Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rakhmat Robbi

Lahir di Banjarmasin - Kalimantan Selatan tanggal 2 agustus 1984 | Founder and CMO pada selengkapnya

Cara Melatih Keikhlasan

REP | 08 August 2012 | 16:12 Dibaca: 1691   Komentar: 0   0

Ikhlas itu sangat mudah diucapkan, sangat sulit dilakukan, akan tetapi sangat mungkin untuk dijalankan. Setidaknya itu yang ada dipikiran saya selama ini. Banyak orang masih bingung, bagaimana cara yang tepat untuk bisa ikhlas dengan sempurna. Buat saya, sesuatu yang sempurna itu tidak datang begitu saja. Perlu banyak pengulangan atau latihan sampai sesuatu itu menjadi lebih baik atau sempurna.

Kembali lagi, jadi bagaimana cara melatih diri supaya bisa ikhlas dengan sempurna? Cara yang paling mudah menurut saya salah satunya adalah dengan cara bersedekah. Mengapa bersedekah? Sedekah mengajarkan saya untuk bisa ikhlas untuk melepaskan sesuatu yang saya miliki. Mulai dari bersedekah dengan sesuatu yang nilainya kecil, rasa ikhlas pun hadir walaupun dengan kapasitas yang kecil pula. Makin besar nilai sedekah yang kita berikan, makin besar pula tantangan untuk ikhlas itu datang. Dan tentu saja rasanya tidak senyaman ketika kita bersedekah dengan nilai yang kecil.

Tidak perlu langsung bersedekah dengan nilai yang besar. Namanya juga latihan, maka harus dimulai dengan sesuatu yang kita mampu dulu. Lakukan dulu dengan cara berulang-ulang dan konsisten. Maka yang awalnya ikhlas itu terasa berat, karena sudah terbiasa, maka ikhlas bukanlah sesuatu yang sulit lagi. Bukan berarti sudah terbiasa membuat kita tidak berkembang, kita harus meningkatkan kemampuan kita dalam berikhlas, salah satunya dengan cara menaikan nilai sedekah kita. Apabila kita sudah terbiasa dengan ikhlas, InsyaAllah apabila Allah memberikan kita ujian, kita sudah mampu dengan mudah untuk bangkit dikarenakan latihan ikhlas tadi.

Bersedakah tidak selalu dengan harta, tapi dengan apa saja. Untuk melatih ikhlas, biasakan bersedekah dengan sesuatu yang kita sulit untuk melepaskannya. Bahkan ada manusia yang sulit untuk melepaskan senyum, maka jadikanlah senyuman itu sebuah sedekah kepada semua yang makhluk Allah. Yang penting mulailah sedini mungkin, karena semakin ditunda sedekah, maka semakin berat pula keihlasan itu muncul, bahkan dapat membuat keikhlasan hilang.

Buat saya, tulisan inipun salah satu cara saya untuk bersedekah. Bukan karena saya sulit untuk membagi pengetahuan saya mengenai sedekah, akan tetapi melatih saya untuk mengikhlaskan sedikit waktu saya untuk menuangkan apa yang saya pikirkan saat ini ke dalam sebuah tulisan. Satu hal yang saya yakini dari dulu, dengan ikhlas dan bersedekah, kita belum tentu mendapatkan hasilnya sesuai keinginan kita, akan tetapi kepuasan yang kita dapatkan setelahnya, jauh lebih dari yang kita harapkan rasakan. Karena kebahagiaan sejati bukanlah pada saat kita menerima, akan tetapi pada saat kita mampu memberi kepada sesama.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: