Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Renard Bery

Perbuater, volunteer,writer,, Berbuat tidak mesti hebat... FOLLOW TWITTER @RenardBery www.berbuat-tidakmesti-hebat.blogspot.com

Belajar, Berubah, dan Berbuat Dengan Kecepatan dari Rumus Relativitas Einstein: E= mc2

OPINI | 27 August 2012 | 05:30 Dibaca: 840   Komentar: 0   0

Rata-rata kita pasti tahu dengan ilmuwan yang sangat revolusioner dan jenius ini. Ia adalah tokoh fisikawan abad kita. Tapi, benarkah ia juga bisa juga di sejajarkan dengan filsuf seperti Immanuel Kant atau Rene Descartes yang terkenal dengan Cogito ergo sum ( “saya berpikir, maka saya ada “) ?. Saya tidak akan membandingkan “keagungan” dari tokoh ketiga pemikir tersebut yang sudah sangat jelas pengaruhnya terhadap kehidupan manusia hingga kini. Baik, kita akan melihat dan memahami sedikit dari hal yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sederhana lagi dari Relativisme Einstein. Teori ini menunjukkan bahwa pengamat merupakan bagian dari proses. Ia menyatakan bahwa teori-teori merupakan “penciptaan bebas dari budi manusia”.

  • Bila anda berdiri tenang di suatu pantai, gelombang bergerak melewati anda.

  • Bila anda dalam sebuah perahu dan bergerak searah dengan gelombang, anda akan melihat tidak ada gerakan di dalam gelombang, hanyalah sebuah garis lurus.

Keduanya adalah persepsi, dan keduanya adalah benar. Einstein menunjukkan bahwa realitas adalah seperti itu. Kita mungkin mengira kita diam di titik tertentu, tetapi de facto, kita bergerak. Secara sederhana juga di contohkan seperti ini. Ketika anda menaiki pesawat, dan sampai ketujuan pukul 6, itu menunjukkan bahwa jarum jam kearah angka 6 dan 12. Saya tidak akan meng”ilmiah”kan contoh saya lagi, karena yang akan kita ingin pahami, bagaimana Relativisme ini bisa di terapkan dalam memahami hidup di lihat dari titik kebijaksanaan dalam kecepatan kita mendaur ulang masalah, agar menjadi daya ungkit perubahan dan perbuatan yang melegakan hati, tidak di kekang, di ikat, di hantam lagi dengan kecemasan dan ketakutan yang berlebihan.

Dahulu, ketika masih sekolah dasar, saya pernah di hukum seorang guru berdiri di belakang bersama-sama beberapa kawan karena lupa mengerjakan tugas pekerjaan rumah alias PR. Saya merasa sangat malu, wajah saya serasa berubah menjadi kaku, menjadi sulit untuk berucap, apalagi menatap. Dan merasa juga, si guru terlalu berlebihan memberikan hukuman, karena sebenarnya PR perkalian itu bisa saya kerjakan dengan cepat, apalagi di kelas itu sayalah yang paling jitu untuk berhitung dalam perkalian. Tapi, tetap saya di hukum.  Ada juga kisah kenakalan saya ketika sekolah menengah pertama dulu, mencuri durian di siang bolong. Bersama 2 sahabat akrab saya, kami memanjat durian yang berbuah besar dan memilih buahnya yang sudah pantas untuk di peram. Di bawah pohon durian, saya bertugas untuk mengumpulkan durian yang di jatuhkan sekaligus memperhatikan dengan seksama, manatahu yang empunya durian muncul dadakan. Dan, karena kekurang jelian saya memperhatikan orang yang empunya batang durian, kami bertiga tertangkap basah. Seperti pendekar yang selalu membawa senjata sakti, kami di ancam akan di potong tangannya. Dan, secara terang saya katakan, kami bertiga ketakutan dan malu. Masih ada contoh-contoh masalah sejenis yang pastinya  ketika masalah itu terjadi, kita merasa tidak ada jalan keluar. Kita tertumbuk dinding kemarahan sehingga menipu diri kita untuk menemukan titik terang penyelesaian.

Ini mungkin bukanlah perkara masalah yang besar, cuman yang mau saya sampaikan adalah, ketika kejadian ini terjadi, perasaan saya ketika itu sangat kacau. Bisa juga saya katakan, saya sangat malu dan merasa itulah adalah masalah besar. Saya merasa dunia saya hancur. Saya juga merasa sangat kehilangan keriangan hati beberapa hari setelahnya. Tapi, ketika saya ingat hingga saya menulis kejadian masa kecil itu di masa ini, sangat sulit saya untuk tidak tersenyum mengenangnya. Lha, apa hubungannya dengan rumus relativitas Einstein ? Coba, anda bayangkan ( saya menggunakan salah tehnik imajinasi Einstein menunggang cahaya ) ketika permasalahan itu terjadi, dimasa itu, bukankah itu hal yang berat? Hal yang menjatuhkan kita ? hal yang memang sepantasnya memang memalukan? Tapi, toh, itu akhirnya yang membuat saya berkesan dan memaknainya dengan cara yang berbeda saat ini. Malahan, kejadian itu hal yang lucu bagi saya sekarang. Dalam pemahaman baru Einstein, kecepatan cahaya itu bersifat sama dan absolut, sedangkan waktu itu relatif tergantung benda yang di tungganginya. Maka, pengalaman, kejadian, peristiwa, yang sama dapat menghantam siapa saja. Bagaimana kecepatan tiap kita menanggapinya, memahaminya, itulah yang di sebut dengan relatif. Banyak orang bermasalah di keseharian kita, baik itu di bisnis, pekerjaan kantor, tukang sapu, supir, guru, pejabat, dan sejenisnya, bahkan presiden sekalipun, pasti punya masalah. Pasti pernah terbentur dan membuat sulit tidur dalam menyelesaikan solusi masalah.

Banyak orang yang besar masalahnya, banyak juga peristiwa yang menyakitkan dalam hidupnya, tapi tak sadar dan tak berubah. Ada juga orang yang mempunyai masalah yang terlihat tak begitu besar dalam hidupnya, tapi nyaman dan sering berbagi kebahagiaan dengan sesama. Dan kalau bertemu orang seperti ini, biasanya kita heran, takjub, tapi tentu saja ada juga yang mengatakan “itu kan karena dia belum mengalami hal pahit seperti saya…”. Dalam mencairkan suatu permasalahan dan menemukan solusi tercepatnya, itulah yang saya katakan relatif. Kita bisa berkoar, menangis tersedu, sedih berkepanjangan, linglung, susah tidur, tapi salama itu masih namanya masalah, selalu ada titik terangnya. Selalu ada celah retak yang memungkinkan cahaya smuangatzz jalan keluar hadir. Dan hampir sudah pasti, ketika kita menemukan penyelesaian yang bijak walau terkadang berat, di masa yang akan datang akan menjadi sebuah kenangan yang berkesan dan sering membuat kita tersenyum dan bertutur dalam hati “ ah, ternyata selesai juga…” atau “ ah, kok bisa saya dulu bodoh seperti itu ya ?. Jadi, dari rumus relativitas Einstein ini, saya simpulkan, pengalaman pahit mau jenis apapun, belum pasti merubah karakter kita tapi sudah pasti membuka kesempatan pribadi kita menjadi lebih wise.

Kita bisa saja kehilangan orang tua, pasangan tapi belum tentu akan meraih impian mulia kita. Kita bisa saja kehilangan pekerjaan, tapi belum tentu bisa membuat kita belajar menghargai orang lain. Kita bisa saja cacat, tapi belum tentu bisa menghargai kesempatan hidup. Kecepatan kita memaknai sebuah kejadian yang terjadi dalam diri kita, itu lah yang paling utama dan itu relatif bagi persepsi setiap orang. Tidak saja membuat kita lebih menamakan diri kita pantas hidup, tapi lebih bergairah menapaki matahari terang dalam hati kita. Pastikan diri kita punya kecepatan seperti imajinasi menunggang cahaya yang di lakukan Einstein. Kalau sudah begitu, pastinya kita akan relatif melihat objek permasalahan. Lebih cepat, lebih tepat, lebih bijaksana.

Albert Einstein 1879-1955

Lahir di Ulm, Jerman. Ia mencintai musik.

1904 dan 1917 ia merancang kembali semesta di kepalanya.

Ia pernah bekerja di kantor paten di Berne.

Teori Newton menunjukkan bahwa mungkin bergerak pada kecepatan sinar, karya Maxwell menunjukkan itu tidak mungkin. Einstein mengajukan pertanyaan sederhana dan sekaligus spekulatif. Apa yang terjadi bila kita bergerak pada kecepatan sinar? ( ini pertanyaan favorit dan sekaligus mencerahkan bagi saya karena dari tekhnik “berani bertanya” seperti ini, kita berkemungkinan besar mendapatkan solusi bijaksana)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: