana jika ini terjadi ?Anak tidak naik kelas ? Sepertinya perasaan sedih, malu,  kecewa, marah, menyesal dan lainnya campur aduk, sempat merasuki dinding hati tak hanya orang tua tapi juga si anak. Namun tidak naik kelas bukan alasan untuk ‘mati’ sebelum meninggalkan dunia fana. Semangat menapaki hari yang lebih baik itu harus tetap ada.

13474433902123395080

Hore, anak-anak Jerman mulai masuk sekolah lagi

***

1. Thomas

Pria umuran 40-an itu memang ganteng dan sukses. Posisi penting di beberapa perusahaan pernah ia jabat, mulai dari manager produksi sampai GM. Gaji (netto) terakhir yang diterimanya adalah 4500 euroan. Melihat dari penampilannya dan track record yang dipunyai, orang tak akan menyangka bahwa ia pernah tidak naik kelas di masa lampau.

Lelaki simpatik itu menguraikan cerita lama, ketika ia harus hengkang dari kelas 5 Gymnasium Tuttlingen menuju Internat-Hauptschule di Rottweil. Sekolah asrama berbasis ajaran Katolik dan beberapa program yang lebih runtun (nan ketat) dari sekolah biasa.

Katanya, dahulu kedua orang tuanya (Jerman-Polandia) bekerja seharian, anak tunggal itu banyak dititipkan pada Oma, ibu dari mamanya yang kebetulan tinggal di lantai atas sementara mereka di lantai bawah. Akibatnya, pendidikan anak tidak terkontrol dan si anak menjadi menuruti dirinya sendiri, tak mau belajar.

Setelah ia harus mengulang kelas 5 di Internat, bukan menjadi jaminan baginya untuk mengubah nilai buruk menjadi bagus. Kalau tak belajar, bagaimana mengusir warna merah dalam raportnya? Ini terjadi hingga ia lulus.

Mungkin Tuhan benar-benar memberikan jalan pada Thomas. Ia berhasil berjuang menyelesaikan kuliah dan magang di sebuah perusahaan kecil di kota sebelah dan mulai meniti karirnya hingga menuju puncak, General Manager.

Satu yang saya amati dari lelaki itu adalah jiwa simpatik yang dimilikinya amatlah luar biasa. Kabarnya itulah yang membuat tim skripsi perguruan tinggi Konstanz, Jerman, meluluskannya. Para profesor terpesona dari cara ia mempresentasikan hasil karyanya (meski dengan keringat dingin karena merasa tidak siap).

So, pernah tidak naik kelas dan tidak selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah, bisa ditutupi dengan kelebihan yang lain, satu karakter yang baik berjudul simpatik. Sayangnya, simpatik itu sebuah karunia yang tak semua orang punya …

2. Fatimah

Gadis berumur 15 tahun ini sekarang duduk di kelas 10 sebuah Realschule (sekolah menengah, kelas 5-10) di kota Trossingen. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara (adiknya ; 13 tahun dan 2 tahun), ia menjadi asisten umi-nya. Wajar jika sang Bunda menginginkan anak sulungnya itu memiliki nilai yang bagus dan lancar sekolahnya tetapi ternyata malang tak dapat ditolak … si gadis tak naik kelas (kelas 9). Sedih, kecewa dan malu orang tuanya, benar-benar merasuki hati Fatimah. Mereka berdua mencoba memahami perkembangan puber si teenie, anak remaja.

Meski orang tuanya (keduanya dari Turki) tidak memberikan hukuman fisik atau hukuman lain yang memberatkan stress akibat tidak naik kelasnya ini, seperti ada beban perasaan bersalah menghantui kepalanya. Sang mama yang ibu rumah tangga, selalu berada dirumah, sibuk dengan pekerjaan rumah dan mengurus balita. Urusan belajar memang dipasrahkan pada si gadis sendiri, mama hanya menyemangati.

Tiba-tiba saklar di kepalanya seperti dipencet, kesadarannya kambuh. Ia bertekat untuk menjadi lebih baik lagi, tak mengulangi kemalasannya belajar dan menjadi anak yang perhatian dan rajin di sekolah.

Hasilnya? Anak cantik ini mengulangi kelas 9 dan mendapat Belobigung, sebuah penghargaan (lewat lesan dan atau tulisan) dari sekolah/guru atas prestasi seorang anak yang berhasil memperbaiki diri/nilai. Satu pengakuan resmi dari pihak kedua yang memberi motivasi pihak pertama, the doer.

Perubahan drastis benar-benar terjadi di kelas 10. Kini, ia adalah salah satu dari murid favorit di kelas. Jika mau pasti bisa ….

3. Kenang

Di Indonesia waktu itu memang masih marak peribahasa banyak anak, banyak rejeki. Memiliki saudara banyak, ia merasa dianaktirikan. Kenang merasa dianggap paling bodoh, paling dibenci diantara saudaranya dan perasaan rekaan lain yang berbau negatif. Orang tuanya yang PNS (pemda dan kepsek) memang tidak memiliki banyak waktu untuk mengecek PR atau belajar bersama, mereka membiarkan anak-anak belajar sendiri atau dengan saudara/teman/tetangga.

Yup, di kelas IV, Kenang pernah tidak naik kelas. Untung saja adik perempuannya berbeda 2,5 tahun usianya. Sehingga ketika lelaki berambut keriting itu harus mengulang di kelas IV, adiknya masih di kelas III. Tak terbayangkan jika mereka harus duduk di kelas yang sama seperti ilustrasi film The Simpson; dimana Bart harus tinggal kelas dan sekelas dengan Lisa, adiknya. Ujian yang berat.

Bisa jadi Kenang memang tidak menyukai sekolah formal, lantaran ia berbuat ulah lagi di kelas II SMA. Kenang minggat dari rumah, tidak mau sekolah. Si ibu pontang-panting mencari untuk membujuknya kembali ke rumah dan meneruskan sekolah yang hanya tinggal setahun saja.

Usai lulus dan menempuh bangku kuliah, lagi-lagi ia melarikan diri karena bertengkar dengan ayahnya. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Kenang tergilas truk tronton dan harus di-sangkal putung lantaran tulangnya bermasalah.

Selang beberapa tahun, ia berhasil mengalahkan diri sendiri dan kesulitan di jenjang perguruan tinggi. Kenang di wisuda dan diterima sebagai guru olah raga tetap sebuah SD. Namun sayang, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya karena banyak kawan-kawan yang iri.

Sekarang ia menjalani hidupnya dengan istri dan 4 orang anaknya, sebagai tukang pijat. Memijat kaki dan tangan pasien pada titik refleksi dengan imbalan seikhlasnya. Ia mengaku diberi upah awal minimal Rp 50.000/jam. Pekerjaan sebagai wiraswasta ini telah dijalaninya selama 5 tahun. Semoga tetap semangat dan sukses.

Ujarnya, ia tak menyesal pernah tidak naik kelas dan harus kalang kabut mendapatkan gelar sarjana dan berakhir sebagai tukang pijat keliling/panggilan. „Yang penting halal“, katanya lagi.

4. Maximillian

Bocah lelaki ini telah berusia 12 tahun. Dua tahun sudah ia terlena telah mengabaikan nasehat para guru, kawan bahkan orang tuanya. Tidak mau membuat PR, tak ada keinginan belajar untuk tes. Papa mamanya telah berusaha mendaftarkan di bimbel di sekolah dan privat, sayang sering mangkir. PR-pun tetap tidak dikerjakan Maxi. Buntutnya, orang tuanya memindahkannya dari Gymnasium (sekolah menengah favorit) ke Realschule, lantaran ia harus kembali mengulang di kelas 6.

Maxi seperti disambar geledek. Penyesalan di kemudian hari selalu tiada guna. Ia bersikeras untuk tetap bertahan di Gymnasium dan berjanji untuk tidak mengulangi kebodohannya. Tetapi orang tuanya dan pihak sekolah tidak menggubris janji palsunya, lebih menyukai pemindahannya ke sekolah yang lebih rendah agar tidak memberatkan beban yang telah ada dipundaknya. Mata pelajaran Perancis misalnya, yang di Gymnasium adalah pelajaran wajib, di Realschule dijadikan pilihan ; antara Perancis dan Teknik.

Toh suatu hari, ia bisa/boleh meneruskan ke Gymnasium setelah menyelesaikan tugas belajarnya di Realschule. Semoga ia bisa memperbaiki kesalahannya dan tak mengulanginya lagi.

Kepala sekolah sudah memberikan aba-aba bahwa jika setengah tahun pertama Maxi tidak bisa mengangkat nilai-nilainya, segera dipindahkan ke sekolah lain yang sesuai. Jadi gertakan bukan sambal itu telah menjadi catatannya jauh hari sebelum liburan musim panas. Semoga ia bisa.

***

Dari cerita keempat orang tersebut diatas, saya tarik sebuah kesimpulan bahwa anak-anak yang bermasalah di sekolah tidak hanya anak laki-laki saja. Terbukti ada juga anak perempuan yang terjatuh di ‘kubangan’ tidak naik kelas. Saya pernah mendengar beberapa kali dari para orang tua, “Anak lelaki biasanya lebih banyak memiliki masalah di sekolah, perempuan lebih mudah … ” Padahal …

Kedua bahwa tidak naik kelas bisa terjadi dimana saja, tidak melulu di Asia tapi juga di Eropa !

Kemudian tidak naik kelas alias tinggal kelas bukanlah sebuah adzab yang membuat sengsara. Justru ini menjadi sebuah cambuk bagi si penderita. Bukan untuk mundur ke belakang tapi maju kedepan. Ayo, pantang mundur!

Lalu dari pengalaman orang tua keempat orang itu, ternyata tidak ada penyiksaan fisik akibat kecewa, sedih, marah atau perasaan lain yang berkecamuk di dada karena si anak tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Ketika anak tidak naik kelas, hanya keluar nasehat sederhana, “Kamu harus belajar lebih keras, jangan sampai tidak naik kelas lagi. Gunakan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Sekolah itu masa depanmu.” Tidak ada penekanan dengan kalimat, “Tuh, kan … apa mama papa bilang … tak mau belajar, sih …. “

Ada sebuah ‘pembiaran’ yang saya rasakan dari orang tua keempat orang tersebut diatas. Ini mengingatkan saya pada sebuah puisi karya Khalil Gibran:

Dan seorang wanita yang menimang bayinya berkata, “Mari bicara tentang anak-anak.”

Lalu lelakinya berujar:

Anak-anakmu bukan seutuhnya milikmu,

mereka adalah milik sang Pencipta.

Mereka lahir darimu tetapi bersumber dari-Nya.

Meski mereka bersamamu, mereka bukan milikmu.

Kamu bisa menuangkan cinta kasih padanya tapi bukan memaksakan jalan pikiranmu

lantaran mereka memiliki daya pikir yang berbeda.

Kamu bisa mengurung mereka dalam sebuah rumah tapi jiwanya terbang bebas,

hingga menempati masa depan, suatu masa yang bukan masamu lagi, tidak dalam mimpimu sekalipun.

Kamu bisa mencoba untuk menyerupai mereka tapi jangan pernah membuat mereka menjadi sepertimu

karena roda kehidupan itu maju kedepan, bukan kebelakang.

Kamu tak ubahnya busur yang melepas anak panah, melesatkan anak-anak jauh kedepan.

Sebagai pemanah yang ingin mengincar sasaran yang tepat, Allah membatasimu dengan kuasa-Nya hingga busur-Nya lepas dengan cepat dan jauh.

Biarkan batasan itu sebagai sebuah anugerah yang patut disyukuri

Bahwa sesungguhnya Dia menyukai busur yang terbang itu, sekaligus busurnya yang kuat.

Ya, anak-anak memiliki fitrah dan nasibnya sendiri, yang tak sama dan tak serupa dengan milik orang tuanya. Semoga bermanfaat dan menginspirasi, curhat anak-anak (berikut orang tuanya) yang tidak naik kelas ini. (G76).

Sumber:

1. Curhat pribadi anak dan ortu

2. http://www.poemhunter.com/poem/children-2/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 8 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: