Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Sri Puji Rahayu

Pembimbing di Panti Sosial. Menulis untuk belajar dan berbagi.

Hidup Cukup

OPINI | 24 August 2012 | 23:38 Dibaca: 107   Komentar: 0   1

Menjadi orang pintar, cerdas, berbakat, punya nasib baik, bejo dan lain sebagainya adalah anugrahNya alias takdir. Begitu sering orang menyebutnya.

Tetapi orang diwajibkan berusaha, manusia tidak boleh menyerah pada nasib jika apa yang diinginkan belum terwujud. Dengan segala kemampuan yang ada, kita semua wajib berusaha. Karena nasib itu bisa dirubah bagi orang yang mau merubahnya.Allah memberikan otak untuk berpikir, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar.Jika kita bisa mensyukuri dan memanfaatkan dengan baik, Insyaallah Tuhan akan memberika kebaikan pula.Sebagaimana tercantum dalam firman Allah: “Sesungguhny jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah ni’mat kepadamu, dan jika kamu mengingkari ni’matku, maka sesungguhnya azabku sangatlah pedih” (Surat Ibrahim ayat 7)

Kebahagiaan dan kesejahteraan untuk masing-masing orang tidak ada alat ukur yang pasti, Hanya hati dan perasaannya sendiri saja yang bisa merasakannya.

Disini saya mau bercerita tentang seseorang yang tak pernah mengenal bangku sekolah, hidup sebatang kara, tanpa sanak tanpa saudara. Beliau berprofesi sebagai tukang membuat sapu lidi. Namanya Wagiyem. Tapi semua orang memanggilnya dengan sebutan Lik Yem.

Sepintas orang melihat ia adalah sebagai orang tersusah dikampungnya. Dia menempati sebuah rumah kecil yang dibangun secara gotong royong oleh warga kampung. Tanah yang ditempatinya juga milik orang lain yang merelakannya meski tanpa uang sewa. Pernah aku dengar komentar seseorang : “ Lik Yem kae mesaake yo, gawe sapu sedina dadi pira, apa yo cukup kanggo mangan?.” Yang kurang lebih artinya seperti ini. “Kasihan Lik Yem ya, membuat sapu sehari dapat berapa, apa cukup untuk makan?”.

Orang yang berkomentar seperti itu kaarena ia tidak terampil membuat sapu lidi untuk membersihkan satu batang lidi saja membutuhkan waktu sampai satu menit. Sehingga untuk membuat satu ikat sapu yang kurang lebih terdiri dari 250 batang minimal 4 jam.Belum lagi karena tidak terbiasa maka jari-jarinya terasa perih, dan badannya juga pegal-pegal.

Dari hasil pengamatanku: Pagi-pagi setelah selesai sholat Subuh, Lik Yem jalan-jalan menyusuri tanah pekarangan yang bertahun-tahun tidak pernah ditengok pemiliknya.Disamping karena kesibukan pemiliknya, juga karena pemiliknya berada disebrang lautan alias dipulau lain. Sehingga buah-buahan hasil kebunnya sering kali hanya habis dimakan binatang malam. Jika ada yang tersisa dan jatuh ke tanah, diambilny oleh Lik Yem sebagai asupan gizi yang menyegarkan tubuhnya. Kondisi tubuh Lik Yem memang cukup sehat, tanpa gangguan penyakit yang berarti. Mungkin karena vitamin yang masuk kedalam tubuhnya cukup bervariasi dan cukup seimbang meski tak pernah ditakarnya. Dia bisa makan buah apa saja sesuai dengan musimnya meski tanpa harus keluar rupiah.

Selain buah-buahan Lik Yem juga mengumpulkan daun-daun kelapa yang jatuh berserakan di kebun itu. Sesampainya dirumah akan dipilah-pilah. Lidinya diambil untuk membuat sapu, kayu-kayunya ditumpuk, bila sudah terkumpul banyak dijualnya pada orang yang mau membakar batu bata. Daunnya ia gunakan untuk merebus air dan memasak ala kadarnya.

Sambil menunggu terdengaarnya adzan Dzuhur, ia duduk bersantai, namun tangan nya sangat lincah mengambil segenggam lidi untuk dibersihkan. Dalam waktu kira kira 1 menit lidi dalam genggamannya yang kira-kira berjumlah 10 batang sudah cukup bersih. Sehingga dalam waktu 1 jam saja sudah mampu menghasilkan 2 ikat sapu lidi.Untuk satu buah sapu lidi dijual pada konsumen seharga Rp 2500,- dan dijuai Rp..2000,- jika yang membeli adalah pedagang, dengan tujuan dijual lagi. Menurut perhitunganku, seandainya Lik Yem membersihkan lidi rata-rata sehari 3 jam saja tentu sudah cukup untuk hidup.

Dengan kesederhanaannya Lik Yem, sebagaian besar masyarakat yang ingin berinfak, sedekah , berzakat, atau syukuran selalu memprioritaskan Lik Yem. Sehingga jika ada seseorang yang hadir mencarinya, tentulah disambut dengan penuh bahagia. Mereka pembawa rizki yang tentu akan dikelola secara baik.Sering kali Lik Yem tidak mampu menghabiskan makanan yang dating dengan sendirinya maka akan dijemur dan dijual setelah kering sebagai makanan ternak.

Setelah Sholat Ashar usai, adalah waktu ngobrol beserta tetangga, sembari tangannya sibuk mengupas wortel, membersihkan daun pisang dan merapihkannya, sehingga tetangganya itu bisa menyiapkan dagangannya dengan lebih lancar . Tetangganya itu adalah biasa membuat arem-aarem, bakwan dan makanan lain untuk dijual di sekolah.

Kembali pada kehidupan Lik Yem yang menempati satu rumah yang cukup sempit, kumuh dan kurang layak untuk setandar umumnya. Karena isinya yang kurang teratur. Rumah dengan ukuran kurang lebih 6 x 3 m berisi satu tempat tidur, seekor induk ayam dengan anaknya, dua ekor kucing, peralatan dapur lengkap dengan tungku dan kayu bakar. Tapi pada dindingnya terpasang 4 buah jam dinding yang semuanya tepat waktu.

Setiap tanggal 11 pada waktu rapat PKK dawis, Lik Yem tidak pernah merasa keberatan membayar arisan dan sedikit menabung. Bahkan jika arisan itu diundi untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan arisan, ia selalu menolak mendapat duluan, karena merasa belum membutuhkannya. Jadi meskipun orang lain memandang Lik Yem sebagai orang miskin, namun Lik Yem sendiri merasa cukup, kaarena tidak pernah menginginkan apa yang tidak ada pada dirinya. Setahuku dia juga tidak mempunyai hutang pada siapapun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: