Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

M. Rasyid Nur

M. Rasyid Nur, pendidik yang bertekad "Ingin terus belajar dan belajar terus". Silakan juga diklik: selengkapnya

Mustahik Menjadi Muzakky, Tugas Siapa?

OPINI | 16 August 2012 | 20:09 Dibaca: 141   Komentar: 0   0

SEBANYAK  865 orang mustahik (penerima zakat) yang terdiri dari fakir, miskin, para muallaf dan fisabilillah berkumpul di Aula Darunnadhwah Masjid Agung Karimun hari Senin (13/08/12) dalam suatu acara pendistribusian zakat oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Karimun. Pembagian zakat periode ke-2 tahun 2012 ini sengaja diambil momen menjelang Idul Fitri 1433 H.

Tepat pukul 09.15 WIB acara seremoni pembukaan dimulai. Agak terlambat dari jadwal karena menanti kepastian Bupati Karimun hadir atau tidak. Ternyata yang bisa hadir adalah Wakil Bupati, H. Aunur Rafiq, S. Sos M Si yang datang menggantikan Bupati, H. Nurdin Basirun. Para penerima zakat sendiri sudah hadir sejak pukul 08.30 pagi itu. Bahkan ada yang sudah hadir sejak pukul 08.00 pagi.

Dari laporan Ketua BAZNAS Karimun, H. Atan AS di awal acara diperoleh informasi kalau pembagian zakat tahun 2012 ini sangat jauh meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tahun 2011 lalu periode ke-1 dan ke-2  berjumlah lebih sedikit pada pada mustahik dan jumlah zakat pada tahun ini. Sementara pada tahun ini dengan jumlah mustahik 865 orang sementara uangnya sebesar Rp 267 juta. Uang ini terdiri dari Rp 250 juta uang zakat dari para muzakky sedangkan yang Rp 17 juta lagi merupakan uang infaq dan sedekah umat Islam yang menyalurkannya melalui Baznas Karimun.

Sesungguhnya yang lebih utama dari pembagian zakat seperti itu adalah bagaimana pengelola zakat berpikir untuk mengubah para mustahik itu menjadi muzakky. Tentu saja tidak mudah. Setiap tahun pengurus mendistribusikan zakat kepada para mustahik dalam tiga periode. Mereka-mereka yang menerima dalam bentuk uang tunai sejatinya tidak membuat mereka menjadi ketergantungan menerima uang tunai yang sekedar untuk dimakan habis itu.

Selain dana zakat dari para muzakky (pembayar zakat) Baznas Kabupaten juga menerima dana umat dalam bentuk infaq dan sedekah. Kesadaran umat untuk saling membantu orang-orang yang kurang mampu terbukti dengan terkumpulnya juga dana infaq dan sedekah di luar zakat dengan jumlah yang cukup besar. Dana ini seharusnya dapat diprioritaskan pendistribusiannya kepada para mustahik yang bisa mengembangkan diri dan usahanya menjadi lebih produktif.

Usaha-usaha produktif ini tentu saja suatu saat akan menjadikan para mustahik itu menjadi muzakky. Tidak terus-menerus menjadi orang yang hanya memiliki ‘tangan di bawah’ karena posisi ini dalam agama dianggap lebih hina dari pada ‘tangan di atas’. Mereka harus diberdayakan menjadi orang-orang yang mampu mandiri dari segi ekonomi. Mampu memenuhi kebutuhan pokok dalam hidupnya. Tidak lagi berharap pemberian dari pihak lain walaupun itu memang hak mereka.

Pertanyaannya, siapakah sesungguhnya yang berkewajiban menjadikan mereka para mustahik itu menjadi muzakky? Di tengah ketidakberdayaan mereka di bidang ekonomi, sesungguhnya penyebab itu semua adalah karena ketidakberdayaan mereka di bidang pendidikan dan pengajaran. Pada umumnya mereka itu adalah mereka yang tingkat pendidikannya rendah. Lalu siapa yang mesti disalahkan? Menyalahkan mereka, sepenuhnya tentu tidak adil. Tapi menyalahkan pihak lain saja, juga masih menjadi pertanyaan lanjutan.

Para pengelola zakat yang memang diberi amanah oleh umat untuk menyalurkan zakat dan infak serta sedekah jelas mempunyai tanggung jawab juga untuk memberi penerangan dan pencerahan kepada para mustahik itu agar mereka berpikir pula bagaimana menjadi muzakky.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 4 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 11 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 14 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Berat dan Ringan itu Relatif dalam Bekerja …

Eko Junaidi Salam | 8 jam lalu

Jika Sulit Memberi, Mari Berbagi …

Saumiman Saud | 8 jam lalu

Jadwal 16 Besar Asian Games 2014 …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Derita Hidup di Negeri Orang …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: